'Daftar Neraka' UNESCO Turut Incar Sawahlunto

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 14:36 WIB
'Daftar Neraka' UNESCO Turut Incar Sawahlunto Pertambangan batubara era kolonial Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO tahun 2019. (Dok. Kementerian Pariwisata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Sawahlunto menjadi perbincangan dunia setelah resmi masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun ini.

Pertambangan batubara era kolonial Ombilin bukan satu-satunya situs yang masuk dalam daftar tersebut, karena terdapat 35 situs budaya dan alam dari belahan dunia lain yang juga diakui UNESCO.

Setelah resmi masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, Ketua Komisi Nasional untuk UNESCO, Arief Rachman, mengatakan bukan tidak mungkin jika Ombilin keluar dari daftar membanggakan tersebut dan masuk daftar Warisan Dunia dalam Bahaya.



Salah satunya seperti Hutan Hujan Tropis Sumatera yang menghuni "daftar neraka" itu pada tahun 2011 karena dianggap kehilangan unsur kelestarian alamnya akibat perambahan hutan yang merusak.

Sawahlunto Juga Bisa Masuk 'Daftar Neraka' UNESCOFoto udara kawasan hutan yang rusak di Lahat, Sumatera Selatan. (ANTARA/Iggoy el Fitra)

Hutan Hujan Tropis Sumatera masuk dalam daftar Warisan Dunia dalam Bahaya bersama 52 situs lain, seperti Pusat Sejarah Wina yang sedang dilanda overtourism.

Gugusan terumbu karang di Great Barrier Reef, Australia, juga sempat masuk daftar tersebut, meski tahun ini sudah keluar setelah pemerintah Negara Kanguru mati-matian melakukan konservasi.

Sawahlunto Juga Bisa Masuk 'Daftar Neraka' UNESCOGreat Barrier Reef. (ltos/Thinkstock)

"Kalau sudah keluar Situs Warisan Dunia berarti ada yang salah dengan konsep pengembangannya. Indonesia akan sangat malu dan harus mengulang kerja keras dari nol untuk bisa kembali diakui UNESCO," kata Arief saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Selasa (9/7).


Karena sudah menjadi "milik dunia", maka kini bukan hanya pemerintah Sawahlunto saja yang bertugas mengelola Ombilin, karena pemerintah pusat juga ikut bertanggungjawab.

Arief meminta pemerintah pusat memberi perhatian khusus untuk pelestarian, pemeliharaan, promosi, dan edukasi mengenai Ombilin kepada masyarakat luas.

Jika keempat unsur tersebut sudah diterapkan, ia optimis komplek pertambangan ini bakal menjadi magnet kedatangan turis domestik dan mancanegara.

"Ada yang bertanya kepada saya 'apa keuntungan Sawahlunto masuk UNESCO bagi Indonesia?'. Menurut saya pertanyaan seperti itu lucu. Keuntungan masuk daftar UNESCO tidak bisa diukur dengan rupiah atau jumlah turis yang datang. Nilainya jauh dari itu," kata Arief.

"Bangunan ini tidak bisa mempromosikan dirinya sendiri. Butuh bantuan banyak pihak yang paham cara mengembangkan situs warisan dunia. Jika pelestarian dan pengembangan sudah dilakukan dengan baik, nantinya turis akan datang dengan sendirinya," lanjutnya.

Walau mendukung pengembangan Ombilin sebagai objek wisata, Arief tak ingin pengembangan tersebut menganggu eksistensinya sebagai bangunan bersejarah yang wajib dilindungi.

Ia meminta pemerintah tak hanya mengajak turis datang ke Ombilin untuk berwisata, tapi juga diajak membantu menjaga kelestarian suatu situs warisan dunia.

Begitu juga dengan pelaku industri wisata, seperti hotel dan restoran, yang bakal meramaikan kawasan Sawahlunto.

"Hotel dan restoran boleh saja dibangun di sekitarnya, tapi jangan menganggu nilai sejarah Ombilin. Jangan dibangun terlalu dekat atau terlalu tinggi. Masyarakat setempat juga harus diikutsertakan dalam pengembangan, sehingga mereka punya semangat yang sama untuk menjaga Ombilin," pungkasnya.


[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)