Kota Putih, Situs Suci 'Pemuja' Bauhaus di Israel

CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 11:04 WIB
Kota Putih, Situs Suci 'Pemuja' Bauhaus di Israel Kota Putih di Tel Aviv, Israel. (Istockphotos/Purplexsu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sementara banyak orang di Tel Aviv, Israel, memulai akhir pekan di kafe, ada sekelompok kecil turis yang berjalan-jalan mencari bangunan Bauhaus.

Bauhaus merupakan kelompok gerakan arsitektur minimalis yang didirikan di Jerman satu abad yang lalu, termasuk di antaranya orang Yahudi Eropa yang melarikan diri ke Palestina yang sedang dikuasai Inggris ketika Nazi mengambil alih kekuasaan.

Hari ini Tel Aviv adalah gudang bangunan bergaya modernis Bauhaus yang merayakan tahun ke-100 pada 2019.



Bangunan bergaya Bauhaus terlihat menonjol di antara 4.000 bangunan di Kota Putih Tel Aviv, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO.

Nama Kota Putih Tel Aviv berasal dari fasad bangunan yang dicat putih dan memiliki balkon bulat melambangkan gaya Bauhaus.

Sekolah desain Bauhaus didirikan di Weimar, Jerman, oleh Walter Gropius pada April 1919, tepat satu dekade setelah Tel Aviv muncul sebagai desa tepi laut kecil di bukit pasir dekat pelabuhan Mediterania kuno Jaffa.

Didorong oleh Nazi pada tahun 1933, Bauhaus adalah bagian dari gerakan modernis yang muncul pada tahun 1920-an.

Seakan ingin mengubah gaya lama, bangunan Bauhaus mengedepankan estetika fungsi dan penggunaan kaca, baja, serta beton.

Terbesar di dunia

Di jalan-jalan Tel Aviv, sekitar 30 orang dari Jerman, Austria, Swiss, dan Swedia melakukan tur jalan kaki yang diselenggarakan oleh Bauhaus Center, yang dikepalai oleh co-founder Micha Gross.

Psikolog dan pencinta arsitektur Swiss mengatakan kepada AFP bahwa tidak ada kota lain di dunia yang memiliki lebih banyak koleksi bangunan Bauhaus daripada Tel Aviv.

UNESCO mengatakan bahwa pengembangan utama kawasan ini adalah inisiatif Sir Patrick Geddes dari Inggris, seorang modernis terkemuka.

"Tel Aviv adalah satu-satunya realisasi urban berskala besar," tulis UNESCO di situs resminya.

Perhentian pertama pada tur Bauhaus Center adalah Shulamit Square, tak jauh dari pusat Dizengoff Street di Tel Aviv.

Dengan bangunannya yang ramping dan bundar, situs ini mewujudkan cara Bauhaus membentuk kota dengan etos menciptakan rumah bagi semua kelas sosial.

Kota Putih, Situs Suci Pemuja Bauhaus di IsraelBangunan bergaya Bauhaus di Kota Putih, Tel Aviv, Israel. (Istockphotos/Shahar Klein)

Tidak seperti pendahulu mereka yang membuat bangunan untuk iklim Jerman, arsitek yang menetap di Tel Aviv harus menyesuaikan pekerjaan mereka dengan iklim lokal.

Mereka menggunakan lebih sedikit kaca untuk meminimalkan panas dan meninggikan balkon untuk menangkap angin laut.

Perhentian selanjutnya adalah di dekat Dizengoff Square, ikon kota yang didominasi oleh bangunan-bangunan Bauhaus yang terkenal, termasuk Hotel Cinema yang berwarna putih seakan tak bernoda.

Gross mengatakan bahwa sementara jumlah pengunjung ke Bauhaus Center telah meningkat tiga kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, Kota Putih kurang populer daripada Yerusalem dan situs-situs sucinya, yang setiap tahun menarik jutaan pengunjung.

Katell Piboules dan Yann Becouary adalah dua pengunjung asal Prancis berusia 40-an.

Berbekal peta terperinci yang menunjukkan "permata" Bauhaus, mereka berjalan-jalan tanpa ditemani pemandu.

"Ada banyak hal untuk dilihat di sini," kata Piboules, seraya menambahkan bahwa dia dan rekannya bukanlah orang yang jarang berpetualang.

Mereka mengatakan bahwa sementara beberapa bangunan dipugar dengan baik dan layak dilihat, yang lain seakan tak terurus.

"Memelihara dan memulihkan bangunan-bangunan ini sangat sulit," kata Gross, yang menjelaskan bahwa perlu waktu antara delapan hingga 10 tahun untuk merenovasi sebuah bangunan.

Sebagian besar bangunan tahun 1930-an ini berada di tangan swasta dan memulihkannya tergantung pada niat baik pemiliknya, yang tidak mendapatkan dana publik untuk proyek tersebut.


Bukan hanya Bauhaus

Arsitek Sharon Golan Yaron adalah manajer dari Pusat Kota Putih, yang diresmikan pada 2015 oleh dewan kota Tel Aviv dan pemerintah Jerman untuk "melestarikan warisan Kota Putih".

Dia mengatakan bahwa sementara Bauhaus memberi pengaruh besar, ada banyak gaya arsitektur lain yang juga telah membentuk Tel Aviv.

Modernis kelahiran Swiss, Le Corbusier, ikut meninggalkan jejaknya, katanya. Begitu juga dengan para pengikutinya, Gropius dan Oscar Niemeyer, pada tahun 1980-an.

Ia berharap Tel Aviv dinilai sebagai kota arsitektur dunia, bukan hanya sekadar kota dari kumpulan bangunan Bauhaus.

Tidak seperti beberapa bangunan peninggalan lainnya, kata Golan Yaron, yang ada di Kota Putih masih hidup.

Dia menambahkan bahwa arsitek mereka bekerja dengan cita-cita sosialis-Zionis pada masa mereka yang melihat pembangunan kota baru sebagai bagian dari penciptaan masyarakat baru, yang berpuncak pada tahun 1948 dengan berdirinya negara Israel.

"Itu adalah ekspresi fisik dari Zionisme," katanya.


[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)