Diet DNA, Kerja Sama Nutrisi dan Faktor Genetik

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 07:23 WIB
Diet DNA, Kerja Sama Nutrisi dan Faktor Genetik Ilustrasi DNA. (Pixabay/Qimono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beda orang, berbeda pula nutrisi yang dibutuhkan. Hal ini pula yang mungkin menjawab mengapa program diet tertentu tak berfungsi sama pada setiap orang. Untuk itulah, hadir diet DNA yang diatur berdasarkan faktor genetik seseorang.

Selain memengaruhi warna mata dan postur tubuh, warisan DNA orang tua juga mencakup sifat-sifat yang lebih kompleks seperti risiko penyakit dan semua aspek metabolisme, termasuk nutrisi. Alur pikir sedemikian rupa secara langsung membuat metabolisme tubuh pada setiap orang pun berbeda.

"Banyak orang tak menyadari tentang adanya interaksi signifikan antara faktor genetik dan diet," tulis ahli nutrisi, dr Melina Jampolis, mengutip CNN. Interaksi tersebut mengarah pada bidang nutrigenetik. Istilah ini melihat bagaimana gen menentukan respons tubuh terhadap nutrisi.


Tak semua orang mendapatkan hasil yang sama dari program-program diet tertentu. Jampolis menduga, hal ini disebabkan oleh variasi genetik setiap individu yang saling berbeda.

Salah satu nutrisi yang tak banyak mendapat perhatian adalah kolin, yang umumnya ditemukan dalam kuning telur. Saat banyak orang mengampanyekan pengurangan kolesterol demi kesehatan jantung, telur menjadi tidak sehat. Sementara pada beberapa orang, lanjut Jampolis, kekurangan kolin berpengaruh terhadap sejumlah gangguan kesehatan.

"Hal yang sama juga berlaku pada sejumlah nutrisi lain seperti vitamin D, natrium, dan lemak jenuh," tulis Kolin.

Peran nutrigenetik menjadi lebih sulit diurai saat sampai pada persoalan penurunan berat badan. Obesitas, kata Jampolis, adalah penyakit multifaktor yang kompleks. Di dalamnya ada peran faktor genetik dan nutrisi.

Lantas, apakah intervensi diet yang dipadu dengan faktor genetik dapat memberikan rekomendasi yang tepat? Jawabannya adalah iya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh pakar nutrigenetik dari University of Toronto, Profesor Ahmed El-Sohemy menjadi penelitian pertama yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengurangan garam dengan pengungkapan informasi genetik.

Diet DNA, kata Jampolis, menawarkan program penurunan berat badan berdasarkan faktor yang dipersonalisasi dan rekomendasi gaya hidup yang dilihat berdasarkan DNA.

Kendati demikian, Jampolis mengatakan bahwa bidang nutrigenetik masih berada dalam tahap awal perkembangan. "Masih banyak yang harus dipelajari," katanya.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)