Objek Wisata Sejarah di Peneleh yang Terabaikan

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 08:39 WIB
Objek Wisata Sejarah di Peneleh yang Terabaikan Ilustrasi objek bersejarah yang terabaikan. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneleh merupakan salah satu kampung kuno di Surabaya yang sudah berusia ratusan tahun. Kampung ini menjadi saksi perjalanan Surabaya, bahkan Indonesia, dalam menghadapi pergantian zaman.

Salah satu jejak sejarah yang berusia ratusan tahun terekam pada artefak-artefak yang hingga kini masih bisa dilihat, mulai dari makam, masjid, pasar, perkampungan, hingga rumah-rumah bersejarah.

Peninggalan itu tidak hanya berupa tempat yang masih aktif hingga kini yang berupa perkampungan dan pasar, tetapi juga bangunan kuno dan situs lainnya.


Mengutip Antara, Senin (20/5), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun sempat mengunjungi Kampung Peneleh dan memulai penelusurannya dari Jalan Lawang Seketeng IV RW 15 Kelurahan Peneleh.

Beberapa sesepuh di tempat itu berusaha menjelaskan setiap bangunan kuno yang ada di tempatnya. Hingga akhirnya tibalah ia di Langgar Dukur Kayu Lawang Seketeng, yang konon dibangun sejak 1893.

Bangunan langgar tingkat dua itu memang terlihat kuno dan berbeda dengan bangunan-bangunan di sampingnya.

Meskipun kuno, namun bangunan itu terlihat bersih, seakan tak pernah lupa disapu. Di depan langgar itu, warga juga menunjukkan Al-Quran kuno yang tidak dilengkapi nomor surat dan juznya.

Sementara itu peninggalan pada masa Belanda adalah makam Belanda Peneleh yang berdiri pada tahun 1814 Masehi, yang dianggap pemakaman modern tertua di dunia.

Peninggalan pada masa kolonial ini bisa dilihat dari banyaknya rumah berarsitektur Indies atau bangunan lama di kampung Peneleh.

Selain makam Belanda, di kampung Peneleh juga terdapat makam-makam lama yang dikeramatkan warga.

Makam-makam ini diduga berasal dari masa ketika Islam pertama masuk ke Jawa, jauh sebelum Belanda datang.

Di antara mereka diketahui kisahnya, tetapi selebihnya memang masih diselimuti misteri. Di antaranya yang kondang adalah makam Nyai Buyut Champa, Buyut Minggir, Buyut Dawa, Buyut Malang dan Buyut Bening. Sayangnya, makam-makam kuno tersebut kurang terawat.

Menurut pengamat bangunan cagar budaya sekaligus Direktur Sjarikat Poesaka Surabaya, Freddy H. Istanto, jika makam Belanda di Peneleh dirawat, maka akan bernilai tinggi, bahkan tidak kalah dengan makam Pere Lachaise di Prancis.

Freddy menilai pemerintah kota setempat tidak memiliki visi pelestarian bangunan dan situs cagar budaya, sehingga banyak bangunan cagar budaya yang tidak terawat bahkan sebagian ada yang dibongkar oleh pemiliknya.

"Surabaya Kota Pahlawan, Surabaya Kota Sejarah. Orientasi pembangunannya jangan mengesampingkan nilai sejarah. Banyak gedung bertingkat bermunculan. Ini bisa mengancam eksistensi bangunan serta situs cagar budaya," katanya.

Menurut dia, makam Peneleh jika dirawat dengan baik akan jadi obyek wisata heritage.

Ia mengatakan bahwa sudah ada desain makam Peneleh hasil desain pakar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), namun hingga saat ini belum ditindaklanjuti.

(agr)