Perang Usai, Suriah Siap Buka Pintu Bandara

CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 19:05 WIB
Perang Usai, Suriah Siap Buka Pintu Bandara Ilustrasi. Pemandangan kota Damaskus di Suriah pada tahun 2017. (REUTERS/Bassam Khabieh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konflik berdarah di Suriah bisa dibilang sudah reda. Tahun ini, sejumlah maskapai penerbangan mulai kembali berdatangan ke negara timur tengah ini.

Dikutip dari Lonely Planet pada Minggu (20/1), Uni Emirat Arab, Oman dan Bahrain berencana untuk membuka kembali rute penerbangan ke Suriah setelah utusan dari maskapai Oman Air, Gulf Air dan Etihad Airways melakukan pengecekan ke Bandara Internasional Damaskus.

Sebelumnya maskapai Emirates dan Etihad telah menghentikan layanan penerbangan mereka ke Suriah sejak tahun 2012.


Sebelum terjadi konflik berdarah yang ditimbulkan oleh ISIS, Suriah merupakan destinasi wisata favorit di Timur Tengah.

Walau kini konflik telah mereda, namun pemerintah Amerika Serikat (AS) tetap melarah penduduknya untuk berkunjung ke Suriah.

Kekhawatiran AS tak membuat sejumlah negara gentar. Diberitakan beberapa negara Timur Tengah malah berencana untuk membuka kembali kantor kedutaan besar mereka di Suriah.

Kedutaan Besar Uni Emirat Arab telah buka kembali pada akhir Desember kemarin setelah tutup selama enam tahun.

Menyusul pada tahun ini ialah Bahrain dan Kuwait.

Berakhirnya konflik membuat pemerintah Suriah merasa lebih bersemangat dalam membangun kembali negaranya yang kini porak poranda akibat peperangan.

Dikutip dari Reuters, museum Nasional Suriah dikabarkan telah kembali buka, setelah pada tahun 2012 dijarah dan dirusak oleh tentara ISIS.

Saat ini sekitar 300 ribu koleksi bersejarah dari museum itu yang berhasil diselamatkan dan disimpan di tempat rahasia kembali dipajang.

Kota kuno sarat sejarah Palmyra yang sempat dianggap berhala oleh tentara ISIS juga akan kembali dibuka pada tahun ini setelah selesai restorasi.

Suriah bukan cuma bisa dikunjungi dengan perjalanan darat. Perbatasan antara Yordania dan Suriah juga telah dibuka pada Oktober 2018.

[Gambas:Video CNN]
(agr/ard)