SURAT DARI RANTAU

Antre Empat Jam dalam Minus Tiga Derajat di TPS Belanda

Galang Galih Gibran, CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 16:11 WIB
Antre Empat Jam dalam Minus Tiga Derajat di TPS Belanda Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Den Haag, CNN Indonesia -- Tahun ini tepat dua tahun lamanya saya mengadu nasib di Belanda. Tahun ini terasa jauh lebih istimewa, karena bertepatan dengan pemilihan umum.

TPS di Belanda yang akan saya datangi berada di Sekolah Indonesia, Den Haag. Seluruh WNI dijadwalkan mencoblos Sabtu (14/4).

Ini merupakan kali pertama saya mengikuti pemilu di luar negeri. Saya merasa sangat antusias karena ikut pemilu juga berarti melepas rindu akan Tanah Air dengan bercakap dengan dengan sesama WNI lainnya.


Kegiatan datang ke TPS untuk mencoblos menjadi tantangan sendiri di sini. Cuaca dingin sudah pasti menjadi alasannya. Jangankan berangkat dan mengantre nyoblos, ke minimarket dekat rumah saja rasanya sungkan.

Tapi demi masa depan Indonesia yang lebih baik, saya meneguhkan hati untuk menggunakan hak pilih saya meski harus keluar rumah dengan pakaian berlapis-lapis.

Pagi di hari pencoblosan suhu tercatat sekitar minus tiga derajat Celcius.

Perjalanan dari rumah saya menuju TPS di Den Haag kurang lebih memakan total waktu 2 jam. Saya datang bersama teman-teman. Kami naik sepeda sekitar 20 menit ke stasiun, disambung naik kereta 1,5 jam menuju Stasiun Den Haag Central.

Setibanya di stasiun, KPPLN Belanda menyediakan fasilitas bus jemputan ke lokasi TPS yang berada di Sekolah Indonesia. Namun antrean sangat panjang. Bahkan warga lokal merasa heran dengan kerumunan WNI di Stasiun Den Haag Central.

Saya dan teman-teman lalu memutuskan untuk naik bus umum saja. Bus umum juga terisi padat oleh WNI, serasa seperti sedang di Jakarta dan naik bus Kopaja hahaha...

Di dalam bus muka-muka para WNI terlihat sumringah. Saya cukup kagum dengan semangat para WNI untuk mencoblos. Tak peduli sedang berada jauh dari Tanah Air.

Perjalanan ke TPS sekitar 15 menit. Iseng, saya dan teman-teman menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Tanah Airku di dalam bus, hingga yang lain ikut bernyanyi dan membuat bus menjadi sangat ramai.

Supir bus hanya tertawa-tawa. Tak disangka ia bahkan memberikan pengumuman tujuan kami dengan Bahasa Indonesia.

Suhu tidak juga menghangat ketika saya sampai di Sekolah Indonesia. Bahkan salju sempat turun di saat saya berada di tengah antrean.

Sesampainya kami di lokasi TPS di sekolah Indonesia, tak disangka animo WNI ternyata cukup tinggi. Total pemilih tercatat sekitar 8.000 orang alias dua kali dari total pemilih dalam pemilu sebelumnya.

Antrean masuk di TPS Den Haag, Belanda. (Dok Galang Galih Gibran)

Antrean mengular hingga keluar pagar sekolah Indonesia. Situasi ini cukup membuat panitia kewalahan, karena pemilih disebut di luar estimasi awal. Alhasil saya dan teman-teman harus berdiri mengantre sekitar empat jam sebelum bisa masuk bilik untuk mencoblos.

Di kanan dan kiri saya terlihat WNI sabar mengantre. Ada keluarga yang membawa serta anaknya sampai pasangan sepuh. Walau sudah kompak mengantre, namun terkadang ada beberapa orang yang berteriak mengeluh karena merasa antrean tak bergerak sama sekali.

Pemerintah Indonesia harusnya bangga melihat pemandangan ini. Karena lain halnya dengan penduduk Belanda, yang mungkin bakal meninggalkan TPS jika antrean sudah terlalu panjang.

Saya jadi tersenyum sendiri di tengah antrean yang mendadak diguyur salju. Sebelumnya ketika masih tinggal di Indonesia, saya termasuk orang yang cukup apatis dengan politik negara. Rasanya siapapun pemimpin atau perwakilan yg terpilih tidak akan berpengaruh banyak dengan hidup saya.

Namun setelah menempuh pendidikan dan tinggal di Belanda, saya dan teman-teman dari mancanegara banyak bertukar pikiran mengenai kondisi politik di negara mereka.

Kondisi politik di negara tetangga ternyata belum tentu "seadem" di Indonesia, begitu pikir saya setelah mendengar kisah mereka. Sistem demokrasi di Indonesia terbilang paling merata. Paling membebaskan. Siapapun boleh berpendapat atau mengkritik tanpa merasa terancam.

Pemikiran atas perbandingan itulah yang membuat saya bertekad untuk mengikuti pemilu pada tahun ini. Lima menit di bilik suara bakal menentukan pemimpin saya dalam lima tahun ke depan.

Usai mencoblos saya berbincang santai dengan teman dan WNI lainnya.

Dari komentar mereka semuanya berharap pemerintah Indonesia bisa membuat sistem pemungutan suara yang lebih kondusif dan nyaman ke depannya, sehingga seluruh WNI percaya bahwa hak pilihnya tersampaikan.

Terlepas dari pemilu, saya berharap pemimpin yang terpilih nanti bisa mengabdi untuk rakyat, baik rakyat yang tinggal di bawah hangatnya matahari Indonesia maupun rakyat yang hidup di tengah dinginnya suhu luar negeri.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(ard)