Rekomendasi Kuliner

Bersantai di Leyeh-Leyeh Yogyakarta

CNN Indonesia | Minggu, 17/03/2019 12:14 WIB
Bersantai di Leyeh-Leyeh Yogyakarta Menu andalan di Leyeh-Leyeh, Yogyakarta. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah foto yang memperlihatkan keluarga kecil sedang bersantap dengan santai di atas jaring, menjadi viral di media sosial.

Dalam foto tersebut, mereka tampak menikmati momen tiduran di atas jaring yang di bawahnya mengalir sungai dengan air jernih, di belakangnya terlihat pepohonan dan sawah jajaran sawah hijau.

Suasana asri dan makan di atas jaring itu membawa saya mengunjungi Leyeh-Leyeh, Sleman, Yogyakarta.


Butuh waktu sekitar 45 menit hingga satu jam perjalanan dari pusat kota Yogyakarta menuju Jalan Kaliurang Km 15, Kabupaten Sleman, lokasi Leyeh-Leyeh.

Bermodalkan alamat itu, saya memesan taksi online menuju Leyeh-Leyeh. Maklum, karena masih baru nama tempat makan itu belum terdata di taksi daring. Untungnya, papan nama berukuran sedang bertuliskan Leyeh-Leyeh membuat saya tak tersesat.



Dari pintu masuk, sekilas tempat makan ini tak jauh berbeda dengan restoran lainnya. Meja-meja kayu tampak mendominasi.

Baru setelah melangkah lebih jauh ke bagian belakang, Anda akan menemukan spot favorit yang banyak jadi tempat berfoto untuk Instagram.

Saat saya tiba, lokasi jaring-jaring itu sudah dipenuhi kawula muda yang sedang bercengkerama dan keluarga kecil yang sedang tiduran.

Bersantai di Leyeh-Leyeh YogyakartaLeyeh-Leyeh. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)


Saya mesti mengalah menikmati sajian di meja kayu yang menghadap arah barat dengan pemandangan persawahan dengan semburat jingga dari matahari yang terbenam.

Setelah meletakkan barang saya lalu bergegas ke arah kasih yang sudah dipenuhi beberapa antrean untuk memesan makanan.

Pilihan saya jatuh pada menu andalan Leyeh-Leyeh, meat lovers pizza, gudeg krecek telur suwir, dan kudapan fried chicken palm bi.

Sebagai minuman untuk menikmati senja, saya memesan classic mojoto dan greentea latte.

Sambil menunggu makanan yang datang bergiliran, saya menyusuri setiap sudut Leyeh-Leyeh. Di bagian atas di sediakan pula balkon khusus berfoto dengan latar pohon kelapa menjulang tinggi dan hamparan sawah.



Usai saya puas berfoto, rupanya makanan pun sudah siap untuk disantap. Seloyang meat lovers pizza yang berwarna merah dengan taburan daging cincang tampak menggoda, meski sedikit hangus di bagian pinggir.

Saya menarik sepotong pizza dari loyang yang sudah dibagi delapan itu. Pizza ini memiliki kulit roti yang tipis dan lembut berpadu dengan saus tomat dan keju mozarella yang tak bikin enek. Satu potong saja tentu tak cukup, saya pun mengambil potongan yang kedua.

Classic mojito dari jeruk nipis, daun mint, dan sedikit soda mencuci mulut saya sebelum menyantap hidangan kedua berupa gudeg. Seperti gudeg pada umumnya, santapan ini terasa manis.

Namun, yang membedakan datang dari krecek atau kulit sapi yang dikeringkan yang cukup pedas. Saat dimakan bersama, kedua rasa ini menyatu dengan pas dengan rasa pedas yang lebih dominan.

Bersantai di Leyeh-Leyeh YogyakartaGudeg. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)


Sebagai kudapan, fried chicken palm bi berupa racikan potongan ayam yang berisi keju lumer menutup makan malam saya. Makanan lain yang patut dicoba adalah nasi goreng entok gobyos, spaghetti pesto, dan lumpia ayam.

Saat sudah gelap, perlahan para pelanggan mulai meninggalkan Leyeh-Leyeh. Saat itu pula saya berpindah tempat duduk ke jaring-jaring yang hits itu.

Saya pun melangkahkan kaki ke jaring-jaring dan sontak saya gamang, khawatir jaring itu akan sobek. Selain itu di kaki jaring-jaring itu terasa sakit. Namun, pengelola memastikan jaring-jaring itu aman ditempati delapan orang.

Saya pun mencoba duduk untuk menghilangkan rasa takut. Perlahan saya mampu beradaptasi dengan nyaman. Beberapa bantal juga disediakan untuk bersantai. Gemercik air sungai yang mengalir di bawah jaring bersama hembusan angin menutup malam saya di Leyeh-Leyeh.

[Gambas:Video CNN] (ptj/agr)