Sulitnya Mengenali Mayat Pendaki Everest

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 05:26 WIB
Sulitnya Mengenali Mayat Pendaki Everest Suasana kepadatan pendakian di Everest. (Nirmal Purja/@Nimsdai Project Possible via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tubuh empat pendaki yang tewas di Everest dan meninggalkan sedikit petunjuk tentang identitas mereka telah memberi tantangan baru bagi otoritas Nepal yang berusaha mengendalikan gelombang pendakian di puncak tertinggi di dunia.

Mayat yang ditemukan di sekitar kerangka pendaki lain itu saat ini berada di kamar mayat Kathmandu sejak dua minggu lalu.

Penemuan mayat pendaki itu bersamaan dengan operasi penurunan 11 ton sampah dari puncak Everest.



Polisi dan pejabat pemerintah mengakui mereka menghadapi tantangan besar untuk mengidentifikasi pendaki yang tewas dan mengirim mayatnya kembali ke negara asal.

Mereka bahkan tidak bisa memastikan berapa lama jenazah itu berada di lereng hingga ditemukan.

Sebuah tim pembersihan yang diorganisir pemerintah mengambil mayat-mayat di antara base camp Everest dan Kol Selatan dalam ketinggian 7.906 meter (25.938 kaki) dalam musim pendakian tahun ini.

"Mayat-mayat itu tidak dalam keadaan yang dapat dikenali, hampir tersisa tulang. Tidak ada bagian wajah yang bisa membantu mengidentifikasi mereka," kata pejabat senior polisi Phanindra Prasai kepada AFP.

"Kami telah mengarahkan rumah sakit untuk mengumpulkan sampel DNA sehingga mereka dapat dicocokkan dengan keluarga yang melaporkan kehilangan kerubutnya."

Akhirat Everest

Polisi Nepal sedang melalui proses administrasi sehingga mereka dapat meminta bantuan dan menginformasikan misi diplomatik asing tentang mayat-mayat itu. Tetapi beberapa takut misteri itu bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk dipecahkan.

"Ini tugas yang sulit," kata Ang Tsering Sherpa, mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal.

"Mereka perlu berbagi lebih banyak informasi tentang mayat, terutama lokasi tempat mayat ditemukan, dan menghubungi operator ekspedisi."


Lebih dari 300 orang tewas di gunung setinggi 8.848 meter (29.029 kaki) itu sejak ekspedisi untuk mencapai puncak dimulai pada 1920-an.

Tidak diketahui berapa banyak mayat yang masih tersembunyi di es, salju, dan celah dalam.

Tubuh George Mallory, pendaki Inggris yang hilang selama upaya 1924 di puncak, hanya ditemukan pada tahun 1999. Mayat kawannya yang ikut mendaki, Andrew Irvine, tidak pernah ditemukan.

Keduanya juga masih belum diketahui apakah mereka berhasil mencapai puncak.

Beberapa tubuh, masih dalam peralatan pendakian berwarna-warni, telah menjadi ikon dalam perjalanan ke puncak, mendapatkan julukan seperti "Green Boots" dan "Sleeping Beauty".

"Green Boots" diyakini sebagai pendaki India yang meninggal dalam ekspedisi 1996. Tubuh itu diyakini telah dipindahkan dari jalur utama pada 2014.

"Sleeping Beauty" disebut Francys Arsentiev, yang merupakan wanita Amerika pertama yang mencapai puncak tanpa botol oksigen pada tahun 1998, tetapi yang meninggal dalam perjalanan turun.

Suaminya meninggal saat mencoba menyelamatkannya dan ekspedisi tahun 2007.

Pengambilan mayat di dataran tinggi adalah topik kontroversial dalam komunitas pendakian.

Biayanya ribuan dolar karena diperlukan delapan sherpa dan juga membahayakan nyawa penyelamat. Beberapa keluarga lebih suka membiarkan tubuh orang yang mereka cintai bersemayam di gunung.

Pemanasan global membuat gletser mencair dan mengungkap mayat dan kerangka para pendaki, bahkan yang sudah hilang bertahun-tahun.

(ard)