Hutan Mangrove Tongke-Tongke Mulai Bersolek

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 11:30 WIB
Hutan Mangrove Tongke-Tongke Mulai Bersolek Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hutan mangrove Tongke-Tongke, yang awalnya merupakan usaha dari warga sekitar untuk mengatasi banjir rob, kini menjadi destinasi wisata andalan Pemerintah Kabupaten Sinjai dan sekaligus Provinsi Sulawesi Selatan.

Sejak pengelolaannya dialihkan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sinjai pada tahun 2017, secara bertahap kawasan hijau ini mulai dibenahi.

Pada 2017, tepatnya ketika Menteri Kelautan dan Perikanan berkunjung di kawasan wisata mangrove Tongke-Tongke dan melihat kondisi jembatan kayu untuk menelusuri hutan itu sudah mulai lapuk, memberikan bantuan dengan pembangunan jembatan kayu untuk melingkari hutan tersebut.


"Kemudian untuk mengoptimalkan kawasan wisata itu, pada 2018 diujicobakan menarik retribusi dengan karcis masuk seharga Rp5.000 per orang," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai, Yuhadi Samad, seperti yang dikutip dari Antara, Senin (17/6).

Hasil retribusi itu yang kemudian masuk ke kas daerah pada akhir 2018 tercatat sekitar Rp300 juta, suatu angka yang di luar dugaan bagi pihak Pemkab Sinjai.

Konstribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kawasan wisata mangrove Tongke-Tongke diyakinkan ke masyarakat untuk dikembalikan untuk pengembangan dan penambahan fasilitas di lokasi tersebut.

Kepedulian konservasi hutan mangrove di Desa Tongke-Tongke ini, termasuk untuk pengembangan objek wisatanya, Yuhadi melanjutkan, Pemkab Sinjai mendapatkan dukungan dana dari Kementerian Pariwisata pada 2019 melalui dana alokasi khusus (DAK).

Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan tambahan sarana dan prasarana di Tongke-Tongke seperti lokasi tracking, kawasan kuliner, dan pos informasi.

Selain dana dari Kementerian Pariwisata, Pemkab Sinjai juga memperoleh dana dari Pemrov Sulsel untuk melengkapi sarana dan prasarana yang ada di lokasi itu.

Menurutnya sebelum melakukan pembangunan dilakukan studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dan setelah rampung diprediksi pada Juli 2019 pengerjaan proyek dari dua mata anggaran itu sudah berjalan, dengan memprioritaskan pekerjanya dari warga setempat.

Setidaknya kelak akan ada pusat jajanan/kuliner dengan memberdayakan 30-40 orang warga setempat, termasuk pusat penjualan cenderamata yang dapat menyerap sekitar 20 orang tenaga kerja.

Dengan pelibatan semua stakeholders termasuk instansi terkait, diharapkan pelatihan keterampilan, penambahan wawasan terkait layanan wisata kepada warga Desa Tongke-Tongke akan menjadi bekal utama dalam menjemput asa dari optimalisasi destinasi wisata mangrove ini.

Melalui peningkatan 'capacity building' ini, warga Desa Tongke-Tongke dan sekitarnya memperoleh imbas positif dalam meningkatkan kesejahteraannya dan sekaligus pemerintah daerah menerima PAD lebih besar lagi dari hasil kunjungan wisatawan.

Pemerintah Kabupaten Sinjai juga fokus untuk memajukan sektor pariwisata, yang bersinergi dengan sektor pertanian dan kelautan.

Alasan utamanya adalah Kabupaten Sinjai yang terdiri dari wilayah daratan, pesisir, dan pegunungan memiliki potensi yang kompleks untuk dikembangkan secara terintegrasi.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)