Amsterdam Minta Turis Hormati Pekerja Seks

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 11:11 WIB
Amsterdam Minta Turis Hormati Pekerja Seks Suasana kawasan lokalisasi atau red light district De Wallen, Amsterdam, Belanda. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Red light district alias kawasan lokalisasi di Amsterdam bakal mengalami perubahan besar-besaran, dengan salah satu rencana "menutup tirai" rumah-rumah bordil yang beroperasi di sepanjang jalannya.

Femke Halsema, wali kota perempuan pertama di Amsterdam, telah menyajikan empat opsi yang bertujuan melindungi pekerja seks dari kondisi yang merendahkan martabat, mengatasi kejahatan, dan mengurangi dampak buruk pariwisata di kawasan lokalisasi De Wallen Amsterdam.

Distrik De Wallen populer di kalangan turis karena toko-toko seks, kafe, dan keberadaan 330 rumah bordil.



Beberapa kategori pekerja seks di Belanda telah legal sejak 1830, dan diakui sebagai profesi resmi pada tahun 1988.

Tetapi meningkatnya kedatangan turis berkamera yang lebih sering berfoto atau menonton dari luar toko dianggap Halsema bisa membuat malu bagi wanita yang sedang memajang dirinya di di jendela toko.

"Bagi banyak pengunjung, pekerja seks telah menjadi daya tarik untuk dilihat. Dalam beberapa kasus ini disertai dengan perilaku yang mengganggu dan sikap tidak sopan terhadap pekerja seks di jendela," kata Halsema seperti yang dikutip dari CNN Travel pada Selasa (9/7).


Empat skenario telah diusulkan, termasuk menutup tirai di jendela sehingga pekerja seks tidak dapat terlihat dari jalan, mengecilkan jendela toko, memindahkan rumah bordil ke lokasi baru dan hotel khusus pekerja seks.

Rencana tersebut bertujuan untuk melindungi pekerja seks dari gangguan turis dan juga untuk memerangi pelanggaran perdagangan manusia.

Keempat proposal akan dibahas dengan pekerja seks, penduduk dan bisnis pada bulan Juli, sebelum dibawa ke dewan kota pada bulan September.

Setelah disepakati, rencana tersebut akan dikembangkan menjadi kebijakan baru tentang pekerja seks.

Pada bulan Maret, pemerintah kota mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri tur keliling kawasan lokalisasi, mengutip kekhawatiran tentang pelacur yang diperlakukan sebagai objek wisata.

"Kami tidak menganggap pantas bagi wisatawan untuk melirik pekerja seks," kata anggota dewan kota Udo Kock, yang mengusulkan RUU tersebut.

Amsterdam juga telah berupaya untuk mengatasi masalah overtourism dengan jumlah pengunjung yang diperkirakan meningkat dari 18 juta pada 2018 menjadi 42 juta pada 2030.

Dalam laporan Perspektif 2030-nya, Badan Pariwisata Belanda mengatakan bahwa mereka sekarang fokus dengan "manajemen destinasi" daripada "promosi destinasi", dengan upaya dilakukan untuk mengalihkan perhatian wisatawan ke kota-kota lain di negara itu.


[Gambas:Video CNN]
(ard/ard)