Memilih Jalur Pendakian Gunung Tambora

agr, CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 14:19 WIB
Memilih Jalur Pendakian Gunung Tambora Kaldera Gunung Tambora (Foto: Jialiang Gao/wikimedia commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pernah meletus dengan amat dahsyat pada 11 April 1815. Letusan tersebut mencapai level Volcanic Explosivity Index (VEI) 7, pada skala 0 sampai 8, sehingga menjadikannya yang terdahsyat di dunia.

Sebelum meletus, gunung tambora mempunyai ketinggian sekitar 4.300 mdpl. Namun setelah meletus ketinggian tersebut hilang hampir setengah menjadi 2.851 mdpl.

Sisa letusannya membentuk kaldera yang sangat luas dan besar, dengan diameter kurang lebih tujuh kilometer dan kedalamannya kurang lebih mencapai satu kilometer.


Letusan sedahsyat itu jelas menimbulkan korban tak sedikit. Korban tewas diperkirakan mencapai 60 ribuan orang. Tapi ada juga yang memperkirakan korban tewas sebetulnya mencapai 100 ribu orang.

Namun peristiwa yang terjadi lebih dari dua abad silam itu, rupanya membawa kisah dan ilmu bagi generasi selanjutnya.

Bahkan bisa dikatakan, tidak sedikit orang yang berkunjung ke Tambora untuk napak tilas, penelitian, atau sekadar menikmati alamnya yang megah.

Potensi wisata alam Gunung Tambora menyuguhkan keindahan panorama dari hutan daratan rendah hingga hutan pegunungan.

Berbagai flora dan fauna dapat ditemui yang akan menambah pengalaman dan merupakan sensasi tersendiri bagi wisatawan.

Gunung Tambora baru diresmikan menjadi kawasan Taman Nasional pada tanggal 11 April 2015, bertepatan dengan peringatan 200 tahun letusan besar Gunung Tambora.

Mengutip situs resmi Taman Nasional Tambora, gunung ini memiliki lima jalur pendakian berdasarkan peta penataan zonasi. Namun baru empat yang diresmikan dan dianggap siap untuk menerima kunjungan.

Keempat jalur pendakian tersebut adalah jalur pendakian Pancasila, jalur pendakian Doroncanga, jalur pendakian Piong, dan jalur Pendakian Kawinda Toi.

[Gambas:Instagram]

Jalur-jalur tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, jalur pendakian Pancasila dan Kawinda Toi hanya bisa diakses dengan tracking atau jalan kaki, sedangkan jalur pendakian Piong dan Doroncanga bisa diakses menggunakan kendaraan offroad atau trail. (agr)