Putar Otak Magelang 'Mengasuh' Candi Borobudur

CNN Indonesia | Kamis, 11/07/2019 11:16 WIB
Putar Otak Magelang 'Mengasuh' Candi Borobudur Biksu melakukan ritual doa pagi Waisak 2018 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertambangan batubara era kolonial Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar), baru saja resmi masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia kategori Budaya UNESCO pada tahun ini.

Sebelumnya ada empat situs bersejarah di Tanah Air yang telah masuk daftar bergengsi tersebut, yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran, dan Persawahan Subak di Bali.

Candi Borobudur yang berada di Magelang, Jawa Tengah, termasuk yang istimewa. Selain masuk daftar UNESCO, situs religi ini juga masuk dalam daftar 7 Keajaiban Dunia.



Bersama Prambanan, Candi Borobudur masuk daftar UNESCO sejak 1991. Agar bisa masuk dalam daftar tentu tidak mudah, begitu juga dengan mempertahankannya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang, Iwan Sutiarso, yang mengatakan kalau usaha mempertahankan status UNESCO di Candi Borobudur akan selalu menjadi pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

"Secara aturan pengelolaan Candi Borobudur bukan lagi di tangan pemerintah Magelang, tetapi PT Taman Wisata Candi. Meski demikian kami masih ikut serta melakukan berbagai usaha untuk melestarikannya. Karena yang perlu dilestarikan bukan cuma fisiknya, namun juga ekosistemnya," kata Iwan saat diwawancarai pada Rabu (10/7).

"Pemerintah Magelang berusaha menjaga ekosistem di sekitar Candi Borobudur. Salah satunya kami menjaga agar pembangunan di sekitarnya tidak memberikan dampak buruk bagi kelestarian candi," ujarnya.

Iwan lanjut mengatakan kalau pemerintah Magelang juga berusaha menghidupkan "kantong-kantong" wisata lain di sekitar Candi Borobudur, sehingga tak terjadi penumpukan pengunjung dan Magelang tak dianggap hanya sebagai 'destinasi wisata Candi Borobudur'.

Mempromosikan objek wisata lain menjadi tujuan Magelang yang juga sedang berupaya untuk menjadi destinasi wisata serba ada; wisata sejarah, wisata alam, wisata kuliner, sampai wisata belanja. Target yang ingin dicapai sudah pasti turis lintas pasar dan minat.

Area luar Candi Borobudur sudah juga sudah menjadi lokasi banyak acara, seperti Borobudur Marathon sampai konser musisi internasional.


"Yang mau ke candi silakan, kami punya banyak candi lain selain Borobudur. Yang mau ke gunung silakan, kami punya gunung dari yang pendek sampai yang tinggi," kata Iwan mencontohkan.

Berbicara mengenai wisata alam, nampaknya Magelang sedang gencar mempromosikan wisata yang berkelanjutan.

Iwan optimis, wisata alam bakal terus menggairahkan perekonomian suatu kawasan dibanding perambahan lahan yang hanya menguntungkan dalam hitungan tahun.

"Turis ingin datang ke suatu destinasi karena destinasinya unik. Nah, Magelang ini unik karena alamnya masih sangat asri. Mengapa kita tidak mati-matian menjaga potensi itu?" ujar Iwan.

"Wisata alam juga bisa membantu masyarakat yang mayoritas petani untuk memiliki mata pencaharian lain selain mengolah lahan jika musim kering tiba. Kami terus beri mereka pelatihan agar semakin percaya diri melayani turis," lanjutnya.

Di akhir perbincangan, Iwan berharap akses Tol Jawa dan Bandara New Yogyakarta bisa membuat Magelang kelimpahan turis dari Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Dari data Disparpora Magelang, kunjungan wisata tahun 2017 mencapai 5.402.084, sementara tahun 2018 meningkat menjadi 6.336.095 wisatawan.

Tingkat kunjungan wisatawan terbanyak 2018 masih di Candi Borobudur sebanyak 3.663.054 orang untuk wisatawan nusantara dan 192.231 orang untuk wisatawan mancanegara.

Di urutan kedua Ketep Pass, sebanyak 333.841 wisatawan nusantara dan 1.146 wisatawan mancanegara.

Tahun ini Magelang menargetkan kedatangan 7 juta wisatawan. Target tersebut berupa 6,5 juta turis domestik dan 500 ribu turis mancanegara.


[Gambas:Video CNN]

(agr)