Nagoro, Desa di Jepang yang Dihuni Boneka

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 19:25 WIB
Nagoro, Desa di Jepang yang Dihuni Boneka Pemandangan
Jakarta, CNN Indonesia -- Di desa kecil Nagoro, barat pegunungan Jepang, jalanan terlihat sepi dari keramaian warga.

Namun jalanan terlihat ramai dengan boneka seukuran manusia. Boneka tersebut dibuat oleh seorang warga yang merasa kesepian karena ditinggal tetangganya.

Nagoro, sekitar 550 kilometer di barat daya Tokyo, telah dikenal sebagai lembah boneka setelah Tsukimi Ayano mulai menempatkan orang-orangan sawah di jalan untuk menyuntikkan kehidupan ke desanya yang kekurangan penduduk.


"Hanya 27 orang yang tinggal di desa ini tetapi jumlah orang-orangan sawah berlipat sepuluh, seperti 270," kata pembuat boneka berusia 69 tahun itu kepada AFP dalam sebuah wawancara di rumahnya.

Semuanya berawal 16 tahun yang lalu ketika Ayano menciptakan orang-orangan sawah yang dipakaikan baju ayahnya untuk mencegah burung memakan biji yang dia tanam di kebunnya.

"Seorang pekerja yang melihatnya di kebun mengira itu benar-benar ayah saya ... dia menyapa tapi itu orang-orangan sawah. Itu lucu," kenang Ayano.

Sejak itu, Ayano tidak berhenti menciptakan boneka seukuran aslinya, dibuat dengan tongkat kayu, koran untuk mengisi tubuh, kain elastis untuk kulit dan wol rajut untuk rambut.

Tangannya yang terampil hanya perlu waktu tiga hari untuk membuat boneka berukuran dewasa yang sekarang tersebar di seluruh desa.

Rahasia membuat boneka terlihat hidup? Ayano mengaplikasikan warna pink ke bibir dan pipi boneka dengan kuas make up.

Di sekolah setempat, dia telah menempatkan 12 boneka berwarna-warni berukuran anak-anak di setiap meja, diposisikan seolah-olah sibuk belajar.

Sekolah ditutup tujuh tahun yang lalu karena tidak ada yang mengajar dan diajar, kenangnya sedih.

"Sekarang tidak ada anak-anak. Warga termuda di sini berusia 55 tahun."

Di ujung jalan, satu "keluarga" orang-orangan sawah duduk di depan toko kelontong yang ditinggalkan, sementara satu boneka berpakaian seperti seorang petani tua melongok ke dalamnya.

Di dekat halte bus, sekelompok orang-orangan sawah berkumpul ketika boneka "ayah" menarik gerobak yang penuh dengan "anak-anak."

Sangat Sepi

Meskipun tidak pernah terlalu akrab dengan warga sekitarnya, Ayano kecil ingat bahwa Nagoro pernah menjadi pemukiman yang menyenangkan dengan sekitar 300 warga yang sebagian besar bekerja di industri kehutanan dan pembangunan bendungan.

"Orang-orang berangsur-angsur pergi ... Sekarang sepi," katanya. "Aku membuat lebih banyak boneka karena aku ingat saat desa itu ramai."

Nasib Nagoro mirip dengan nasib sebagian besar kawasan di Jepang, di mana jumlah populasi menurun, angka kelahiran rendah, dan harapan hidup yang tinggi.

Jepang berada di ambang menjadi negara "sangat tua" pertama di dunia, yang berarti bahwa 28 persen orang berusia 65 atau lebih.

Laporan pemerintah terbaru menunjukkan bahwa 27,7 persen dari total populasi Jepang yang berjumlah 127 juta telah berusia 65 atau lebih. Angka tersebut diperkirakan akan melonjak menjadi 37,7 persen pada tahun 2050.

Menurut para ahli, sekitar 40 persen dari 1.700 kota di Jepang didefinisikan "kehilangan penduduk".

Memerangi Depopulasi

Setelah Perang Dunia II, ketika kehutanan dan pertanian merupakan pendorong ekonomi utama, banyak orang Jepang tinggal di desa-desa seperti Nagoro.

Tetapi anak-anak muda mulai berangkat ke Tokyo pada 1960-an, kata Takumi Fujinami, ekonom di Japan Research Institute.

"Ekonomi sedang berkembang di Tokyo dan kawasan industri pada waktu itu. Mereka adalah satu-satunya tempat orang bisa mendapatkan uang, jadi banyak anak muda pindah ke sana," katanya.

Perdana Menteri Shinzo Abe telah berjanji untuk menghidupkan kembali daerah-daerah di luar Tokyo dengan memompa dana puluhan miliar yen, tetapi itu tidak cukup untuk menghentikan orang-orang muda meninggalkan kampung halaman mereka untuk bekerja di Tokyo, kata Fujinami.

"Untuk memerangi depopulasi, kita membutuhkan orang-orang yang pindah ke daerah-daerah yang tidak berpenghuni. Tetapi memulihkan populasi sangat sulit," katanya.

"Sebaliknya, penting untuk meningkatkan penghasilan atau memperbaiki kondisi kerja bagi kaum muda di daerah pedesaan."

Sebagai contoh, perusahaan di pedesaan cenderung memiliki liburan lebih sedikit daripada di Tokyo, katanya.

"Kita perlu menciptakan komunitas di mana orang-orang muda dapat mencari nafkah jangka panjang," kata Fujinami yang menambahkan bahwa mensubsidi mereka untuk pindah saja tidak cukup.

Sementara ada sedikit bukti warga kembali ke Nagoro, boneka-boneka Ayano telah menarik perhatian turis asal Amerika Serikat dan Prancis.

"Sebelum saya mulai membuat orang-orangan sawah, tidak ada yang berkunjung. Sekarang banyak orang berkunjung ke sini," katanya.

"Saya harap Nagoro hidup kembali dan banyak orang datang ke sini untuk jalan-jalan."

"Saya tidak tahu bagaimana rupa Nagoro dalam 10 atau 20 tahun ... tapi saya akan terus membuat boneka." (ard)