Serba-serbi Cara Mendaki Gunung Everest

CNN Indonesia | Rabu, 27/02/2019 17:19 WIB
Serba-serbi Cara Mendaki Gunung Everest Suasana pendakian di Gunung Everest. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain keinginan, mendaki Gunung Everest juga membutuhkan perjuangan yang keras. Salah satunya melatih fisik dan menyiapkan dana. Oleh sebab itu banyak pendaki yang mempersiapkan perjalanannya ke puncak tertinggi di dunia itu bertahun-tahun sebelumnya.

Salah satu warga negara Indonesia yang berhasil menapakkan kaki di atap dunia ini adalah Nurhuda, pendaki yang juga merupakan anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri.

Pria yang akrab disapa Huda berhasil menjejakkan kakinya di gunung setinggi 8.848 meter itu pada tahun 2012.



Saat itu ia dan seorang temannya memilih jalur utara atau jalur Tibet. Sementara dua temannya yang lain lewat jalur selatan atau Nepal.

"Ekspedisi ini masuk dalam agenda kami untuk menaklukkan Tujuh Puncak Tertinggi di Dunia (7 Summits). Everest jadi yang terakhir. Awalnya kami berangkat berenam, tapi akhirnya tinggal berempat karena yang dua tidak sanggup melanjutkan perjalanan," ujar Huda saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (27/2).

"Jalur utara lebih ketat dan kondisinya tidak bisa stabil terkait persoalan politik."

Terkait dua jalur tersebut, Huda menambahkan, jalur selatan memang lebih mudah secara perizinan namun sekaligus paling berbahaya, karena terdapat sebuah kawasan yang esnya terus bergerak.

Selain itu, jalur selatan juga lebih tertutup salju ketimbang jalur utara.


Huda menuturkan biaya untuk mendaki Everest saat itu berkisar di angka US$30 ribu (sekitar Rp421 juta) per orang, dengan menggunakan jasa operator lokal.

Menurutnya angka tersebut jauh lebih kecil ketimbang menggunakan operator wisata luar negeri yang cukup terkenal, Himalaya Expert, yang mencapai angka US$65 ribu (sekitar Rp912 juta) per orang.

Dari selisih tersebut, Huda melanjutkan, fasilitas yang diberikan pun berbeda.

Untuk yang biayanya lebih mahal, hal yang paling signifikan adalah perkiraan waktu untuk mendaki yang lebih pasti.

[Gambas:Instagram]

"Sebelum mendaki ada fase aklimatisasi selama sebulan lebih sepekan. Setelah itu baru mulai pendakian dari kamp di ketinggian 5.300 meter. Biaya sebesar itu adalah untuk aklimatisasi dan pendakian, yang memakan waktu sekitar dua bulan," ujarnya.

"Satu hal yang paling mahal adalah forecast (perkiraan) untuk mendaki. Bahkan, saking mahal dan saking rahasianya, hingga para klien tidak diberi kesempatan untuk melihat alatnya. Biasanya para operator akan memberitahu pada malam sebelum pendakian."

Menurutnya isu yang paling menghantui Everest masih seputar sampah, terlepas itu dari jalur utara (Tibet) atau selatan (Nepal).

Bukan cuma tabung oksigen dan tenda bekas. Jenazah pendaki juga menjadi 'pemandangan' umum yang ditemui sepanjang jalur utara atau selatan.

[Gambas:Instagram]

Danduraj Ghimire dari Departemen Pariwisata Nepal mengatakan mereka mengharapkan lebih banyak pendaki yang mengajukan izin pendakian untuk musim pendakian musim semi yang dibuka pada akhir pekan ini.

Puncak pendakian berlangsung di musim semi, ketika kondisi cuaca terbaik di puncak tertinggi dunia itu dimulai 1 Maret dan berakhir 31 Mei.

Sebanyak 563 pendaki berhasil naik ke puncak Everest dari sisi selatan Nepal sepanjang tahun 2018.

Untuk melakukan pendakian Gunung Everest dari Nepal bisa mengetahui informasinya lebih lanjut di situs resmi Badan Pariwisata Nepal.

(agr/ard)