Mengenal Donor Sumsum Tulang Belakang yang Dijalani Ani SBY

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 17:43 WIB
Mengenal Donor Sumsum Tulang Belakang yang Dijalani Ani SBY ilustrasi kanker darah( Istockphoto/Hailshadow)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa bulan lalu, istri Mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono divonis menderita kanker darah.

Dia mendapatkan pengobatan kanker darah di rumah sakit di Singapura. Setelah serangkaian pengobatan berjalan, kini Ani akan menjalani pengobatan kanker darah dengan metode donor sumsum tulang belakang.

Ani Yudhoyono akan mendapatkan donor sumsum tulang belakang dari kakaknya, Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo. Donor sumsum tulang belakang ini merupakan bagian dari proses penyembuhan penyakit kanker darah yang diidap istri Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.


Setelah serangkaian pemeriksaan oleh dokter, sumsum tulang Pramono dan Ani ternyata cocok satu sama lain. Kecocokan sumsum yang dimiliki oleh Pramono dan Ani memenuhi persyaratan untuk transplantasi sumsum tulang belakang.


Transplantasi sumsum tulang belakang atau transplantasi sel induk/punca (stem cell transplant) merupakan salah satu metode pengobatan untuk beberapa jenis kanker, terutama kanker darah, seperti yang dialami ibu dari Agus Harimurti Yudhoyono dan Ibas.

Sumsum tulang adalah bagian dari tulang yang berfungsi untuk membuat sel darah. Sumsum adalah jaringan lunak yang mengandung sel hematopoietik. Sel hematopoietik adalah sel sumsum tulang yang memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah.

Donor sumsum tulang belakang jadi salah satu pilihan pengobatan kanker darah lantaran pada penderita kanker darah sel tersebut tidak dapat berfungsi normal. Donor sumsum tulang belakang diharapkan dapat  mengembalikan fungsi sumsum tulang untuk memproduksi darah.

Dikutip dari situs Cancer, serangan kanker membuat sel hematopoietik itu tidak bisa bekerja normal untuk menghasilkan sel darah dan menghambat metabolisme tubuh.

Donor sumsum tulang belakang ini diharapkan akan memberi sel hematopoietik yang baru dan menggantikan yang lama. Dengan demikian, sel baru ini diharapkan bisa menghasilkan sel darah normal dan melawan kanker.

Proses transplantasi sumsum tulang belakang ini dapat berlangsung selama beberapa hari. Pertama dokter akan mengumpulkan sel sumsum tulang dari pendonor selama beberapa hari. 


Pengumpulan sumsum tulang belakang dari donor dengan cara memberikan suntikan yang akan meningkatkan jumlah sel sumsum pendonor.

Setelah jumlah sumsum donor terkumpul sesuai kebutuhan, maka dokter akan mengumpulkan sel sumsum tulang itu melalui pembuluh darah menggunakan infus standar atau kateter, yang ditempatkan di pembuluh darah besar di dada. Pada beberapa metode, tindakan bedah juga dapat dilakukan untuk mengambil sumsum tulang.

Sel-sel sumsum tulang itu akan ditransplantasikan kepada penerima melalui kemoterapi. 

Transplantasi sumsum tulang dapat dikatakan sukses jika jumlah darah atau produksi darah kembali pada tingkat yang aman. Jumlah darah itu meliputi jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dalam darah Anda. 

Donor sumsum tulang juga dapat dikatakan  berhasil jika perawatan itu dapat mengontrol kanker yang diderita. Bagi kasus tertentu kesembuhan dapat terjadi setelah melakukan donor sumsum tulang. Namun, pada kasus lain, meski tak sampai pada penyembuhan, pengurangan keganasan kanker dan juga peningkatan kualitas hidup dapat tercipta.

Secara umum, perkembangan teknologi membuat proses transplantasi ini merupakan proses yang aman. Tapi, di sisi lain prosedur medis ini juga memiliki risiko dan beberapa efek samping. Efek samping ini tergolong kecil dibandingkan manfaat yang akan didapatkan oleh penerima donor sumsum tulang.

Dikutip dari Very Well Health, efek samping yang mungkin timbul setelah mendonorkan sumsum tulang adalah sakit di daerah pinggul, punggung, dan kelelahan selama sekitar sepekan. Efek dari anestesi seperti sakit tenggorokan dan mual juga dapat terasa.

Menurut National Marrow Donor Program Amerika Serikat, 2,4 persen orang yang menyumbangkan sumsum tulang mengalami komplikasi serius dan hanya sedikit yang mengalami komplikasi jangka panjang.

Dari 27 ribu orang yang menjadi pendonor sumsum tulang di 35 negara, penelitian menemukan hanya ada satu kematian dan 12 komplikasi serius yang sebagian besar berhubungan dengan jantung. (ptj/chs)