Namun, imunisasi tak bisa berdiri sendiri. Manfaatnya kian terasa jika dilengkapi dengan nutrisi yang tak kalah penting.
"Jika nutrisi kurang, kekebalan tubuh tidak akan optimal," ujar ahli kesehatan anak, Profesor Soedjatmiko, dalam konferensi pers Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Nestle di Aston Kuningan, Jakarta, Senin (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IDAI Sebut Indonesia Darurat Campak Rubella |
Imunisasi dan nutrisi bak dua dua insan yang saling melengkapi. Kekurangan nutrisi akan sangat berpengaruh pada lemahnya sistem imun.
Sebuah studi berjudul "Immune Dysfunction as a Cause and Consequence of Malnutrition" pada 2016 lalu menyebut bahwa gangguan imun merupakan penyebab utama sekaligus konsekuensi dari malnutrisi.
"Ulasan kami menunjukkan bahwa gangguan imun tidak hanya merupakan konsekuensi dari diet yang tidak memadai, tapi juga berkontribusi langsung terhadap kematian dan morbiditas yang terkait dengan kekurangan gizi," tulis peneliti dalam jurnal Trends of Immunology.
Lihat juga:4 Cara Mudah Penuhi Kebutuhan Zat Besi Anak |
Memastikan Kecukupan Gizi Anak
Kecukupan gizi anak dimulai dari seribu hari kehidupan. Artinya, orang tua perlu memastikan kecukupan nutrisi si buah hati sejak masih dalam janin.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, dr Yoga Devaera mengatakan, intervensi nutrisi dapat menyelamatkan kehidupan anak. Dia menemukan 45 persen kematian balita disebabkan oleh status gizi buruk.
Pada periode 0-6 bulan, kata Yoga, anak harus memperoleh asupan gizi melalui air susu ibu (ASI). Pemberian ASI, lanjutnya, bisa dilanjutkan hingga usia 1-2 tahun.
Pada tahap berikutnya, anak mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) saat usia di atas 6 bulan. MPASI terdiri dari dua jenis yakni makanan besar dan selingan.
Yoga mengatakan, orang tua perlu mencermati perbedaan pemberian dua jenis MPASI tersebut. Makanan besar perlu mengandung nutisi cukup baik makronutrisi maupun mikronutrisi. Sedangkan selingan tak harus mengandung nutrisi lengkap yang bisa berupa buah atau biskuit bayi.
Lihat juga:Meracik MPASI yang Tepat Sesuai Usia Anak |
Berbeda dengan mikronutrisi, yang sifatnya hanya untuk mengatur metabolisme dan fungsi organ tubuh. Mikronutrisi bisa berupa vitamin dan mineral dari sayur atau buah.
Yoga juga berpesan agar orang tua memperkenalkan berbagai macam makanan pada anak, termasuk daging. Banyak orang beranggapan bahwa daging baru bisa diperkenalkan terhadap bayi berusia di atas 8 bulan. Namun, kata Yoga, hal itu tak berlaku lagi saat ini. "Ilmu sekarang, kenalkan daging sedari dini," imbuhnya.
Daging merupakan sumber zat besi yang baik bagi tubuh. Kekurangan zat besi bisa memengaruhi tumbuh kembang anak. MPASI jadi andalan untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak.
[Gambas:Video CNN] (els/asr)