Mulai Pekan Ini Kemacetan Bakal Terjadi di Gunung Everest

AFP, CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 16:06 WIB
Mulai Pekan Ini Kemacetan Bakal Terjadi di Gunung Everest Suasana pendakian di Gunung Everest. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Kota tenda' di kaki Gunung Everest ramai oleh pendaki gunung yang bersiap untuk mendaki dalam musim pendakian tersibuk pada tahun ini. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan kepadatan yang bakal terjadi di puncak dunia itu.

Sejak Edmund Hillary dan Tenzing Norgay melakukan pendakian pertama pada tahun 1953, lebih dari 4.000 pendaki telah mencapai puncak Everest, menurut data resmi milik Himalayan Database.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pendaki mengalami peningkatan, yang menyebabkan persaingan ketat antara kelompok penyedia jasa pendakian.



Tetapi meningkatnya jumlah pendaki berarti meningkatkan risiko keselamatan yang lebih besar, salah satunya kemacetan akibat kelompok besar mendaki punggung gunung sehingga kelompok kecil terpaksa harus menunggu di tengah angin dingin dan tipisnya oksigen.

Sebuah foto yang memperlihatkan kemacetan besar di bawah puncak pada 2012 membuat banyak kritik akan manajemen keramaian Nepal. Tak sedikit yang meminta pemerintah setempat mengurangi jumlah izin pendakian yang diterbitkan.

Nepal saat ini memberikan izin kepada semua yang mendaftar dan bersedia membayar US$11 ribu (sekitar Rp158 juta) per orang untuk mendaki puncak setinggi 8.848 meter itu.

Tahun ini mereka telah membagikan 378 izin pendakian, menurut data yang dikutip dari Departemen Pariwisata.

Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu, yang hanya sebanyak 373 izin.

Sebagian besar calon pemandu Everest akan membutuhkan bantuan pemandu Nepal untuk mencapai puncak, artinya sekitar 750 pendaki akan berbarengan menapaki jalan yang sama ke puncak dalam beberapa minggu mendatang.

Dan setidaknya 140 lainnya bersiap untuk mengukur Everest menggunakan rute utara dari Tibet, menurut operator ekspedisi.


Beri batasan

Musim semi adalah waktu yang paling sibuk di gunung ini, karena angin yang dingin dan suhu yang menusuk tulang sedikit mereda.

Meski begitu musim pendakiannya singkat, dengan kenaikan diperkirakan akan dimulai dalam beberapa hari mendatang dan biasanya berakhir pada akhir Mei atau minggu pertama Juni.

Alan Arnette dari Blogger Mountaineering mengatakan bahwa masalah keamanan bisa muncul pada akhir musim, karena pendaki mulai menghalalkan segala cara untuk bisa sampai di puncak.

"Mungkin Nepal harus membatasi jumlah pendaki, seperti yang dilakukan China atau Dinas Taman AS untuk Denali," kata Arnette.

"Tetapi saya ragu Nepal akan melakukannya, karena terlalu banyak uang yang dipertaruhkan dan mereka tampaknya tidak dapat menolak bisnis, terlepas dari risikonya," katanya.

Nepal telah meraup lebih dari US$4 juta dari biaya izin mendaki Everest saja pada tahun 2019, sumber pendapatan yang sangat dibutuhkan untuk negara yang kekurangan uang ini.

Operator ekspedisi Dawa Steven Sherpa dari Asian Trekking mengakui bahwa walaupun "ada beberapa kekhawatiran tentang kepadatan pendaki", perusahaan pendaki gunung berusaha lebih baik dalam manajemen keramaian dan bekerja bersama untuk menjadwalkan tim mereka.

"Agak terlalu dini untuk berbicara tentang (apakah) cuaca akan berdampak pada hari-hari puncak," katanya.


Petualangan hidup

Banyak pendaki yang saat ini menyelesaikan aklimatisasi mereka.

Di antara mereka adalah pendaki gunung ulung Kami Rita Sherpa (49) yang merencanakan pendakian puncaknya yang ke-23, memecahkan rekornya sendiri untuk bisa berada di puncak tertinggi Everest.

Di musim ini, rute Nepal juga akan dilalui lebih banyak pendaki perempuan daripada sebelumnya, dengan 76 pendaki perempuan bersiap menuju puncak.

"Sangat sulit membuat rekor dalam industri yang dikuasai kaum pria, namun kami akan tetap mendaki dan melakukan yang terbaik," kata Nima Doma Sherpa kepada AFP bulan lalu.

Pendaki Amerika Cory Richards dan Esteban Topo Mena dari Ekuador berusaha untuk membuat rute baru di Everest, satu dekade setelah tim Korea Selatan berhasil naik gunung dengan membuka jalur baru sepanjang wajah barat daya.

"Tubuh dan pikiran kami terasa kuat dan kami bersemangat untuk petualangan hidup kita," kata Mena dalam sebuah unggahan Instagram pada hari Selasa.

Duo ini akan mendaki dengan gaya alpine, alias tanpa oksigen tambahan.

(ard)