Kini Tersisa Batu, Pasir Pantai Maroko Dijarah Mafia

AFP, CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 19:17 WIB
Kini Tersisa Batu, Pasir Pantai Maroko Dijarah Mafia Pantai Mohammedia di Maroko. (FADEL SENNA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di sekitar komplek apartemen yang menjulang di atas Pantai Monica di barat kota pantai Mohammedia, terlihat gundukan pasir yang belum dijamah cengkeraman penjarah pasir.

Di sana, seperti tempat lain di seluruh destinasi wisata Afrika Utara, gundukan pasir bagai emas yang dicari untuk dijual kembali.

Sebuah laporan bulan lalu oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) tentang eksploitasi pasir berlebihan menuduh bahwa "mafia pasir" telah menghancurkan garis pantai Maroko.



"Pasir telah menghilang di sepanjang garis pantai seluruh kota," keluh aktivis lingkungan Jawad, merujuk pada kawasan Mohammedia, di Atlantik antara Rabat dan Casablanca, seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (17/6).

Aktivis lingkungan berusia 33 tahun itu memimpin Anpel, sebuah LSM lokal yang didedikasikan untuk kelestarian pantai.

"Kalau begini terus, hanya batu yang tersisa untuk kita pandangi," kata Adnane, anggota dari Anpel.

Lebih dari setengah pasir yang dikonsumsi setiap tahun oleh industri konstruksi Maroko - sekitar 10 juta meter kubik - diekstraksi secara ilegal, menurut UNEP.

"Para penjarah datang di tengah malam, terutama di musim sepi turis," kata seorang penduduk setempat di depan rumahnya yang megah di tepi perairan Monica.

"Tapi mereka lebih jarang melakukannya sekarang, karena daerah itu sedang ramai. Dalam hal apapun, tidak ada lagi yang bisa diambil," tambahnya.

Pasir menyumbang empat perlima dari susunan beton dan - setelah air - menjadi sumber daya yang paling banyak dikonsumsi di dunia.

Pantai dan sungai di penjuru bumi telah dieksploitasi, baik secara legal maupun ilegal, menurut UNEP.


Keterlibatan resmi

Di Maroko, "pasir sering diambil dari pantai untuk membangun hotel, jalan, dan infrastruktur terkait pariwisata lainnya", menurut UNEP.

Karena itu garis pantai menyusut dan mengakibatkan erosi pantai.

"Pembangunan yang berkelanjutan kemungkinan akan mengarah pada ... kehancuran daya tarik alam bagi pengunjung - pantai itu sendiri," tulis peringatan dalam laporan tersebut.

Pencuri pasir dari pantai atau bukit di Maroko bisa dihukum lima tahun penjara.

Diangkut oleh keledai, sepeda pengiriman dan truk besar, pasir-pasir pantai digerayangi dari utara ke selatan, sepanjang garis pantai yang membentang dari Laut Mediterania ke Atlantik.

"Di beberapa pantai bagian utara pasir hampir menghilang," kata seorang aktivis ekologi di Tangiers.

"Ada proyek besar di pantai Tangier karena adanya proyek real estat di sekitarnya," lanjutnya.

Di selatan, laporan UNEP mencatat, "penyelundup pasir telah mengubah pantai besar menjadi lanskap berbatu" antara Safi dan Essaouira.

Aktivis Jawad mengatakan ada "penjarahan skala kecil, seperti di sini di Mohammedia".

Tetapi "kemudian ada perdagangan intensif dan terstruktur oleh jaringan yang terorganisir, yang beroperasi dengan keterlibatan beberapa pejabat".

Sementara mafia pasir beroperasi sebagai penyelundup, "tokoh-tokoh utama - anggota parlemen atau pensiunan tentara - membagikan izin yang memungkinkan mereka untuk mengeksploitasi kekayaan alam secara berlebihan", tambahnya.


Mafia terorganisir

Ponsel pintar sederhana membantu memvisualisasikan tingkat bencana akibat penambangan pasir ilegal ini.

Melalui peta Google Earth, aktivis Adnane menunjukkan hutan pantai yang rusak sekitar 200 kilometer di selatan Casablanca.

Dengan mata tertuju pada layar, ia dengan cermat mengamati setiap bidang tanah.

"Di sini, di dekat Safi, mereka telah mengambil pasir di atas lahan seluas tujuh kilometer. Itu adalah daerah yang dieksploitasi oleh seorang pensiunan jenderal, kini tidak ada yang tersisa untuk diambil," katanya.

Adnane menunjuk ke daerah lain - dieksploitasi, katanya, oleh seorang politisi yang memiliki izin untuk "area seluas dua hektar".

Namun sebaliknya, ia "mengambil berkilometer-kilometer" pasir.

Perlindungan lingkungan diperuntukkan sebagai prioritas oleh Maroko, dalam pernyataan muluk setelah negara itu menjadi tuan rumah konferensi iklim internasional COP22 2016.

Ditanya oleh AFP tentang langkah-langkah untuk memerangi penambangan pasir yang tidak terkendali, Sekretaris Negara Bidang Energi Nezha El Ouafi menunjuk ke "sebuah rencana perlindungan pantai nasional (yang) sedang dalam proses divalidasi".

Rencana itu menjanjikan "mekanisme evaluasi, dengan program perlindungan berstatus tinggi", katanya.

[Gambas:Video CNN]


(ard)