Menyaksikan Dampak Perubahan Iklim di Patagonia Chili

AFP, CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 20:06 WIB
Menyaksikan Dampak Perubahan Iklim di Patagonia Chili Ikan paus menjadi indikator perubahan iklim di kawasan Patagonia, Chili. (Foto: REUTERS/Maxi Jonas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu tempat yang bisa dijadikan 'laoratorium' untuk memahami dampak perubahan iklim di bumi adalah kawasan Patagonia, khususnya yang berada di Chili, Amerika Selatan.

Sebagai bagian paling selatan di Chili, Patagonia adalah tempat di mana para ilmuan berkumpul untuk meneliti tentang paus, lumba-lumba, dan alga terhadap perubahan iklim.

Mengutip AFP, Senin (14/1), empat orang peneliti dari Universitas Austral di Chili bertolak dari Punta Arenas menuju teluk tersembunyi Seno Ballena.


Teluk tersebut didapuk sebagai tempat yang representatif untuk mengamati kondisi lautan terkini, khususnya dalam beberapa dekade terakhir di mana dampak pemanasan global makin bisa dirasakan oleh penduduk bumi.

"Tempat ini mengizinkan kami untuk bereksperimen apapun yang menyangkut penelitian perubahan iklim. Bahkan hasilnya pun bisa langsung didapatkan tanpa perlu waktu untuk membayangkan," ujar seorang pakar biologi kelautan, Maximiliano Vergara.

Namun proses penelitian di teluk tersebut bukan perkara yang mudah, para peneliti itu harus melewati Selat Magellan yang dikenal memiliki ombak berbahaya.

Jalur ini dikenal berbahaya karena Selat Magellan menghubungkan dua samudra legendaris, Pasifik dan Atlantik.

Kemudian perjalanan masih harus dilanjutkan beralih wahana transportasi dengan perahu kecil dengan kecepatan 100 kilometer per jam dalam suhu khas kutub.

Setibanya di lokasi, para peneliti akan menganalisis beberapa variabel pada air seperti unsur kimia, aspek biologi, kadar keasaman, salinitas, dan kalsium untuk mengetahui dampak perubahan iklim.

Nama Seno Ballena diambil dari nama paus bungkuk yang selalu mampir ke tempat ini untuk menyantap makanan favoritnya, setelah bertualang dari perairan Amerika Tengah.

Para paus itu kembali ke tempat ini bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan banyak ikan sarden di tempat ini. Sehingga menu makanan untuk melenyapkan lapar bagi sang paus pun bisa terpenuhi.

Namun sayangnya, perubahan iklim membuat ekosistem berubah.

Melelehnya es di Pulau Santa Ines membuat populasi sarden menurun karena makanannya, yakni plankton, berkurang bahkan menghilang.

"Perubahan struktur mikroalga bisa membawa dampak yang besar bagi ekosistem di perairan ini," ujar seorang pakar biologi kelautan, Marco Antonio Pinto.

"Pada kondisi yang normal, mikroalga menjadi makanan untuk zooplankton. Sistem inilah yang membentuk rantai makanan di perairan ini sampai ke perut ikan paus, hingga akhirnya semuanya berubah karena perubahan iklim."

(agr)