Atasi Kemacetan, Luksemburg Gratiskan Transportasi Umum

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 19:12 WIB
Atasi Kemacetan, Luksemburg Gratiskan Transportasi Umum Pemandangan kota Luksemburg. (Istockphoto/AdrianHancu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dengan populasi sekitar 602 ribu jiwa dan luas sekitar 2.586 kilometer persegi, Luksemburg adalah salah satu negara terkecil di Eropa. Meski demikian, kemacetan lalulintas menjadi masalah besar di sini.

Tapi sebentar lagi tak ada lagi kemacetan parah di sana. Karena bulan lalu pemerintah Luksemburg berencana untuk menggratiskan seluruh tarif naik kendaraan umum, agar penduduknya lebih banyak yang naik kereta, trem dan bus ketimbang kendaraan pribadi.

Rencana ini bakal diberlakukan mulai bulan Maret tahun 2020.


Juru bicara Kementerian Transportasi dan Pekerjaan Umum, Dany Frank, juga berharap kalau rencana ini bisa mengurangi polusi udara.

Luksemburg adalah salah satu negara terkaya di Eropa, dengan PDB per kapita tertinggi se-Uni Eropa.

Dari ibu kota Luxembourg City, negara tetangga seperti Belgia, Prancis dan Jerman dapat dicapai dengan mobil dalam waktu setengah jam.

Biaya properti yang tinggi, terutama di Luxembourg City, membuat 180 ribu penduduknya terpaksa bermukim di kawasan pinggiran, sehingga mereka harus bolak-balik ke pusat kota setiap harinya.

"Luksemburg adalah tempat yang sangat menarik untuk bekerja," kata Geoffrey Caruso, seorang profesor di Universitas Luxembourg dan Institut Penelitian Sosial-Ekonomi Luksemburg yang memiliki spesialisasi dalam isu penggunaan lahan dan transportasi.

"Tetapi hal tersebut menimbulkan masalah kemacetan," lanjutnya.

Pada tahun 2016, Luksemburg memiliki 662 mobil per 1.000 orang, dan mengemudi adalah sarana transportasi utama bagi para penduduk, menurut laporan Kementerian Pembangunan Berkelanjutan dan Infrastruktur pada 2017.

Di tahun itu, pengemudi di Luxembourg City menghabiskan waktu rata-rata 33 jam dalam kemacetan lalu lintas per harinya.

Kemacetan tersebut terasa lebih panjang dibandingkan yang dirasakan penduduk di kota Copenhagen (Denmark) dan Helsinki (Finlandia), yang notabene memiliki jumlah populasi yang sama dengan Luksemburg, karena mereka hanya merasakan kemacetan rata-rata 24 jam dalam sehari.

Saat ini pemerintah Luksemburg sedang menghitung biaya yang akan dikeluarkan untuk menggratiskan tarif angkutan umum, demi tetap bisa menggaji karyawan dan memelihara fasilitas penunjangnya.

"Negara saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Kami, pemerintah, ingin rakyat mendapat manfaat dari ekonomi yang baik," kata Frank.

Caruso menyoroti bahwa transportasi gratis akan mempengaruhi gaya hidup penduduk Luksemburg yang juga terbiasa bersepeda atau jalan kaki, alias mereka dikhawatirkan semakin malas menggerakkan badan.

"Daripada berjalan 500 meter, Anda melihat bus datang dan Anda berkata, 'Saya (bisa) naik dan bepergian sejauh 500 meter karena gratis,'" ujar Caruso.

Dia menambahkan, bagaimanapun, bahwa skema transportasi gratis dapat mengubah cara pandang penduduk Luksemburg untuk memiliki dan mengendarai kendaraan pribadi penyumbang kemacetan.

(agr/ard)