Sayangnya modernisasi mengubah kultur yang telah lekat dengan warga negara Prancis, bahkan menuju ke arah yang destruktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisnis yang masih bertahan di sini hanyalah toko kelontong dan penginapan."
Mereau menilai apa yang dilakukan oleh Cherrier adalah langkah yang paling kongkrit untuk mempertahankan perekonomian masyarakat.
Langkah awal yang dilakukan oleh Cherrier adalah merombak truk yang dibelinya, demi memenuhi kebutuhan bar pada umumnya.
Bagian samping truknya ditulisi "C'est l'Occaz" yang berarti "Inilah Saatnya".
Cherrier juga mengoptimalkan media sosial untuk berinteraksi dengan pelanggannya. Ia rajin mengabarkan di Facebook tentang lokasi ia berjualan pada setiap harinya, hal ini dilakukannya karena ia sengaja berdagang dengan cara gerilya.
Misalnya hari senin di Precy, Selasa di Azy, Rabu di Rians, dan seterusnya.
Siasat ini harus dilakukan karena era telepon pintar telah mengubah pola hidup masyarakat yang lebih nyaman berinteraksi lewat layar, ketimbang bertatap muka.
Hal ini juga dirasakan oleh seorang warga Villequier, Oliver, yang menuturkan kafe adalah tempat yang tepat untuk bertemu seseorang. Namun hal ini tidak ia rasakan lagi.
Menurut Mereau upaya yang dilakukan oleh Cherrier itu, mampu memperkecil 'jurang' yang membentang antara Paris, sebagai magnet wisatawan, dengan daerah-daerah lain di Prancis yang sepi pemasukan dari turis.
Pada tahun 1960 Prancis memiliki 200 ribu kafe, namun berdasarkan data dari CREDOC (sebuah lembaga yang mempelajari perilaku konsumsi masyarakat di Prancis) jumlah itu merosot tajam menjadi 35 ribu di tahun 2015.
[Gambas:Video CNN]
(agr/ard)