LIPUTAN KHUSUS

Hikayat Congyang, Minuman Idola yang Sungkan Dipuja

Asri Wulandari, CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 13:00 WIB
Minuman beralkohol khas Semarang dengan merk dagang Cap Tiga Orang, atau lebih dikenal dengan nama Congyang. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Semarang, CNN Indonesia -- Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB saat kelompok orkes dangdut melantunkan lagu yang berlirik syahdu namun bernada menggelinjang. Orang-orang terlihat berjoget riang dengan segelas Congyang di tangan. Semakin larut, pesta kian ramai. Senggol kanan kiri sudah biasa, tapi tetap terjaga.

Sebanyak 18 botol Congyang digelontorkan Risky malam itu, demi tradisi melek bengi dalam rangkaian pernikahan pernikahannya.

Melek bengi adalah kebiasaan orang-orang Jawa Tengah untuk berkumpul semalam suntuk-atau bahkan beberapa malam-sebagai rangkaian sebuah pesta pernikahan.


Bukan sembarang begadang, melek bengi biasanya bertujuan untuk menemani keluarga empunya hajat, menjaga harta benda milik tuan rumah, menjauhkan pengantin dan keluarga dari hal-hal buruk, dan sebagai perwujudan rasa ikut gembira atas kebahagiaan keluarga.

Jika biasanya melek bengi dilakukan pada malam midodareni, tidak dengan Risky. Dia menggelarnya semalam suntuk setelah resepsi pernikahannya digelar di siang harinya.

Di beberapa desa di Semarang, minuman fermentasi tradisional Congyang kerap hadir menemani tradisi yang juga disebut lek-lekan ini.

Saat bercengkerama dengan CNNIndonesia.com di sebuah kafe di kawasan Pleburan, Semarang, pada awal Februari kemarin, Risky masih ingat huru-hara kebahagiaan pada tradisi melek bengi atau lek-lekan yang dilakoninya pada 2014 lalu. 

"Senang karena bisa bikin teman senang. Kapan lagi, kan?" katanya.

Risky sendiri tak tahu betul kapan tepatnya Congyang mulai hadir dalam tradisi lek-lekan. Yang jelas, kehadiran Congyang dalam agenda begadang semalam suntuk saat pesta pernikahan sudah menjadi hal yang lumrah di kampungnya.

Hampir mirip dengan Risky, Rayu (bukan nama sebenarnya) yang diwawancarai terpisah mengaku sebagai penggemar Congyang.

"Congyang rasanya spesial," kata Rayu saat ditemui di rumahnya di Semarang.

Rayu memang terlihat sebagai peminum peminum sejati, karena saat CNNIndonesia.com bertandang ke rumahnya terlihat satu rak yang berisi botol minuman beralkohol impor. Namun tidak terlihat penampakan Congyang. 

Sungkan dengan tamu, menjadi alasannya tak memamerkan minuman idolanya itu.

Sejarah dan Industri Congyang

Ketika dicoba, rasa Congyang manis di awal dan kecut di ujung, akibat fermentasi beras yang menjadi bahan utamanya. Sampai di perut, minuman ini terasa menghangatkan tubuh.

Mirip seperti fungsi whisky, Congyang rasanya cocok ditenggak di hari yang dingin.

Lahir dari tangan dingin Koh Tiong di bilangan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang sejak sekitar 1980 silam, minuman fermentasi tradisional ini menjadi legenda di tengah kehidupan masyarakat kota.

Congyang terbuat dari fermentasi beras putih, yang dicampur dengan gula, spirit, dan aroma.

Setidaknya bahan-bahan di ataslah yang tertera dalam botol cilik-atau tolik, warga Semarang menyebutnya-minuman Cap Tiga Orang itu.

Kehadiran minuman fermentasi beras ini tak lepas dari A Djong, minuman serupa pendahulunya.

Konon, Congyang adalah evolusi dari A Djong yang ramai di seantero kota pada era 1970-an. Lambat laut A Djong meredup, dan lahirlah Congyang.

Sebagai minuman yang lahir di kawasan Pecinan, beberapa menyebut Congyang sebagai salah satu produk akulturasi budaya Tionghoa di tanah Jawa.

[Gambas:Video CNN]

Sebagaimana diketahui, Semarang merupakan salah satu kota dengan komunitas Tionghoa terbesar di Indonesia. Tak heran jika aroma akulturasi terasa di berbagai lini kehidupan masyarakat Semarang.

Kuliner, misalnya. Sebut saja lumpia Semarang yang tersohor itu. Rolade berisi rebung, telur, daging ayam, atau udang ini merupakan perkawinan cita rasa Tionghoa dan Jawa.

Namun, tak seperti lumpia yang berhasil menanamkan popularitasnya dengan kokoh, Congyang justru tersimpan dalam posisi yang rancu di hati masyarakat.

Mengaku gemar meminum Congyang bisa diartikan sebagai pemabuk yang menggemari keributan. Anggapan tersebut lahir karena banyak kabar penenggak A Djong sering terlibat perkelahian.

Kisah soal eksistensi Congyang masih berlanjut ke halaman berikutnya...

(ard)
1 dari 2




BACA JUGA