Surat dari Rantau

Menjadi Minoritas yang Dihormati di Fiji

Abdul Aziz, CNN Indonesia | Sabtu, 18/05/2019 13:39 WIB
Menjadi Minoritas yang Dihormati di Fiji Pulau Denarau di Fiji. (Foto: Istockphoto/Donyanedomam)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pagi itu cuaca di Fiji sangat cerah dan cenderung tenang, sehingga saya cukup yakin puasa tahun ini akan lebih menantang.

Maklum saja iklim di Fiji tidak jauh berbeda dengan Indonesia, meskipun negara yang memiliki nama lengkap Republik Kepulauan Fiji ini terletak cukup jauh dari ujung paling timur Indonesia, tepatnya di Selatan Samudera Pasifik.

Namun ternyata cuaca mendadak berubah 180 derajat, beberapa saat menjelang azan Zuhur berkumandang.


Walau iklim sama seperti di Indonesia, namun cuaca yang tak menentu dan udara dingin yang suka mendadak datang adalah salah satu 'keistimewaan' yang dimiliki Fiji.

Saya tiba di Fiji pada bulan Agustus 2017, tujuannya tidak lain adalah berbagi ilmu tentang agama Islam yang saya miliki setelah menimba ilmu di Turki. Saya mendapat pekerjaan sebagai guru agama Islam di sini.

Saat itu Fuji Muslim League menjalin kerjasama dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia, atau yang dikenal dengan nama Pesantren Sulaimaniyah.

Kemudian Fiji Muslim League meminta tenaga pengajar dan dikirimlah tiga orang tenaga pengajar, termasuk saya.

Populasi umat Islam di Fiji sangatlah sedikit, hanya sekitar enam persen dari total populasi penduduk Fiji yang tidak mencapai 1 juta orang.

Ini adalah salah satu yang membuat saya agak kaget karena tempat ini sangatlah sepi, maklum saja saya tumbuh dan besar di Jakarta yang padat.

Saya mengisi hari dengan mengajar ilmu agama Islam, biasanya kegiatan dilakukan seusai anak-anak pulang sekolah.

Kebanyakan murid yang saya ajar di Fiji adalah keturunan Pakistan dan India, meskipun ada juga beberapa warga asli Fiji yang sudah memeluk agama Islam.

Jika bicara soal menu buka puasa, hidangan utama yang menjadi idaman adalah Palau, yakni sejenis nasi kebuli khas India yang rasanya sarat rempah.

Namun menu takjilnya tidak jauh dengan yang ada di Indonesia, serba manis. Bahkan pilihan makanan dan minumannya menurut saya lebih kaya di Indonesia.

Selama bulan Ramadan, saya jarang mengikuti aktivitas di KBRI Fiji karena mengemban tugas menjadi imam salat Tarawih di masjid Samabula.

Dari informasi yang saya dapat, setiap pekan KBRI Fiji mengadakan buka puasa bersama dan dilanjutkan hingga solat Tarawih usai.

Satu lagi kebiasaan di Fiji selama bulan Ramadan adalah mengkhatamkan Alquran selama solat tarawih, sehingga surat sebanyak satu juz akan dibacakan dalam rangkaian salat Tarawih 23 rakaat.

Meskipun mayoritas masyarakat di Fiji beragama Kristen dan Hindu, namun toleransi beragama sangat dijunjung tinggi.

Bahkan setiap momen buka puasa, tidak sedikit sponsor yang 'berlomba-lomba' dalam memberikan hidangan buka puasa kepada umat muslim.

Belum lagi kebijakan pemerintah Fiji yang memberikan libur khusus warga muslim selama tiga hari di saat Lebaran. Hal inilah yang membuat kerukunan antar umat beragama terasa sangat erat di sini.

[Gambas:Video CNN]

---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(agr/agr)