Kawanan Anjing Liar Kuasai Jalanan di Mesir

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 11:31 WIB
Kawanan Anjing Liar Kuasai Jalanan di Mesir Penampakan anjing liar di jalanan Kairo, Mesir. (Khaled DESOUKI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alaa Hilal sedang berbelanja di Kairo ketika dia diserang oleh anjing liar di siang hari bolong. Isu mengenai serangan ini sedang menjadi isu yang ramai diperdebatkan di Mesir.

"Saya keluar dari mobil dan melihat seekor anjing liar yang sangat besar," kata ibu rumah tangga yang berusia 38 tahun itu, seperti yang dikutip dari AFP pada Selasa (29/1).

"Tanpa menggonggong, anjing itu langsung menyerbu dan menggigit saya," lanjut Hilal yang mengaku mengalami luka di bagian paha.


Sebagai kota besar berpenduduk lebih dari 20 juta orang, Kairo sudah terganggu oleh kemacetan lalu lintas yang parah, masalah limbah yang meluas, dan polusi yang merajalela. Isu mengenai anjing liar hanya menambah masalah di kota ini.

Keluhan tentang serangan anjing, paparan rabies bahkan kematian dalam beberapa kasus selama bertahun-tahun telah memicu seruan penduduk agar pemerintah dapat mengendalikan populasi anjing liar yang hidup di jalanan.

Luka dan Tewas

Biasa disebut sebagai "anjing baladi", anjing jenis ini terlihat berkeliaran tanpa tuan dan kotor. Mereka biasanya berlarian di jalanan dan mengerumuni tumpukan sampah untuk mencari makanan.

Menurut Kementerian Pertanian, ada sekitar 400 ribu kasus gigitan anjing sepanjang tahun 2017, naik 300 ribu kasus dari 2014.

Selama empat tahun terakhir, tercatat sebanyak 231 orang meninggal dunia akibat luka yang mereka terima, terutama yang terinfeksi rabies.

Virus rabies dari gigitan anjing bisa berakibat fatal dalam 24 jam karena virus tersebut membawa infeksi, kata Shehab Abdel-Hamid, kepala badan perlindungan hewan di Mesir (SPCA).

Setelah mengalami gigitan anjing liar, Hilal--yang tidak pernah takut anjing dan memiliki beberapa hewan peliharaan saat kecil, langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat hanya untuk menemukan bahwa dia adalah orang kesembilan yang digigit oleh anjing yang sama.

"Karena trauma yang disebabkan oleh insiden ini, saya menjadi khawatir dan saya tidak lagi ingin berada di tempat yang sama dengan kawanan anjing liar," kata Hilal.

Tidak ada data resmi tentang jumlah anjing liar di Mesir, tetapi Abdel-Hamid mengatakan kalau jumlah mereka saat ini hampir mencapai 15 juta ekor.

Dan meskipun anjing liar tampaknya takut pada daerah yang ramai, mereka dapat menjadi galak dan agresif di pinggiran kota yang kurang penerangan dan dikerubungi sampah.

Pada bulan November, sebuah video yang beredar luas di media sosial menunjukkan sebuah mobil menabrak seorang remaja yang dikejar oleh dua anjing liar.

"Sampah adalah alasan utama di balik krisis anjing liar di Mesir," kata Abdel-Hamid, yang juga menyoroti kalau masalah sampah menjadi gawat selama pemberontakan tahun 2011.

Tuduhan ke Pemerintah

SPCA mengaku kekurangan sumber daya untuk mengendalikan kawanan anjing liar. Kantor pusatnya di pusat kota Kairo dijarah selama pemberontakan dan belum direnovasi sejak saat itu, tambah Abdel-Hamid.

Dan saat ini pemerintah Mesir mengatakan mereka hanya bisa melakukan intervensi berdasarkan kasus per kasus.

"Kami tidak pergi ke jalan-jalan mencari anjing liar untuk membunuh mereka," kata juru bicara Kementerian Pertanian Hamed Abdel-Dayem.

"Kami hanya mengambil tindakan setelah mendapat keluhan."

Dia tidak merinci tindakan apa yang diambil untuk mengendalikan populasi anjing liar.

Tetapi para pembela hak-hak hewan seringkali mengecam pemerintah, menuduh mereka melakukan pembantaian massal.

Pada 2017, pihak berwenang menewaskan lebih dari 17 ribu anjing liar menyusul berbagai keluhan tentang "gangguan" dan "gigitan" anjing di Beni Sueif, selatan Kairo, menurut laporan Direktorat Kedokteran Hewan Mesir pada Agustus.

Gubernur Laut Merah bahkan menawarkan 100 pound Mesir (sekitar Rp80 ribu) kepada mereka yang menangkap dan menyerahkan setidaknya lima ekor anjing liar.

Pembela hak-hak binatang juga menuduh pemerintah membunuh anjing menggunakan obat yang mengandung zat strychnine, zat kimia yang "tidak dapat diterima dengan alasan kesejahteraan hewan" untuk eutanasia oleh Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan.

Tetapi Abdel-Dayem membantah bahwa pemerintah menggunakan zat tersebut.

"Apakah logis bahwa kami (kementerian) mengizinkan zat-zat yang dilarang secara internasional untuk masuk ke Mesir?" katanya.

Rumah Harapan

Para pembela hak-hak hewan telah berupaya menawarkan solusi, secara aktif menampung anjing liar dari jalanan dan mengumpulkannya di tempat perlindungan.

Ahmed al-Shorbagi (35) membuka dua tempat perlindungan anjing di daerah gurun di sebelah barat Kairo, dekat piramida Giza yang terkenal.

Bangunan-bangunan dengan dinding beton tipis itu telah menjadi penampungan bagi lebih dari 250 ekor anjing selama tiga tahun terakhir.

Shorbagi berkontribusi 40 persen untuk pendanaan tempat penampungan, sementara sisanya berasal dari sumbangan.

"Awalnya saya mengikuti akun kelompok penyelamatan hewan di Facebook," kata Shorbagi, sambil menggosok perut seekor anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya dengan gembira.

"Saya menyelamatkan seekor anjing yang lalu saya beri nama 'Harapan' dan ketika aku membuka tempat ini saya menamainya 'Rumah Harapan'."

Shorbagi percaya solusinya terletak pada program sterilisasi anjing, memberikan vaksinasi rabies dan membersihkan tumpukan sampah.

"Daripada pemerintah membayar jutaan dolar untuk mengimpor zat beracun, lebih baik mempertimbangkan sterilisasi," katanya.

"Kami, sebagai asosiasi, telah mengusulkan ide ini ke Kementerian Pertanian namun mereka menolaknya."

Juru bicara kementerian mengaku bahwa penolakan tersebut dikarenakan karena pemerintah tidak ingin bekerjasama dengan pihak swasta, namun pemerintah mengaku memuji tindakan yang telah dilakukan sebagai bantuan yang berarti.

(ard)