Alasan Azerbaijan Disebut Negara Api

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 17:56 WIB
Alasan Azerbaijan Disebut Negara Api Suasana komplek api abadi Yanar Dag. (Istockphoto/master2)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Api ini telah terbakar selama 4.000 tahun dan tidak pernah padam," kata Aliyeva Rahila.

"Bahkan saat hujan turun, salju, angin, tidak pernah padam."

Api setinggi 10 meter itu berada di atas bukit. Saat cuaca cerah, kobaran api abadi ini seakan membuat suasa semakin gerah.



Yanar Dag, atau gunung terbakar, berada di Absheron Peninsula, Azerbaijan. Rahila bekerja di sana sebagai pemandu wisata.

Yanar Dag hanya satu dari banyak gas alam yang menjadi objek wisata di sini. Gas alam memang menjadi hasil bumi yang dibanggakan Azerbaijan.

Penjelajah legendaris Marco Polo sempat menulis fenomena yang awalnya dianggap aneh ini pada abad ke-13.

Fenomena gas alam juga menjadi legenda populer di kalangan pedagang Jalur Sutera pada saat itu.

Sejak saat itu Azerbaijan dijuluki sebagai Negeri Api.


Yanar Dag sempat memainkan peran penting dalam agama Zoroaster kuno, yang didirikan di Iran dan berkembang di Azerbaijan pada milenium pertama sebelum Masehi.

Bagi pemeluk Zoroaster, api adalah penghubung antara manusia dan dunia supernatural serta media yang memiliki wawasan dan kebijaksanaan spiritual. Api dianggap memurnikan, menopang kehidupan dan bagian vital dari ibadat.

Saat ini, sebagian besar pengunjung yang mendatangi Yanar Dag adalah turis, bukan pemuja Zoroaster yang berharap pencerahan.

Rahila mengatakan kalau Yanar Dag paling indah saat dikunjungi pada malam hari atau musim dingin.

Banyak orang berpendapat bahwa Yanar Dag baru terbakar pada 1950-an. Butuh waktu 30 menit berkendara ke utara dari pusat Baku untuk sampai ke sini.

Untuk mengetahui informasi lebih dalam mengenai Yanar Dag, pengunjung bisa mendatangi Kuil Api Ateshgah di timur Baku.

"Sejak zaman kuno, mereka berpikir bahwa Tuhan mereka ada di sini," kata Rahila menunjukkan komplek pentagonal yang dibangun pada abad ke-17 dan ke-18 oleh pemukim India di Baku.

Ritual api di situs ini berasal dari abad ke-10 atau sebelumnya. Nama Ateshgah berasal dari bahasa Persia untuk rumah api dan pusat dari kompleks ini adalah kuil altar dengan atap berbentuk kubah, dibangun di atas ventilasi gas alam.

Api alami dan abadi membakar di altar tengah hingga tahun 1969, tetapi belakangan ini api diumpankan dari pasokan gas utama Baku dan hanya dinyalakan saat turis datang.

Komplek ini menjadi museum pada tahun 1975, dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1998, dan hingga saat ini dikunjungi menyambut sekitar 15 ribu pengunjung per tahun.


[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)