Lore Lindu, Lokasi Favorit Kegiatan Pengamatan Burung di Poso

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 16:48 WIB
Lore Lindu, Lokasi Favorit Kegiatan Pengamatan Burung di Poso Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) merupakan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. TNLL terletak di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya sekitar 60 kilometer selatan kota Palu.

Lore Lindu memiliki fauna dan flora endemik Sulawesi, serta panorama alam yang menarik karena terletak di garis Wallace yang merupakan wilayah peralihan antara zona Asia dan Australia.

Namun kawasan ini rupanya justru paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan dengan minat khusus, tepatnya para pengamat burung.


"Berdasarkan pengamatan kami, lebih banyak pengamat burung yang datang tiap tahun dibandingkan wisatawan lainnya," kata pengamat burung Wilayah Napu, Yudah Mondolu, seperti yang dikutip dari Antara, Senin (17/6).

Lokasi yang sering menjadi pusat pengamatan burung, ia melanjutkan, adalah daerah puncak dingin. Tepatnya Anaso dan Danau Tambing yang berada di atas Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

Menurutnya wisatawan pengamat burung paling banyak berkunjung di bulan Juli-Oktober.

Dalam sekali kunjungan, ia menambahkan, bisa sampai lima kelompok yang satu kelompoknya rata-rata berjumlah delapan orang.

Mondolu menuturkan biasanya waktu kunjungan untuk melakukan kegiatan pengamatan burung itu, memakan waktu selama lima hari di dalam hutan.

Dia mengatakan jenis burung yang paling banyak diamati yakni jenis burung endemik Sulawesi dan jenis burung langka.

"Mereka (pengamat burung) didominasi (oleh wisatawan) dari Benua Eropa dan Amerika. Mereka ini bukan penelitian tapi hanya pengamat burung saja," katanya.

"Untuk yang endemik yakni jenis burung rangkong atau julang Sulawesi dan gagak Sulawesi atau "piping crow", sementara untuk jenis burung langka masih dalam pengamatan."

Menurut Mondolu beberapa turis pecinta burung selain mengamati burung dalam hutan, juga mengamati perilaku burung sawah dan danau di Desa Wanga, Kecamatan Lore Peore.

Kunjungan wisatawan dengan minat khusus itu, ia melanjutkan, dapat meningkatkan jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Poso, khususnya jika dapat dikembangkan lebih baik..

Ia menjelaskan dalam satu kali kunjungan, para pengamat burung itu dikenakan tarif Rp150 ribu per orang.

Selain itu, ia melanjutkan, turis yang tidak menginap dalam hutan pun akan menambah penghasilan penginapan di wilayah Napu dan sekitarnya.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)