Waspada Nyeri Punggung yang Berujung Rematik Autoimun

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 28/03/2019 10:00 WIB
Waspada Nyeri Punggung yang Berujung Rematik Autoimun Ilustrasi (Istockphoto/ChesiireCat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Adhiyatma tak menyangka nyeri punggung yang dirasakannya merupakan awal dari penyakit rematik autoimun, spondilitis ankilosa atau ankylosing spondylitis (AS).

Tujuh tahun lalu, pemilik nama lengkap Adhiyatma Prakasa Gunawan ini mulai merasakan gejala pertama. Gejala itu berupa rasa kaku dan nyeri pada persendian tulang belakang.

"Sakit sekali di tulang belakang, terutama pagi hari saat bangun tidur," kata Adhiyatma dalam jumpa media mengenai penyakit spondilitis ankilosa yang diselenggarakan oleh Novartis beberapa waktu lalu.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Adhiyatma didiagnosis menderita spondilitis ankilosa. Hingga kini dia masih berkawan dengan penyakit yang menyerang tubuh secara berangsur-angsur. Meski tak bisa disembuhkan, perkembangan penyakit ini dapat dihambat.

Spesialis reumatologi, dr Rudy Hidayat menjelaskan, spondilitis ankilosa merupakan salah satu penyakit rematik autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri.


"Ankilosa itu artinya menyatu, spond itu tulang belakang. Jadi, penyakit autoimun ini menyebabkan radang di tulang belakang," kata Rudy.

Penyakit ini membuat ruas tulang belakang dapat menyatu sehingga penderita sulit bergerak, menjadi bungkuk, dan mengalami kesulitan bernapas.

Sama seperti yang dialami Adhiyatma, dia kesulitan menggerakkan lehernya. "Ini gerakan saya menoleh dibanding tujuh tahun lalu, sekarang semakin sulit," ujar Adhiyatma.

Pada kasus tertentu, penyakit AS juga dapat mengganggu persendian di tangan, bahu, panggul, dan pergelangan kaki.

AS ditandai dengan gejala berupa peradangan, rasa sakit, kekakuan di bagian tulang belakang serta sendi seperti bahu, pinggang, tulang rusuk, atau tumit terutama pada pagi hari. Gejala ini akan terjadi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

"Banyak yang anggap nyeri pinggang itu biasa. Tapi kalau nyeri pinggang sudah lebih dari dua bulan, hilang timbul, segera periksa ke dokter," ucap Rudy.

Penelitian menunjukkan, AS lebih sering diderita oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Laki-laki memiliki risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit ini.


Penyakit ini dapat terjadi pada segala usia, tapi biasanya berkembang saat remaja atau dewasa awal. Hanya ada 5 persen kasus yang mengalami gejala setelah berusia 45 tahun. Kasus AS tergolong jarang dengan prevalensi 1 dari 1.000 penduduk.

Menurut Rudy, hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti penyakit AS. Namun, beberapa faktor seperti keturunan atau genetik dan lingkungan dapat meningkatkan risiko AS. Rudy menyebut orang yang memiliki gen HLA-B27 berisiko terkena spondilitis ankilosa.

"Kombinasi dari beberapa faktor seperti genetik dan lingkungan seperti rokok, kontak dengan logam berat, zat kimia, dan infeksi virus memicu AS," ungkap Rudy.

Untuk menghambat laju AS, ada beberapa tata laksana pengobatan yang mesti dijalani penderita. Mulai dari berolahraga untuk mengurangi otot yang kaku, fisioterapi untuk mengurangi risiko cacat permanen, obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit, dan terapi bertarget dengan obat-obatan biologik atau biologic agents.

(ptj/asr)