Mengenal Perimenopause, Saat Siklus Menstruasi Mulai Kacau

CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 09:57 WIB
Mengenal Perimenopause, Saat Siklus Menstruasi Mulai Kacau Ilustrasi (DieterRobbins/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menopause umumnya dikenal sebagai titik di mana siklus menstruasi seorang wanita berhenti untuk selamanya. Sebelum itu terjadi, seorang wanita akan mengalami gejala yang dimulai jauh lebih awal. Fase itu dikenal dengan istilah perimenopause.

Perimenopause mengacu pada periode waktu ketika siklus menstruasi seseorang mulai kacau dan tak beraturan. Pada sebagian orang, fase ini terjadi selama satu dekade. Sayang, kemunculan fase ini kerap tak disadari banyak wanita.

"Transisi biasanya ditandai dengan periode menstruasi yang tiba-tiba absen," ujar pakar ginekologi dari University of Colorado, Nanette Santoro, mengutip Huffington Post. Umumya, hal ini terjadi saat wanita menginjak usia 40-an.


Santoro mencatat, beberapa wanita bahkan mengalami perimenopause sejak usia 30-an. Namun, ini bukan hal yang biasa. Mereka yang mengalami kekacauan siklus menstruasi, kata dia, bisa jadi memiliki kelainan tiroid.

Di luar kekacauan siklus menstruasi, ada sederet gejala lain yang menyertai perimenopause. "Gejala akan semakin parah ketika Anda sangat dekat dengan titik di mana siklus menstruasi berhenti sepenuhnya," kata Santoro.

Salah satu masalah yang paling sering dibahas adalah hot flashes alias serangan panas luar biasa yang bergerak naik ke kepala dengan sangat cepat dan membuat Anda berkeringat. Jika keringat ini muncul di malam hari, kondisi ini kerap disebut dengan istilah keringat malam.

Lalu, ada juga fluktuasi suasana hati. Selama fase perimenopause, seseorang akan menjadi mudah marah, cemas, dan stres. "Wanita berisiko mengalami episode depresi pertama ketika mengalami perimenopause," kata Santoro. Sekitar 15 hingga 25 persen wanita akan melaporkan peningkatan gejala depresi selama fase itu.

Tak cuma dua itu, siklus tidur yang memburuk dan kekeringat pada vagina juga menjadi gejala perimenopause. Gangguan tidur dikaitkan dengan gejala hot flashes yang kerap terjadi di malam hari.

Pengalaman perimenopause akan berbeda dari setiap orang. Santoro menyarankan Anda untuk melihat sejarah keluarga. Sebab, dalam perimenopause, genetika dan gaya hidup menjadi faktor penting.

Selain itu, berat badan dan etnis juga berperan dalam perimenopause. Disebutkan, kelebihan berat badan terkait dengan hot flash yang lebih parah. Dalam penelitian, Santoro juga pernah menemukan bahwa orang berkulit hitam cenderung mengalami fase hot flash lebih lama dan parah.

Perimenopause memberikan dampak luar biasa pada hidup. Pakar ginekologi lain, Alyssa Dweck, menyarankan Anda untuk mempertimbangkan gaya hidup seperti meningkatkan intensitas olahraga dan berkonsultasi dengan ahli gizi.

Selain itu, Anda juga dapat menghindari atau membatasi pemicu hot flash seperti alkohol, rokok, kafein, dan stres.

Rute lain yang bisa Anda lakukan adalah terapi hormon. Namun, perlu digarisbawahi, terapi ini menimbulkan beberapa risiko dan efek samping. Terapi ini pada dasarnya menempatkan hormon yang hilang--estrogen dan pregesteron--kembali ke tubuh Anda. (asr)