KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, perdebatan umumnya terjadi lantaran adanya perbedaan pendapat terhadap satu objek. Hal ini disebabkan oleh sudut pandang yang juga berbeda.
"Tak jarang perbedaan pendapat itu berujung pada perdebatan," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa perdebatan perlu dilakukan demi mencari kebenaran dan titik temu," katanya. Perdebatan untuk mencari kemaslahatan bagi banyak orang diperkenankan dalam Islam.
Namun, tak jarang perdebatan di zaman kiwari mengarah pada perpecahan. Pasalnya, yang dicari bukanlah kebenaran untuk titik temu, melainkan sekadar adu mulut.
Tak jarang perdebatan ini diwarnai oleh kalimat-kalimat yang menyinggung pihak lawan. "Tak jarang pula muncul fitnah," katanya.
Secara langsung, perdebatan negatif semacam itu, lanjut dia, dikategorikan sebagai hal-hal yang diharamkan dalam Islam. Alih-alih membawa kemaslahatan, perdebatan justru berujung kemafsadahan atau kehancuran.
Seyogianya, media sosial hadir untuk berdebat mencari titik temu dan kebenaran. "Orang-orang yang berpuasa hendaknya menghindari perdebatan negatif yang berujung perpecahan," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (edh/asr)