Bar dalam Truk yang Menggairahkan Desa Sepi

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 11/04/2019 11:31 WIB
Bar dalam Truk yang Menggairahkan Desa Sepi Ilustrasi. (kaicho20/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bar dan kafe adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan negara yang menjadi 'kiblat' industri fesyen, Prancis. Budaya kongko adalah hal yang substansial di sini, bahkan hingga ke pelosok desa.

Sayangnya modernisasi mengubah kultur yang telah lekat dengan warga negara Prancis, bahkan menuju ke arah yang destruktif.

Mengutip AFP, Rabu (10/4), beberapa warga di sebuah desa bernama Villequier memutar otak untuk tetap menghidupkan bar dan kafe. Cara yang ditempuhnya adalah merombak truk sebagai bar, hal inilah yang ditempuh oleh Sebastien Cherrier.


"Kafe terakhir di desa ini berhenti beroperasi tahun lalu, pada tahun 1985 kami masih punya empat buah," ujar pemimpin desa Villequiers, Pascal Mereau.

"Bisnis yang masih bertahan di sini hanyalah toko kelontong dan penginapan."

Mereau menilai apa yang dilakukan oleh Cherrier adalah langkah yang paling kongkrit untuk mempertahankan perekonomian masyarakat.

Langkah awal yang dilakukan oleh Cherrier adalah merombak truk yang dibelinya, demi memenuhi kebutuhan bar pada umumnya.

Bagian samping truknya ditulisi "C'est l'Occaz" yang berarti "Inilah Saatnya".

Cherrier juga mengoptimalkan media sosial untuk berinteraksi dengan pelanggannya. Ia rajin mengabarkan di Facebook tentang lokasi ia berjualan pada setiap harinya, hal ini dilakukannya karena ia sengaja berdagang dengan cara gerilya.

Misalnya hari senin di Precy, Selasa di Azy, Rabu di Rians, dan seterusnya.

Siasat ini harus dilakukan karena era telepon pintar telah mengubah pola hidup masyarakat yang lebih nyaman berinteraksi lewat layar, ketimbang bertatap muka.

Hal ini juga dirasakan oleh seorang warga Villequier, Oliver, yang menuturkan kafe adalah tempat yang tepat untuk bertemu seseorang. Namun hal ini tidak ia rasakan lagi.

Menurut Mereau upaya yang dilakukan oleh Cherrier itu, mampu memperkecil 'jurang' yang membentang antara Paris, sebagai magnet wisatawan, dengan daerah-daerah lain di Prancis yang sepi pemasukan dari turis.

Pada tahun 1960 Prancis memiliki 200 ribu kafe, namun berdasarkan data dari CREDOC (sebuah lembaga yang mempelajari perilaku konsumsi masyarakat di Prancis) jumlah itu merosot tajam menjadi 35 ribu di tahun 2015.

[Gambas:Video CNN]

(agr/ard)