Gangguan Makan 'Tersangka' Obesitas

CNN Indonesia | Sabtu, 26/01/2019 18:02 WIB
Gangguan Makan 'Tersangka' Obesitas ilustrasi (prudkov/thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jangan salahkan yang lain-lain jika Anda mengalami penumpukan lemak dalam tubuh seperti obesitas. Sebaiknya ingat kembali kebiasaan makan Anda selama ini. Bisa jadi, gara-gara stres, Anda kerap makan terlalu banyak.

American Psychological Association mencatat, sebanyak 38 persen orang dewasa mengaku mengonsumsi makanan tidak sehat secara berlebih lantaran stres. Separuh dari mereka menyesal akibat kebiasaan 'rakus' saat stres itu.

Kondisi itu dikenal dengan istilah emotional eating. Sebanyak 30 persen wanita dan 24 persen pria mengalami kondisi ini.



"Makanan itu gampang banget, ada di mana-mana, mudah didapatkan. Wajar jika makanan selalu jadi pelarian saat stres," ujar psikolog Tara de Thouars, beberapa waktu lalu. 

Secara kimiawi, saat stres, kadar dopamin dan serotonin yang berfungsi untuk menimbulkan perasaan bahagia, mengalami penurunan. Untuk meningkatkannya, manusia membutuhkan makanan-makanan manis yang diketahui ampuh mendorong hormon bahagia itu.

Makanan, kata Tara, dipersepsi sebagai cara bertahan dan menyeimbangkan diri saat seseorang merasa stres.

"Makanan manis bisa menyeimbangkan itu [stres]. Makanan manis bisa bikin senang," kata Tara yang sehari-hari berpraktik di klinik penurun berat badan, Lighthouse Indonesia. Sebesar 40 persen pasien Lighthouse, disebutnya, mengalami emotional eating.

Tak cuma karena munculnya keinginan untuk menyeimbangkan diri, emotional eating juga dipengaruhi oleh kesulitan seseorang berpikir secara logis saat mengalami fase stres.

Saat stres, kata Tara, emosi akan meningkat drastis dan di sisi lain, kemampuan otak untuk berpikir logis bakal menurun. Kedua hal itu--emosi dan logika--tak mungkin jalan berbarengan saat dalam kondisi stres. 

Dalam kondisi demikian, seseorang tak akan mampu mengambil keputusan yang tepat. "Jadi wajar kalau kita mengambil keputusan yang salah, seperti makan terlalu banyak," ujar Tara.

Persepsi tentang makanan sebagai penyeimbang diri saat stres berawal dari pola pikir yang tertanam sejak kecil. Saat masa kanak-kanak, kebanyakan orang tua menjadikan makanan sebagai 'obat' bagi anak yang menangis kesal.

"Waktu kecil kita pasti terbiasa dikasih es krim sama orang tua saat kita lagi rewel," ujar Tara.


Dari situlah, persepsi itu mulai tumbuh. Kebiasaan itu disimpan oleh seorang anak menjadi sebuah persepsi dalam otak yang, secara tidak sadar, dibawanya terus hingga dewasa.

Mengatasi Emotional Eating

Emotional eating adalah kondisi saat seseorang makan dalam kondisi yang sebenarnya tak merasa lapar. Perasaan lapar itu muncul di dalam otak dan hati, bukan dari perut. 

Jika gangguan emotional eating dipelihara, maka kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak dan dapat menyebabkan obesitas.

Beberapa cara dipercaya mampu mengatasi gangguan makan yang satu ini. Pertama adalah mengenali lebih dalam tentang bagian tubuh apa yang merasa lapar. "Coba pikirkan lagi, yang lapar itu hati atau perut," kata Tara.

Selain itu, Anda juga bisa mencoba menenangkan diri dengan beberapa trik. Pertama, tarik napas dalam-dalam dan hembuskan sebanyak minimal 10 kali. Selanjutnya, Anda juga bisa menjadi aktivitas lain untuk mempertahan kondisi rileks. "Karena kalau sudah rileks, biasanya kita bisa ngambil keputusan tepat," tambah Tara.

Jangan pula berpikir bahwa peningkatan kadar dopamin hanya bisa didapat dengan mengonsumsi makanan manis. Tara menyarankan Anda untuk berolahraga, bermeditasi, atau mengingat hal-hal baik yang pernah Anda alami. (asr/chs)