Sake dan Upacara Shinto Sambut Era Baru di Jepang

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 13:23 WIB
Sake dan Upacara Shinto Sambut Era Baru di Jepang Permaisuri Masako dan Kaisar Naruhito. (REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dengan sake yang menyegarkan dan upacara Shinto yang khusyuk, penduduk Jepang merayakan era kekaisaran baru Naruhito yang menjadi kaisar ke-126 merek dalam pesta pada hari Rabu (1/5).

Hujan turun tiba-tiba agaknya meredam suasana pesta pengunduran diri bersejarah ayah Naruhito, Akihito, Selasa (30/4), dengan hanya segelintir orang yang datang sambil meringkuk di bawah payung untuk memberi penghormatan di Istana Kekaisaran Tokyo.


Tapi langit cerah untuk hari pertama era "Reiwa" - yang berarti "harmoni yang indah" - dan penduduk Jepang, yang mengisi libur sepuluh harinya dengan berpesta di kuil Meiji Jingu di Tokyo.


Ketika orang berbaris di jalan setapak, sekitar 30 pemimpin agama Shinto mengenakan jubah putih dan topi hitam tinggi berbaris di bawah gerbang besar menuju gedung utama untuk melakukan upacara meriah dalam rangka laporan akan aksesi kaisar baru kepada leluhurnya, para dewa Shinto.

Dan orang-orang yang haus bergegas untuk mengambil "masu" atau balok kayu sederhana yang diisi dengan sake, dengan 1.000 gelas gratis ludes terbagi hanya dalam 30 menit.

Gadis kuil mengenakan jubah putih dan "hakama" atau celana panjang lebar oranye terang sambil menghidangkan minuman fermentasi beras khas Jepang dari tong kayu menggunakan sendok panjang.

"Sake itu lezat," kata Midori Okuzumi, 49, yang melakukan perjalanan dari timur Tokyo dengan suaminya, Hirokazu, untuk perayaan itu.

"Agak kecewa karena masu (gelas kayu) habis sebelum giliran kita datang tetapi rasanya masih enak," katanya, sambil memegangi cangkir kertas kecil sebagai gantinya.

Pekerja kantor Kiyohiko Izawa, 28 dan istrinya Naoko, juga 28, yang bekerja di bank, mengunjungi kuil untuk melaporkan pernikahan mereka kepada para dewa Shinto.

"Saya senang kami bisa melaporkan pernikahan pada hari pertama Reiwa," kata Naoko.


Sejarah baru

Perubahan era adalah peristiwa besar di Jepang, setara dengan aksesi seorang kaisar baru. Beberapa pasangan memilih untuk menikah pada tengah malam dan ada antrian panjang di kantor pos untuk mendapatkan prangko bertuliskan hari pertama era Reiwa.

Dan beberapa orang berusaha keras untuk merayakan di era baru.

Dengan matahari berawan di pagi hari, sekitar 80 orang membayar untuk naik pesawat sewaan demi menangkap fajar yang membelah Pegunungan Jepang.

"Meskipun penumpang tidak dapat melihat Gunung Fuji karena cuaca buruk, mereka dapat menikmati matahari terbit pertama Reiwa," kata Sho Inoue, juru bicara perusahaan penerbangan kepada AFP.

Sekitar 370 orang juga melakukan perjalanan ke Nemuro di pulau Hokkaido, salah satu titik paling timur Jepang, dalam upaya untuk menjadi yang pertama melihat matahari terbit tetapi awan membayangi.

Yang lain pergi menonton upacara formal dan pidato pertama Naruhito di layar lebar di luar Shinjuku, stasiun kereta tersibuk di dunia.

Sambil menatap layar, mahasiswa hukum 21 tahun Mito Okuno mengatakan dia datang dari Himeji, sekitar 600 kilometer ke barat Tokyo, untuk menikmati momen bersejarah.

Mengenakan kimono oranye bergaris, merah dan hitam, Okuno mengatakan kepada AFP: "Saya seseorang yang mencintai sejarah dan apa yang kami alami sekarang akan dibicarakan untuk waktu yang lama."

"Itu sebabnya saya ingin datang langsung ke tempat ini."

Naruhito secara resmi menjadi kaisar di tengah malam yang disaksikan oleh ratusan orang di Shibuya. Mereka juga menghitung mundur terbitnya era baru di waktu yang bersamaan.

Tamae Moriyama, seorang pekerja restoran berusia 48 tahun, mengatakan dia berharap peristiwa bersejarah itu akan memicu perdebatan tentang wanita yang naik tahta yang saat ini dilarang.

"Saya berharap bahwa suatu hari wanita akan dapat naik takhta seperti di Inggris. Saya senang bahwa subjek sedang diperdebatkan. Waktu telah berubah tetapi sistem kekaisaran tidak berubah dengan mereka," katanya kepada AFP.


[Gambas:Video CNN]

(ard)