Minim Pengetahuan, Menstruasi Masih Jadi Bahan Bully

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 18:58 WIB
Minim Pengetahuan, Menstruasi Masih Jadi Bahan Bully Ilustrasi. (Istockphoto/jacoblund)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menstruasi atau haid normal dialami perempuan. Haid memberi tanda bahwa secara biologis, perempuan siap mengandung. Namun, pemahaman yang minim membuat menstruasi malah jadi bahan perundungan (bullying) di kalangan remaja.

"Eh, kamu jorok, kamu dying [sekarat], sakit ya dibilang gitu. Mereka [anak laki-laki] ngejek karena enggak tahu [menstruasi itu apa]," ujar Lil'li Latisha, aktris remaja, saat berbagi pengalaman dalam gelaran Menstrual Hygiene Day 2019 di Kantorkuu Coworking Space, Agro Plaza, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (28/5).

Pemeran Happy dalam film Kulari ke Pantai ini bercerita, ejekan itu tak hanya diterimanya, tetapi juga teman-teman sebayanya. Lil'li hanya 1 dari 39 persen anak perempuan yang di-bully saat mengalami menstruasi. Angka ini merupakan temuan dari riset yang dilakukan oleh Yayasan Plan International Indonesia bekerja sama dengan The SMERU Research Institute pada 2018 lalu.


"Riset menjadi jalan untuk mengetahui manajemen kebersihan sekolah, kendala, serta tabu yang masih melekat pada remaja selama menstruasi," ujar Silvia Devina dari Yayasan Plan International.

Peneliti mengambil sampel dari SD dan SMP di tiga provinsi seperti DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, serta Nusa Tenggara Timur.

Selain menemukan sebagian siswi mengalami perundungan, riset juga mendapatkan sebanyak 63 persen orang tua siswi tak pernah menjelaskan ihwal menstruasi pada si buah hati. Sebanyak 45 persen di antaranya bahkan merasa tak perlu menjelaskan pada anak laki-lakinya lantaran merasa tak pantas.

Perundungan yang diterima remaja perempuan saat menstruasi membawa dampak serius. Sebanyak 56 persen siswi mengalami keluhan psikis seperti emosional, sensitif, malas, dan perubahan nafsu makan.

Silvia mengatakan bahwa perundungan terjadi karena ketidaktahuan. Remaja laki-laki, lanjut dia, sebaiknya diberi pemahaman tentang menstruasi sebagai proses normal yang dialami perempuan.

"Kita semua lahir dari rahim ibu. [Pemahaman ini] agar remaja laki-laki mulai peduli, supaya enggak ngejek," kata Silvia.

Atas fakta tersebut, riset mengajukan tiga rekomendasi. Silvia berkata, perlu ada peningkatan pemahaman berbagai pihak baik dari siswa, siswi, masyarakat, dan pemerintah tentang menstruasi dan MKM.

"Kemudian fokus intervensi di usia SD dan SMP untuk menyiapkan siswi yang belum menstruasi," kata Silvia.

Selain itu, riset juga merekomendasikan dijadikannya menstruasi dan MKM sebagai bagian dari kurikulum sekolah.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)