'Drama' Bateeq Tampil di London Fashion Week

CNN Indonesia | Kamis, 07/03/2019 11:38 WIB
'Drama' Bateeq Tampil di London Fashion Week Michelle Tjokrosaputro (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekan mode bertaraf internasional ternyata tak selamanya menjanjikan profesionalitas. Pengalaman kurang menyenangkan itu dialami oleh dua label fesyen Indonesia, Bateeq saat tampil di London Fashion Week, satu dari empat pekan mode akbar di dunia.

Bateeq unjuk gigi di hari kedua Fashion Scout, wadah bagi desainer pendatang baru di London Fashion Week Autumn/Winter 2009. Ajang ini berlangsung di Freemason's Hall, London, 15-17 Februari lalu.

"Sangat menarik dan penuh drama," kata CEO Bateeq Michelle Tjokrosaputro dalam konferensi pers Indonesia Fashion Forward di Jakarta, Selasa (5/3).


Michelle bercerita keberangkatan Bateeq ke London Fashion Week baru dipastikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Inggris dan Indonesia Fashion Forward sebulan sebelum hari H.

Sejak kepastian itu Bateeq langsung mengurus semua keperluan mulai dari visa hingga koleksi yang bakal dipamerkan. Meski membawa nama Indonesia, pengurusan visa ke Inggris tak berjalan lancar.

Michelle menyebut salah satu anggota tim Bateeq  batal berangkat ke London karena visa belum keluar menjelang hari keberangkatan. Alhasil Michelle berangkat dengan dua orang desainer Bateeq.

Dalam waktu sebulan itu pula, lanel khusus batik ini mesti menyiapkan koleksi terbaru. Bateeq membawa 15 tampilan bertajuk Arung. Di koleksi anyar ini, untuk pertama kalinya Bateeq menggunakan kain lurik hasil kerajinan nenek-nenek berusia 65 tahun ke atas di Klaten, Jawa Tengah.

"Masih menggunakan benang emas yang ditenun dan sekarang pakai kain lurik dari Klaten. Kami beri nama Arung, artinya mengarungi samudera bersama, bisa sejahtera bersama antara Bateeq dan pengrajin di Klaten," tutur Michelle.

Michelle dan tim Bateeq membawa koleksi ini ke London beberapa hari jelang peragaan busana. Saat tiba di London, satu persatu masalah mulai berdatangan. 

Salah satu koper Michelle hilang saat sampai di London. Untungnya, koper yang hilang itu bukan koper yang berisi koleksi Bateeq.

Mereka langsung mulai kegiatan untuk fitting busana dengan model yang akan memperagakan busana Bateeq. Tapi, hingga fitting dilakukan, kepastian model tak kunjung didapat. Model-model itu bahkan terus berubah hingga hari-H.

"Model yang sudah ditetapkan tahu-tahu ada yang tidak datang dan berubah saat fitting, hari H juga berubah. Beberapa model cancel dan mesti cari lagi," ungkap Michelle.

Bateeq juga mesti rela berbagi model dengan empat desainer dan label lainnya yang tampil satu panggung. 

"Ada model yang tampil pertama langsung ganti baju ke pakaian lain, padahal harusnya baju kami. Itu kami suruh buka lagi untuk pakai baju kami. Memang chaos tapi untungnya lancar," ujar Michelle.

Kelegaan baru muncul saat peragaan busana Bateeq usai dengan lancar. Lokasi show dipenuhi penoton hingga banyak yang berdiri. "Luar biasa respons dari audiens dan media luar," ucap Michelle.

Koleksi Bateeq diapresiasi dengan masuk dalam 12 label pilihan dari Forbes.

Michelle membandingkan gelaran London Fashion Week ini dengan Tokyo Fashion Week yang jauh lebih profesional.

"Kalau audiens London enggak kalah, tapi manajemennya Tokyo lebih rapi dan sangat detail," kata Michelle.

(ptj/chs)