Bangkit dari Konflik, Pakistan Bersiap 'Sebar' Visa Turis

REUTERS, CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 23:30 WIB
Bangkit dari Konflik, Pakistan Bersiap 'Sebar' Visa Turis Pemandangan Pegunungan Karakoram dari Pakistan. (Istockphoto/PatrickPoendl)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pakistan telah melonggarkan pembatasan perjalanan dengan harapan menghidupkan kembali industri pariwisata mereka, dengan memberikan kebijakan visa pada saat kedatangan (visa on arrival) untuk pengunjung dari 50 negara dan visa elektronik (e-visa) untuk 175 negara.

Menteri Penerangan Pakistan, Menteri Penerangan Fawad Chaudhry, mengatakan kalau reformasi kebijakan yang telah disetujui oleh kabinet akan membuka era baru bagi industri pariwisata Pakistan, yang selama ini suram setelah negara tersebut disorot akibat serangan terorisme 9/11 di Amerika Serikat (AS).


"Kami memiliki wisata gunung, kami memiliki wisata pantai," kata Chaudhry kepada wartawan di Islamabad, seperti yang dikutip dari Reuters pada Senin (28/1), merujuk pada puncak Himalaya dan pantai Laut Arab untuk dikunjungi turis mancanegara.


"Pakistan adalah surga bagi turis."

Chaudhry tidak menjelaskan lebih lanjut negara-negara yang akan memperoleh kebijakan baru terkait visa tersebut, tetapi pada bulan Desember ia mengatakan kepada Reuters bahwa penduduk dari sebagian besar negara Eropa akan diberikan kebijakan visa on arrival.

Indonesia sendiri masuk dalam daftar negara yang wajib datang dengan visa ke Pakistan.

Turis mancanegara juga akan diizinkan untuk mengunjungi wilayah Himalaya di Kashmir dan daerah utara lainnya.

Kawasan tersebut dulu terlarang untuk dikunjungi, namun kini turis mancanegara hanya perlu mengurus izin khusus untuk datang ke sana.

Kebijakan baru ini juga akan memudahkan perjalanan wartawan asing yang akan meliput Pakistan kata Chaudhry.

Rezim visa baru datang setelah beberapa negara melonggarkan nasehat perjalanan ke Pakistan kepada warga negaranya sehubungan dengan peliknya konsidi keamanan di negara berpemandangan indah itu.


Terakhir kali Pakistan menjadi tujuan wisata populer di dunia yakni pada tahun 1970-an, ketika "jalur hippie" dilintasi pelancong Barat yang ingin merasakan rute kebun aprikot dan kenari di Lembah Swat dan Kashmir dalam perjalanan mereka ke India dan Nepal.

Setelah era tersebut kondisi keamanan di Pakistan memburuk. Tanggapan bahwa Pakistan adalah sarang teroris juga membuat banyak negara mengeluarkan peringatan perjalanan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir ini situasi negara yang dihuni oleh 208 juta orang mayoritas Muslim ini terbilang kondusif.

Konflik yang ditimbulkan kelompok militan dan teroris juga menurun tajam.

Perusahaan Pengembangan Pariwisata Pakistan mengatakan sepanjang tahun lalu kedatangan turis mancanegara naik menjadi 1,75 juta orang dibanding tahun 2017.

(ard)