Catatan Perjalanan

'Diusir' Hujan di Tomohon

CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 15:35 WIB
'Diusir' Hujan di Tomohon Gunung Lokon terlihat jelas dari Bukit Doa, Tomohon. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Tomohon, CNN Indonesia -- Manado dan Tomohon adalah dua lokasi yang cukup berjauhan tapi saling terkait. Ibaratnya Jakarta dan Puncak atau Surabaya dan Malang. Cuaca di Manado panas, sementara cuaca di Tomohon sejuk.

Jarak kota Manado dan Tomohon sekitar 25 kilometer (km) atau bisa ditempuh selama satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Jangan khawatir, karena jalanan yang dilalui beraspal halus. 

Waktu tempuh bisa sangat relatif, tergantung dari jam dan hari keberangkatan. Akhir pekan akan jauh lebih lama karena Tomohon merupakan lokasi tujuan wisata bagi masyarakat kota Manado dan sekitarnya.


Ada beberapa pilihan moda transportasi, bisa menggunakan angkutan umum yaitu bus, kendaraan pribadi, atau jasa transportasi online.


Jalan berliku dan pepohonan khas dataran tinggi, mendominasi rute Manado-Tomohon. Udara sejuk pun menyeruak saat kendaraan memasuki kawasan Tomohon.

Saat itu saya pergi bersama rombongan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan perwakilan duta besar dari beberapa negara sahabat seperti Kolombia, Libanon, Filipina, Laos, Pakistan, Thailand, Republik Korea Utara, Srilanka, Serbia, Libya, Fiji, Korea Selatan, Polandia, dan Australia.

Meski pergi dalam rombongan besar, kami tergolong cukup cepat sampai di lokasi tujuan pertama yaitu Bukit Doa. Tidak sampai 60 menit, kami sudah tiba di areal Bukit Doa.

Bukit Doa Tomohon merupakan salah satu objek wisata alam sekaligus tempat wisata religi, khususnya bagi umat kristiani di Tomohon.

'Diusir' Hujan di TomohonBukit Doa. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Tempat ini berada tepat di bawah kaki Gunung Mahawu, sehingga memiliki udara yang sejuk, dan alam yang indah khas suasana pegunungan.

Dari puncak Bukit Doa, pengunjung bisa menikmati 'penampakan' Gunung Lokon dengan sangat jelas.

Setelah puas menikmati pemandangan di Bukit Doa, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya yaitu Danau Linow.

Namun sebelum ke Danau Linow, kami sempat singgah ke sentra industri rumah panggung di Woloan untuk mengamati proses pembuatan rumah kayu dengan sistem bongkar pasang (knock-down).

Rumah panggung di Woloan merupakan 'etalase' rumah adat suku Minahasa. Di sini, pengunjung bisa melihat bagaimana rumah yang ada di sini dibuat dari kayu-kayu pilihan.

'Diusir' Hujan di TomohonRumah panggung Woloan. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)


Menjelang pukul 12.00 WITA, perjalanan dilanjutkan ke Danau Linow. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit untuk tiba di Danau Woloan.

Di sini kami memisahkan diri dengan rombongan duta besar, untuk beranjak lebih dekat dengan Danau Linow. Lokasi yang kami tuju adalah sebuah kafe di tepi Danau Linow, untuk menikmati kudapan dan minuman.

Saat tiba di Danau Linow bau telur busuk langsung merasuk hidung. Aroma ini berasal dari bau belerang yang tersebar di sekitar danau.

Konon, belerang ini merupakan sisa letusan Gunung Mahawu yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Kata Linow diambil dari bahasa Minahasa yaitu lilinowan, yang berarti tempat berkumpulnya air.

Warna air di danau ini dapat berubah-ubah warna menjadi hijau, biru, dan kuning kecoklatan. Perubahan ini terjadi karena unsur belerang yang tertimbun di dalam danau, serta pantulan sinar matahari.

'Diusir' Hujan di TomohonDanau Linow. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Menghabiskan waktu di tempat ini sangatlah menyenangkan, karena udaranya sejuk dan nuansanya masih sangat alami. Bebek di tepi danau dan burung elang adalah bonus yang bisa dinikmati di sini.

Setelah resmi memisahkan diri, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Tetetana di Desa Suluan. Tujuan kami adalah melihat pemandangan kota Tomohon dan Manado dari atas.

Puncak Tetetana terbilang cukup baru sebagai destinasi wisata. Hal ini bisa dilihat dari jalan yang baru saja diaspal, bahkan ada juga ruas yang belum terkena aspal.

Perlu waktu sekitar 30 menit dari Danau Linow untuk sampai di tempat ini. Udara di sini jauh lebih dingin ketimbang di Danau Linow.

Satu-satunya cara menghangatkan diri adalah siapkan jaket yang tebal, karena di sini belum ada bangunan yang bisa dimanfaatkan untuk berlindung dari angin kencang.

'Diusir' Hujan di TomohonPuncak Tetetana. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sayangnya saat kami tiba di sana, cuaca sedang kurang bersahabat. Awan hitam menyelimuti puncak Bukit Tetetana, sehingga niat untuk menyaksikan pemandangan menjadi sia-sia.

Beruntungnya ada hamparan bunga yang bisa membuat mata sedikit segar, namun itu juga tidak bisa dianggap sebagai kemewahan karena tak sampai 15 menit kami di sana hujan deras datang tanpa aba-aba.

Pasukan hujan ini seakan 'mengusir' kami agar kami segera kembali menuju Manado.

Mungkin suatu saat saya akan kembali dengan perbekalan yang lebih lengkap agar bisa lebih lama menikmati dinginnya kota Tomohon.

(agr/ard)