'Membeli' Oleh-oleh Senyum dan Amal di Bali

CNN Indonesia | Minggu, 13/01/2019 20:14 WIB
'Membeli' Oleh-oleh Senyum dan Amal di Bali Ilustrasi. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski sudah masuk musim hujan, tampaknya kawasan Pengosekan, Ubud, Gianyar, Bali belum tersentuh air hujan siang itu. Jalan kaki di sepanjang Jalan Raya Hanoman hingga Jalan Nyuh Kuning tak begitu terasa menyiksa. Trotoar yang nyaman plus pohon rindang membuat diri tak begitu lelah. 

Mata pun tertarik pada sebuah plang merah bertuliskan Children Charity Smile Shop. Kalau diartikan secara harfiah berarti Toko Senyum. Ada apa gerangan di toko ini? Apakah toko ini menjual senyum? Sebuah gerakan bibir sederhana yang menyejukkan hati, namun terkadang sulit didapat dan dilakukan? Apa iya?

Ah tidak. Begitu masuk, toko ini layaknya toko pakaian biasa. Rupanya toko tak hanya menyediakan pakaian. Ada pula buku, novel, perkakas rumah tangga, aksesori, mainan anak, kaset, VCD, bahkan pakaian dalam. 



Tampaknya harga adalah salah satu hal yang bisa membuat Anda tersenyum di toko ini. Bagaimana tidak, satu potong gaun atau dress hanya dihargai Rp30ribu saja. Kondisinya masih bagus dan layak pakai. 

Ditemui di belakang meja kasir, Wayan Sulastri dan Romualda Resti sibuk memilah dan memberi label harga pada setumpuk pakaian. Wayan menuturkan toko ini menjual barang-barang 'second-hand' dengan harga miring.

Hasil dari penjualan akan digunakan untuk membantu anak-anak yang mengalami craniofacial disabilities.

Dikutip dari Childrens National, craniofacial disabilities atau craniofacial disorder merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi kelainan pada wajah dan tengkorak akibat kelainan sejak lahir, penyakit atau trauma (kecelakaan).

Dengan kata lain, Smile Shop di bawah Yayasan Senyum Bali membantu anak-anak yang mengalami cacat wajah misal bibir sumbing, langit-langit mulut dan operasi cangkok tulang.   

Selalu ada orang datang silih berganti untuk menyumbang pakaian atau barang lain yang dirasa sudah tidak akan mereka pakai. 

Tiba-tiba ada seorang perempuan berkewarganegaraan asing masuk dan menyerahkan kantong kresek hitam. Saking buru-burunya, ia hanya berucap 'Ini kalau masih bisa dipakai' dalam bahasa Inggris kemudian pergi begitu saja. 

Wayan menerima kresek lalu mengeluarkan gaun berwarna pink cerah. Ia hanya tersenyum. 

"Ini kemarin dia beli, lalu katanya cuma mau dipakai sekali untuk pesta. Lalu ini dia kembalikan. Ya kayak sewa saja," katanya dalam logat Bali kental kemudian disusul tawa Resti yang duduk di sebelahnya. 

Suasana siang yang gerah berganti dengan tawa kecil di salah satu sudut toko. Kami terus berbincang. Wayan mengatakan bahwa tak hanya wisatawan mancanegara yang menyumbang barang tetapi juga orang lokal. Rata-rata mereka menyumbangkan barang yang memang masih layak pakai. 


Akan tetapi mereka berdua tetap memeriksa kondisi barang. Ini kunci untuk menentukan harga. Bagaimana dengan label? Karena pasti ada saja mereka yang menyumbangkan barang 'bermerk'. Namun Wayan tetap menekankan pada kondisi barang sebab barang berlabel mahal pun harganya akan tetap terjun bebas jika kondisinya kurang baik. 

Untuk gaun biasa dihargai Rp30ribu-Rp35ribu, atasan Rp20ribu-Rp30ribu, buku-buku mulai dari Rp5ribu hingga Rp20ribu. Bahkan saking banyaknya, toko pernah membanderol buku hanya dengan harga seribu rupiah. 

"Baju-baju yang kondisinya kurang bagus (misal) robek sedikit atau terkena noda yang sulit hilang, kami jual paket Rp10ribu (dapat) empat," ucapnya. 

Namanya juga toko barang-barang bekas maka barang di sini tak akan memiliki versi kedua alias cuma satu-satunya. Oleh karena itu, Resti berkata jika memang menginginkan salah satu baju misal, ya sebaiknya langsung dibeli atau besok tak akan ada lagi. 

"Kalau beli besok-besok, bajunya bisa beda lagi, ya mending tiap hari ke sini," ujarnya terkekeh. 

Mulai dari barang biasa sampai yang 'luar biasa'

Seorang perempuan asing yang datang ke toko dengan gaun pink hanya contoh kecil penyumbang. Resti berkata ada pula yang menyumbang pakaian langsung sekarung sehingga mau tak mau mereka harus memilah dan mengeceknya satu per satu.

Bahkan penyumbang tak menyebut secara spesifik jumlah atau kondisi pakaian. Namun, timpal Wayan, penyumbang rata-rata memberikan barang yang layak pakai sehingga tak ada kemungkinan toko untuk menolak sumbangan. 

Pengalaman unik mereka alami saat ada seorang wisatawan asing yang memberikan barang yang bahkan dia sendiri tak bisa menjelaskan itu untuk apa. Jika terjadi hal seperti ini, mereka biasa mencari tahu sendiri. 

Akan tetapi ada satu benda 'luar biasa' yang disumbangkan. Jika diperhatikan, benda berbahan alumunium ini seperti teropong tapi tak memiliki lubang kaca. 

"Itu tetap kami terima meski kami tak tahu itu apa," ucap Wayan. 

Pengalaman unik lainnya, ada seorang pria bule yang pernah menyumbangkan sepatunya. Ia tak membawa alas kaki lagi sehingga ia pulang dengan kaki telanjang. 

Wayan berkata hasil penjualan 100 persen akan dikelola yayasan untuk anak-anak yang memerlukan bantuan pengobatan. Meski berbasis di Bali, yayasan bergerak untuk anak-anak seluruh Indonesia meski kebanyakan anak-anak dari wilayah Indonesia Timur. Wayan menuturkan yayasan harus jemput bola ke rumah sakit-rumah sakit rekanan bila di sana ada pasien anak yang perlu dibantu. Jadi bukan rumah sakit yang mencari mereka. 

Selain itu, hasil penjualan juga digunakan untuk biaya sewa, operasional toko serta membayar ke banjar sebesar Rp200 ribu. Total pengeluaran sebulan pun tak sampai satu juta rupiah. 

Toko semakin ramai. Pembeli dituntut untuk benar-benar jeli memilih barang apalagi pakaian. Kalau beruntung, pasti mendapatkan pakaian yang sesuai selera plus harga super miring. Bayangkan, dengan uang kurang dari Rp100ribu, Anda bisa mendapatkan tiga potong pakaian. 

Desak Karsi bersama sang putri mampir ke toko untuk membeli baju. Menurut dia pakaian di sini modelnya bagus dan harganya murah. Tak hanya Desak Karsi, Julie, seorang wisatawan asal Australia pun mampir. 

"Saya ke sini karena ingin mendukung (pengobatan) anak-anak. Selain itu harganya murah. Saya beli celana pendek," katanya sambil menunjukkan belanjaannya. 

Masih perlu alasan untuk tersenyum? (els/chs)