Pilah Pilih Masker Tepat saat Polusi Jakarta Makin Pekat

tim, CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 12:32 WIB
Pilah Pilih Masker Tepat saat Polusi Jakarta Makin Pekat ilustrasi polusi Jakarta (djonet sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertanyaan tentang perlunya memakai masker pun semakin meruak ketika Jakarta dinobatkan berada di posisi ketiga kota dengan kualitas udara terburuk oleh laman Air Visual. Dengan kata lain, polusi udara Jakarta makin pekat.

Air Quality Index (AQI) berada di angka 145. Apa artinya? Angka ini mengatakan udara tidak sehat untuk kelompok sensitif seperti anak, ibu hamil, orang lanjut usia, pekerja luar ruangan dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.  Untuk kelompok rentan kualitas udara di antara 100-150 sudah termasuk berbahaya. Namun di luar kelompok rentan, udara di atas 150 baru dianggap tak sehat.

"[Angka] 150 ke atas [artinya kualitas udara] enggak sehat buat mereka yang mau punya penyakit atau enggak. Apalagi 200 ke atas, ini sangat buruk [kualitas udaranya]," jelas Agus saat konferensi pers bersama Nexcare di Aston at Kuningan Suites, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/8). 


Lalu apakah penggunaan masker adalah sebuah kewajiban untuk mengatasi polusi udara di Jakarta?


Tak dimungkiri, penggunaan masker memang bisa membantu meringankan beban paru-paru dan organ pernapasan lainnya untuk menyingkirkan polutan.

Penggunaan masker atau respirator mencegah partikel berbahaya masuk ke dalam tubuh. Masker bisa dikenakan dalam kegiatan sehari-hari termasuk kegiatan di dalam ruangan jika perlu. Sedangkan respirator dengan sistem filtrasi lebih mumpuni bisa digunakan saat beraktivitas di luar ruangan terutama saat udara luar kualitasnya buruk. 

"Saat kualitas udara enggak bagus, memang tidak disarankan berkegiatan luar ruangan tapi kalau terpaksa ya pakai alat pelindung diri [yakni] masker yang bisa filtrasi polutan. Nah respirator itu bisa filtrasi hingga 95 persen polutan," kata Agus Dwi Susanto, Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran UI saat konferensi pers bersama Nexcare di Aston at Kuningan Suites, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/8). 

masker N95Foto: Dok. 3m
respirator N95

Dengan index kualitas udara Jakarta yang mencapai 145, Agus menyarankan kelompok rentan untuk menggunakan respirator N95. Respirator N95 berarti bisa menyaring partikel berbahaya hingga 95 persen.

Sedangkan untuk kelompok non-rentan, penggunaan masker biasa (daily masker) atau masker yang biasa dipakai saat naik ojek sudah cukup memadai.


Namun sebenarnya, angka AQI bisa berubah sewaktu-waktu karena aspek polutan, arah angin serta kelembapan udara. 

Apalagi saat 'peak season' alias waktu-waktu ramai kendaraan melintas plus emisi industri, angka bisa merangkak ke 150 ke atas. Kondisi seperti ini tak hanya terjadi di Jakarta tetapi kota-kota besar lain. 

Dokter yang juga praktik di RSUP Persahabatan ini mengatakan sebuah riset pada 2010 menyebut sumber polusi udara di luar ialah gas buang kendaraan, emisi industri, rumah tangga termasuk pembakaran sampah sembarangan.
(els/chs)