Bullying pada Anak Tak Lepas dari Masalah Keluarga

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/04/2019 13:00 WIB
<i>Bullying</i> pada Anak Tak Lepas dari Masalah Keluarga Ilustrasi (Jedidja/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang remaja di Pontianak, Kalimantan Barat harus menerima nasib nahas. Siswa SMP bernama Audrey itu dilarikan ke rumah sakit akibat pengeroyokan yang dilakukan oleh 12 siswa SMA. Kasus bullying ini menarik simpati banyak orang.

Dugaan sementara, pengeroyokan terjadi karena dipicu masalah asmara dan saling komentar di media sosial. Pengeroyokan ini boleh jadi terdengar tidak masuk akal. Pasalnya, kekerasan justru dilakukan anak di bawah umur.

Bullying dengan kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur tak terjadi satu dua kali. Apa pun yang jadi pemicu, perundungan pada anak tak bisa dipisahkan dari latar belakang keluarga.


"Premisnya adalah mereka yang melakukan perundungan hampir mungkin mendapatkan tekanan ataupun bully yang sama dari lingkungan sekitarnya, seperti keluarga," kata psikolog anak, Mira Amir, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/4).

Umumnya, pelaku perundungan juga mengalami kejadian serupa di lingkungan sosial lain, terutama keluarga. Hal itu, kata Mira, membuat anak ingin melampiaskan emosi yang dirasakannya pada orang lain.

Kondisi keluarga yang disfungsi dapat mendorong anak pada perilaku bullying. Beberapa disfungsi keluarga seperti tak mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta mengalami kekerasan fisik dan mental seperti disindir dan dibandingkan dengan anak lainnya.

"Artinya, ada kondisi yang tidak ideal, yang juga mereka alami sehingga mereka mampu memperlihatkan perilaku itu pada orang lain. Dalam kasus Audrey, itu terjadi kepada teman mereka," tutur Mira.

Disfungsi pada keluarga di zaman kiwari umumnya terjadi karena pola asuh yang salah. Orang tua, kata Mira, masih bertahan dengan pola asuh zaman dahulu.
Pola asuh yang tak berkembang seperti dengan sikap keras akan selalu mental jika diterapkan pada anak-anak zaman sekarang.

Bullying berlangsung bertahap

Kasus pengeroyokan seperti yang menimpa Audrey umumnya tak terjadi ujug-ujug. Menurut Mira, kasus biasanya diawali dengan perundungan secara mental yang bersifat aksi-reaksi. Kekerasan fisik menjadi puncaknya.

"Saya khawatir mungkin saja sudah sering sebelum ini. Ini bentuknya aksi dan reaksi," ucap Mira.

Selain itu, Mira menilai, 12 remaja tersebut berani melakukan kekerasan fisik karena mereka melakukannya bersama-sama. Saat aktivitas dilakukan bersama-sama, kata dia, secara psikologis identitas pribadi jadi tersamarkan dan tanggung jawab personal sering kali hilang.

Untuk mencegah bullying pada anak, Mira menyarankan agar orang tua memperbaiki pola asuh dan komunikasi supaya anak mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Perhatian merupakan cara yang tepat untuk mencegah penindasan.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)