Tamasya 'Galau' Mencari Oleh-oleh Khas Jakarta

CNN Indonesia | Minggu, 13/01/2019 14:15 WIB
Tamasya 'Galau' Mencari Oleh-oleh Khas Jakarta mencari oleh-oleh di Monas (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Oleh-oleh tak pernah lepas dari kegiatan berwisata. Selalu saja muncul pikiran untuk membeli barang-barang khas daerah tertentu untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, baik untuk sanak saudara, kekasih, teman dekat, atau tetangga.

Dari sini, kalimat 'oleh-olehnya, ya' yang diucapkan seseorang sebelum saya pergi ke daerah tertentu tak bisa dianggap sekadar basa-basi. Imbasnya, pergi melancong sering dibumbui 'kode' minta oleh-oleh.

Tak masalah memang selama ada duit di kantong. Saya tak sulit menemukan sesuatu yang khas dari sebuah daerah yang dikunjungi.


Sudah hitungan tahun saya menetap di Jakarta. Rasa-rasanya penasaran oleh-oleh apa yang bisa saya bawa dari kota ini untuk orang-orang di kampung halaman saya. Saya bingung, oleh-oleh apa yang bisa saya bawa dari Jakarta?

Kegalauan ini saya coba jawab dengan jalan-jalan berkeliling destinasi wisata populer di ibukota. Mulai dari kawasan Kota Tua dan Monuman Nasional (Monas) di hari pertama, serta Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di hari kedua.

Hari ke-1

Pada tahap pertama, saya ikut dengan rombongan tur wisatawan asing yang mengunjungi Museum Wayang di kawasan Kota Tua, Jakarta.

Saya terpaku memandangi patung-patung yang ada di sana. Sayup-sayup sang pemandu menyandingkan tokoh Rama dan Shinta dengan Romeo dan Juliet.

Berjalan ke arah pintu keluar menuju salah satu sudut museum yang tampak ramai. Pelancong tampang memadati toko suvenir. Seorang pelancong tampak mengeluarkan uang Rp300 ribu untuk sepasang pembatas buku berbentuk wayang yang terbuat dari kulit asli. Saya jadi penasaran.

Voila! Rupanya tak cuma pembatas buku. Ada pula gantungan kunci, miniatur wayang golek, miniatur kapal, bolpoin berbentuk wayang golek, wayang berukuran mini, hingga wayang dengan ukuran sebenarnya. Semua serba wayang dan tersedia dalam harga yang bervariasi. Wajar, karena bagaimanapun ini adalah Museum Wayang.

Namun, rasanya agak aneh jika saya membawakan wayang sebagai oleh-oleh Jakarta untuk orang di kampung halaman.

kesibukan di toko oleh-oleh museum wayangFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
kesibukan di toko oleh-oleh museum wayang

Cuaca cukup bersahabat. Saya melanjutkan kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta. Ini bukan kunjungan pertama, sehingga saya cukup percaya diri dan tak perlu tanya sana-sini.

Belum sampai berkeliling, toko suvenir seolah melambai tak ingin diabaikan. Ruangannya lebih besar daripada toko suvenir di Museum Wayang. Saya berharap, isi dari toko suvenir yang satu ini lebih bervariasi dan lebih 'Jakarta'.

Saat memasuki ruang toko, rak di bagian kanan dan kiri terlihat penuh dengan barang. Ada ragam aksesori seperti kalung, gelang, topi, dan sandal. Tak semua berbau Jakarta. Jika pun ada, itu hanya berbentuk hiasan meja berupa piring atau plat bertuliskan 'Jakarta'.

Saya perhatikan lagi dengan saksama. Eh, ternyata di sana ada gantungan kunci berbentuk ondel-ondel, Monas, atau kerajinan kayu yang dilabeli Jakarta.

Tapi, tiba-tiba saya jatuh cinta pada kartu pos yang hadir lengkap dengan visual Kota Jakarta. Siapa tahu kartu pos itu bisa saya kirimkan untuk kawan di luar Jakarta. Cukup dengan Rp12 ribu, dua lembar kartu pos sudah di tangan.

Hati masih penasaran mencari buah tangan ibukota. Merasa belum lelah, saya langkahkan kaki menuju Monas. Lumayan, udara panas Jakarta seketika menjadi sedikit 'adem' saat tiba di Monas.

Saya memarkir kendaraan di kawasan IRTI. Jalan kaki saya lakoni dari pintu dekat Stasiun Gambir. Rasa lelah memudar setelah melihat kumpulan rusa di balik pagar.

Sayang, oh, sayang, saya tak bisa sampai di puncak monumen lantaran kuota kunjungan yang sudah terlampau penuh.

Kunjungan saya ke Monas hanya sebatas berkeliling diorama sebanyak lima sisi, kemudian bersantai sembari menikmati langit sore Jakarta di bagian cawan. Jelang sore, satu hal yang terlintas adalah mencari kuliner khas dan oleh-oleh.

Saya pun beranjak menuju area Lenggang Jakarta dengan kereta mini yang disediakan Monas. Ini merupakan area kuliner dan sejumlah toko suvenir.

Tapi lucu rasanya. Di satu kawasan ikonik ibukota, justru kebanyakan kuliner yang saya temukan hanya ayam goreng, pecel lele, dan nasi goreng. Paling banter soto Betawi yang dikenal sebagai salah satu kuliner khas Jakarta.

