Menstrual Cup Masih Terbentur Tabu Nilai Budaya

Tim, CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 17:30 WIB
Menstrual Cup Masih Terbentur Tabu Nilai Budaya ilustrasi menstruasi (DieterRobbins/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah hampir empat bulan Amya Meranti menyimpan menstrual cup di lemarinya. Cawan menstruasi itu terus teronggok di dalam laci tak terpakai. Padahal, tiga periode haid sudah dia lewati, alternatif pembalut barunya itu tak kunjung dipakainya.

Bukan apa-apa, salah satu pasalnya Amya sungkan memasukkan sesuatu ke dalam organ intimnya. "Kok, rasanya aneh aja, sih," kata Amya saat bercerita pada CNNIndonesia.com soal niatnya mulai menggunakan alat penadah darah haid yang lebih ramah lingkungan itu pada Sabtu (13/4).

Amya membeli produk menstrual cup keluaran Denmark seharga kisaran Rp500 ribu. Harga yang terbilang mahal untuk sebuah alat penadah darah haid. "Tapi, kan, ini bisa dipakai berbulan-bulan," kata Amya beralasan.


Kendati telah mengeluarkan kocek yang terbilang besar, si cawan menstruasi itu tak juga digunakan Amya. Bukan karena takut, perempuan 31 tahun ini merasa geli jika harus memasukkan sebuah barang ke organ intimnya. Dia takut akan sesuatu yang mengganjal di bagian lubang kewanitaannya kelak.

"Masih ragu-ragu aja, sih, sama rasanya nanti kayak gimana. Takut mengganggu," kata Amya.

Keinginan Amya membeli barang itu muncul akibat embel-embel ramah lingkungan dan biaya lebih irit yang ditawarkan menstrual cup. Betapa tidak, dalam satu hari, pekerja swasta ini minimal dua kali mengganti pembalut sekali pakainya. Ditambah waktu periode haid yang memakan waktu hampir satu pekan.

"Itu nyampah banget. Pokoknya kalau lagi haid, mendadak tempat sampah penuh karena pemakaiannya memang boros," kata Amya.

Tapi, apa daya, tabu akan kebiasaan memasukkan suatu barang ke organ intim wanita di budaya Timur membuat menstrual cup yang dimiliki Amya belum juga berfungsi.

Keraguan wanita menggunakan menstrual cup terbilang wajar lantaran cara pemakaiannya yang bertolak belakang dengan nilai budaya yang ditanamkan di Indonesia. Apalagi, pembicaraan soal kesehatan seksual masih sangat tabu. Tak sedikit orang tua yang mau membicarakan perkara tersebut pada buah hati.

"Ada nilai yang ditanamkan pada kita, perempuan, kalau kita enggak boleh masukin apa pun ke organ intim," ujar ahli kandungan lainnya, dr Riyana Kadarsari, beberapa waktu lalu. Nilai budaya itulah, yang menurutnya, membuat menstrual cup belum diterima betul oleh wanita Indonesia.

Terlebih saat penggunaan menstrual cup dihubungkan dengan ihwal keperawanan. Mereka yang belum menikah, kata Riyana, mungkin akan berpikir dua kali untuk mencoba menggunakannya.

Padahal, lanjut Riyana, menstrual cup tidak akan mencederai selaput dara wanita. Posisi di mana cawan menstruasi itu dimasukkan, berada jauh dari mulut rahim sehingga selaput dara tetap aman.

Senada, ahli kandungan, dr Ni Komang Yeni Dhana Sari mengatakan, perawan atau tidak bukan merupakan diagnosis medis. Yang paling penting adalah teknik pemasangan yang tepat. Sebaiknya, wanita berlatih menggunakan menstrual cup sebelum memasuki masa periode haid.

"Latihan dua atau tiga kali cukup. Walau nanti di saat belum haid, organ intim lebih kaku, tapi bisa pakai pelumas, gel, atau minyak," kata Yeni menganjurkan.

Lebih lanjut, Yeni mengatakan, keengganan ini hanya berawal dari perkara kebiasaan. "Pasien saya yang sudah terbiasa, sih, nyaman-nyaman saja," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (12/4).

Bagi mereka yang tidak terbiasa, rasa takut dan tidak nyaman pasti akan muncul saat ada sesuatu yang masuk ke dalam organ intimnya. Apalagi, saat menstruasi, menstrual cup bakal getol keluar-masuk organ intim. (els/asr)