Kawasaki, Penyakit Asal Jepang yang Intai Anak-anak AS

CNN Indonesia | Kamis, 02/05/2019 15:51 WIB
Kawasaki, Penyakit Asal Jepang yang Intai Anak-anak AS ilustrasi penyakit kawasaki (Istockphoto/designer491)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit kawasaki menjadi salah satu penyakit yang masih ramai dibicarakan. Sejak awal tahun, penyakit ini masih merebak di Amerika Serikat, khususnya di San Diego County, California. Sampai Rabu (22/4) lalu, tercatat sebanyak 50 anak didiagnosis positif menderita penyakit kawasaki. 

"Penyakit kawasaki buat saya adalah paling misterius dalam dunia kedokteran anak kini karena, jawabannya mungkin berhadapan dengan kami," kata Jane Burns, profesor pediatrik di UC San Diego dikutip dari KPBS

Direktur Kawasaki Disease Reasearch Center ini pun menambahkan kebanyakan pasien ditangani cukup awal sehingga mencegah kerusakan jantung.


Apa itu penyakit kawasaki?

Penyakit kawasaki pertama kali muncul di Jepang pada 1960-an dan Hawaii pada sekitar 1970-an. Penyakit menyerang anak-anak usia sekitar 6 bulan hingga 5 tahun dan tak jarang menyerang anak-anak yang lebih tua serta remaja. Gejalanya bisa beragam pada anak sehingga kadang terjadi salah diagnosis. 


"Anak biasanya demam, timbul ruam merah, mata memerah, kelenjar getah bening bengkak, dan bengkak pada tangan dan kaki. Mereka juga bisa mengalami bibir merah dan pecah-pecah, dan kadang karena bengkak, kulit terkelupas pada sekitar jari tangan," jelas Michael Portman, kardiolog pediatrik di Seattle Children's Hospital dikutip dari Health

Anak-anak yang terkena penyakit ini kebanyakan bisa pulih seperti sedia kala. Namun sekitar 7 persen pasien bisa mengalami komplikasi serius yang disebut aneurisma arteri koroner. 

"Ini adalah kantung-kantung kecil yang membengkak di arteri yang memasok darah ke jantung, dan mereka dapat menyebabkan pembekuan dan menghambat aliran darah dan benar-benar menyebabkan serangan jantung," jelas dia. 

Penyakit kawasaki merupakan kondisi autoimun sehingga penyebabnya ialah sistem imun tubuh yang terlalu aktif dan menyerang kekebalan tubuh sendiri. Namun ada teori lain yang menyebut bahwa pola cuaca turut berkontribusi pada kemunculan penyakit. 

Jennifer Burney, ahli lingkungan meyakini biang kerok dari penyakit ini ialah aliran udara yang menyeberangi Samudera Pasifik dari Asia ke San Diego. Aliran udara timbul dari sistem cuaca yang tak biasa dan badai. Efeknya, temperatur saat siang dan malam lebih tinggi dari biasanya dan ini mengurangi aliran ke arah Pasifik. 


Dari risetnya, Burney melihat ada aerosol yang mengisi udara dengan partikel debu mengambang dan serpihan dari sumber alam sama seperti polusi ciptaan manusia. Namun belum bisa dipastikan apakah ini yang jadi penyebab utama. 

Di sisi lain, para dokter pun tidak melihat penularan penyakit kawasaki dari anak ke anak lain. Ini tak seperti flu yang menular lewat batuk atau bersin. 

"Kami tidak melihat penyakit kawasaki menular seluruh anggota keluarga seperti flu atau demam biasa. Jika satu anak sakit, sepertinya anak lain tidak akan sakit karena ketularan," kata Portman. 

Menurut Portman, para orang tua musti waspada akan gejala-gejala yang timbul. Biasanya timbul demam selama lebih dari lima hari plus timbul ruam merah. Jika antibiotik tidak mempan untuk demam, maka orang tua musti curiga ini penyakit kawasaki. (els/chs)