Saya semakin memicingkan mata. Saya kelilingi setiap sudut, dan bertemu jua saya dengan salah satu makanan autentik Jakarta: kerak telor. Tapi tentu makanan yang satu ini tak bisa saya jadikan sebagai oleh-oleh. Ia lebih lezat dinikmati di lokasi dan dalam kondisi hangat.

Pembatas buku berbentuk WayangFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
Pembatas buku berbentuk Wayang

Lalu, apa oleh-oleh yang bisa saya bawa? Ah, jika diperhatikan, suvenir yang ada di kawasan Monas tak berbeda jauh dengan di kawasan Kota Tua. Hanya saja gantungan kunci berbau Monas lebih bervariasi dan tertuang pada berbagai medium.

Mata saya akhirnya kepincut dengan gantungan kunci yang terbuat dari batok kelapa. Gambar Monas disematkan di bagian tengahnya. Tak lupa tulisan kalimat 'I Love Jakarta' pun tampak di bagian belakang. Tak apa, yang penting ini bisa jadi bukti bahwa saya pernah berkunjung ke Monas.

Tak cuma gantungan kunci, di sini juga ada bolpoin, magnet kulkas, hiasan dinding, miniatur Monas, asbak, miniatur becak, dan kaus. Yang membuat mereka tampak istimewa hanya tulisan 'Jakarta' atau 'Monas' yang selalu tersemat di masing-masingnya.

Hari ke-2

Pikiran saya masih bimbang. Saya penasaran soal oleh-oleh khas Jakarta. Sudah dua lokasi yang saya sambangi, tapi keduanya sama-sama menghadirkan buah tangan yang itu-itu saja.

Akhirnya, saya kembali beranjak dari kamar kosan menuju Taman Mini Indonesia Indah. Di sana, saya berkeliling dengan sepeda yang saya sewa serta berbekal peta TMII.

Berbekal kemampuan navigasi seadanya, saya nekad berkeliling. Semua anjungan bisa dikunjungi, kecuali Jawa Tengah lantaran sedang digelarnya resepsi pernikahan di sana.

Setelah rampung menyelesaikan misi berkeliling ke hampir setiap anjungan dan wahana yang ada di TMII, saya beranjak mencari oleh-oleh. Saya kunjungi toko oleh-oleh yang besar dengan harapan buah tangan yang ditawarkan lebih variatif.

Apa yang saya temukan tak berbeda jauh dengan toko oleh-oleh di Museum Sejarah Jakarta atau Monas. Pernak-pernik terbagi dua, antara yang khas TMII dan khas Jakarta. Sama saja, bentuknya berupa gantungan kunci, bolpoin, kipas, dan miniatur.

Tapi tak jauh dari toko suvenir yang saya kunjungi itu, ada sebuah toko barang kerajinan tangan. Sayang, barang yang ditawarkan tak jauh berbeda.

Saya membeli dua buah gantungan kunci berbentuk boneka kayu. Pada kepala boneka terdapat tulisan TMII.

ilustrasi oleh-oleh MonasFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
ilustrasi oleh-oleh Monas

Jadi kalau ke Jakarta, mau beli oleh-oleh apa?

Dari perjalanan saya selama dua hari ini, rasa-rasanya saya masih galau memikirkan oleh-oleh khas Jakarta apa yang bisa saya bawa ke kampung halaman.

Ketiga lokasi yang saya kunjungi merupakan destinasi wisata populer di ibukota. Rata-rata dari lokasi itu hanya menawarkan suvenir berupa benda yang menyematkan kata 'Jakarta' atau ikon destinasi wisata.

Padahal, saya berharap bisa menemukan bir pletok yang jadi salah satu kuliner khas Betawi. Minuman satu ini konon muncul sejak masa penjajahan Belanda.

Kala itu, wine selalu hadir dalam pesta yang digelar para meneer Belanda. Mau tak mau, masyarakat Betawi yang turut diundang pun menyimpan penasaran terhadap minuman anggur yang satu ini.

Rasa penasaran itu pada akhirnya membuat pribumi membuat kreasinya sendiri. Itu adalah bir pletok, yang terbuat dari lada, jahe, dan kulit kayu secang.

Jika tak ada bir pletok, saya juga berharap bisa bertemu dengan roti buaya, yang wajib hadir dalam pesta pernikahan adat Betawi.

Konon, roti itu menyimpan makna tentang asal usul orang-orang Betawi. Dahulu kala, masyarakat Betawi adalah mereka yang tinggal di bantaran sungai. Sebagaimana diketahui, Jakarta memiliki 13 sungai yang menyebar di sepanjang ibukota. Kondisi itu mau tak mau membuat mereka kerap berinteraksi dengan buaya.

Buaya dikenal sebagai reptil yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya. Sikap setia itulah yang menjadi keyakinan masyarakat Betawi secara turun temurun.

Atau, yang terakhir, saya juga berharap setidaknya ada beberapa setelah baju pangsi ala Si Pitung yang ditawarkan di toko-toko suvenir. Bagaimanapun, Si Pitung adalah legenda bagi masyarakat Betawi.

Tapi, tak apa. Setidaknya saya masih bisa membawa gantungan kunci Monas dan TMII untuk dibawa pulang ke kampung. Bilang pada keluarga bahwa saya sudah berkeliling Jakarta.

gantungan kunci MonasFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
gantungan kunci Monas
(els/asr)