Sejarah Panjang Makanan-makanan Luar Angkasa

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/07/2019 13:50 WIB
Sejarah Panjang Makanan-makanan Luar Angkasa Ilustrasi (Foto: Dok. NASA/ESA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lima dekade lalu, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin berhasil menjejakkan kaki di bulan. Sebuah upaya yang tidak sia-sia, keberhasilannya mencatat sejarah bagi umat manusia.

Astronot sama seperti manusia di bumi. Mereka membutuhkan asupan nutrisi untuk mengumpulkan energi selama perjalanannya ke bulan. Namun, mencari makanan yang tepat untuk dibawa ke ruang angkasa bukan perkara mudah. Sejarah makanan luar angkasa telah melalui jalan panjang dan membangkitkan selera.

Melansir CNN, kondisi lingkungan yang berbeda menjadi tantangan para ilmuwan untuk menemukan makanan apa yang mudah dicerna di luar angkasa. Atau, bagaimana reaksi makanan terhadap tekanan dan getaran ekstrem selama peluncuran?


Daftar ketat pun diikuti. Makanan harus mudah hancur, ringan, mudah disiapkan, tahan lama tanpa perlu pendingin, dan cukup bergizi untuk menopang astronot sepanjang perjalanan luar angkasa.

Makanan pertama yang dimakan di luar angkasa adalah bubur daging. Makanan itu dikonsumsi oleh kosmonot Rusia, Yuri Gagarin pada 1961 silam. Daging yang dihancurkan itu disimpan di dalam wadah serupa tabung pasta gigi.

Tahun berikutnya, NASA meluncurkan John Glenn, sebagai orang Amerika Serikat pertama yang makan di luar angkasa. Apa yang dimakannya adalah daging sapi yang dihancurkan bercampur dengan sayuran yang disimpan dalam tabung aluminium.

Dalam misi Mercury 7 itu, Glenn bersama rekan-rekan astronotnya menguji fisiologi makanan di luar angkasa. Untuk misi ini, mereka diberi asupan makanan-makanan yang dihancurkan.

Selain hadir dalam bentuk semi-cair, NASA juga menawarkan cornflake dan gandum yang dihancurkan dan dibentuk menjadi kubus seukuran gigitan mulut yang kemudian dilapisi gelatin. Pelapisan dilakukan agar makanan tak mudah hancur. Ada juga makanan beku yang dikeringkan.

Lompatan Nutrisi pada Misi Apollo 11

Saat Neil Armstrong berhasil menjejakkan kakinya di bulan dalam misi Apollo 11, aktivitas makan di luar angkasa telah membuat lompatan tinggi. Makanan dikonsumsi sebanyak 2.800 kalori per hari. Dispenser air panas dipasang sehingga makanan tak lagi harus bersuhu ruangan. Lewat sudah hari-hari memeras pasta dari tabung yang bikin ribet.

Makanan basah juga mulai dihidangkan. Astronot tak lagi membuka mulut lebar-lebar untuk menelan pasta, mereka bisa makan dengan menggunakan sendok.

Makanan ini tak jauh berbeda dengan makanan pada umumnya. Hanya saja, wetpack (makanan basah) hadir dengan tekstur yang sedikit lebih lengket. Di antara makanan basah yang dikonsumsi oleh para astronot Apollo 11 adalah spageti dengan saus daging, roti sosis, dan sup ayam.

Astronot juga memiliki fleksibilitas untuk memilih makanan dengan adanya konsep dapur, di mana sederet makanan tersedia di sana. Para astronot Apollo 11 bahkan memiliki lebih dari 70 jenis makanan untuk dipilih seperti rebusan daging sapi, bacon, kue buah kurma, dan anggur.

Astronot yang berkeliaran di permukaan bulan juga memiliki alat minum dengan air yang tersimpan dalam wadah yang terpasang di pakaian luar angkasa mereka. Dilaporkan Lunar Surface Journal milik NASA, jika lapar, mereka tinggal menggigit makanan bergizi yang tersedia pada helm.

Makanan Para Astronot Saat Ini

Ada sekitar 200 menu makanan di Johnson Space Center Food Lab yang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Kurator Smithsonian National Air and Space Museum, Jennifer Levasseur mengatakan, setiap astronot memiliki nampan untuk menyimpan makanan apa saja yang dipilih. Makanan ringan, makanan pembuka, makanan penutup, hingga bumbu favorit bisa didapatkan.

"Mereka juga bisa meminta selai khusus," kata Levasseur. Menurutnya, makanan yang paling banyak diminta adalah tortilla.

Saat ini, AS menyediakan sekitar setengah dari makanan di ISS. Sementara negara-negara lain, terutama Rusia, menyediakan sisanya. Sekitar 50 persen makanan datang dalam kondisi termostabil (panas stabil). Beberapa juga datang dalam bentuk beku-kering.

Satu-satunya kulkas di ISS digunakan untuk eksperimen biologis. Artinya, suhu makanan harus stabil setidaknya selama 18 bulan.

Makanan bisa terasa berbeda di ruang angkasa. Minimnya gravitasi menyebabkan fenomena yang dikenal sebagai pergeseran cairan, yang pada gilirannya memengaruhi indera penciuman dan rasa. Aroma juga akan menghilang secara berbeda.

Akibatnya, para astronot cenderung berselera dengan makanan-makanan berbumbu.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)