LANCONG SEMALAM

Belajar Dekat dengan Alam dari Tepi Sungai Ciliwung Depok

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Minggu, 28/07/2019 11:40 WIB
Melihat Sungai Ciliwung di Depok seakan membawa imaji tentang 'sosok' sungai yang bersahaja. Anak-anak bermain di Sungai Ciliwung. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa waktu yang lalu, Depok mendadak menjadi perbincangan warganet akibat usulan wali kotanya tentang pemasangan lagu di lampu merah sebagai solusi kemacetan.

Tak tanggung-tanggung, lagu yang diwacanakan untuk dimainkan adalah yang dinyanyikan olehnya berjudul 'Hati-Hati'.

Beruntungnya Depok masih memiliki banyak opsi untuk melenyapkan penat yang kerap terjadi di kotanya. Salah satunya adalah wisata di Sungai Ciliwung yang membentang sepanjang sekitar 26 kilometer.


Banyak yang belum tahu kalau Sungai Ciliwung yang juga mengalir lewat Depok memiliki sarana wisata edukasi dan alam. Arung jeram menjadi salah satu kegiatan seru yang bisa dicoba di sini.

Akhir pekan kemarin, saya mencoba mencari lokasi titik arung jeram di sana dengan tujuan mengetahui kebenarannya.


Berdasarkan riset sederhana melalui internet, saya menemukan setidaknya tiga lokasi yang menjadi rujukan untuk wisata di bantara Sungai Ciliwung Depok ini yang diwadahi oleh tiga komunitas berbeda.

Pertama di kawasan Margonda, kedua di Jembatan Panus, dan yang terakhir di dekat Boulevard Grand Depok City.

Meskipun berbeda, namun konsentrasi mereka masih sama, yaitu berupaya menjaga dan merawat Sungai Ciliwung.

Jarak antar ketiga lokasi tak begitu jauh, sehingga saya bisa menyambanginya dalam waktu satu hari.

Berbekal aplikasi peta digital, maka persoalan mencari lokasinya akan sangat mudah.

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah yang ada di kawasan Margonda, tepatnya di Pos Pantau Kancil Pondok Cina, Jalan H.M Tohir.

Belajar Melestarikan Ciliwung di DepokPos Pantau Kancil. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sayangnya, saat saya tiba di sana sekitar pukul 09.30 WIB, tidak ada seorangpun di Pos Pantau Kancil, sehingga saya hanya bisa menikmati kali Ciliwung dari salah satu tepian yang masih asri.

Tak ingin berlama-lama di tempat ini, saya pun menuju lokasi kedua yakni Jembatan Panus yang terletak di dekat Jalan Siliwangi.

Jembatan Panus adalah salah satu peninggalan kolonial yang dibangun tahun 1917 oleh oleh seorang insinyur bernama Andre Laurens.

Namun warga menamainya Jembatan Panus, karena ada seorang warga bernama Stevanus (disebut Panus dalam ejaan lokal) Leander yang tinggal di samping jembatan tersebut.


Belajar Melestarikan Ciliwung di DepokJembatan Panus. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Bagi warga Depok, Jembatan Panus akrab dengan kesan angker. Namun yang pasti struktur jembatan ini sangatlah kuat khas konstruksi Belanda, sehingga masih kerap dilalui oleh kendaraan.

Sebuah komunitas bernama Ciliwung Panus, 'mendiami' kolong jembatan yang ada di Jalan Siliwangi. Namun sama seperti di tempat pertama, saat saya tiba di sana tempat ini juga kosong.

Padahal di tempat ini tersedia sarana untuk flying fox dan bridge jump. Barangkali memang belum waktunya untuk saya mencoba, meskipun sebenarnya cukup penasaran.

Akhirnya tempat ketiga yang saya sambangi adalah Komunitas Ciliwung Depok, tepatnya di dekat jembatan Grand Depok City.

Rupa lokasinya tidak jauh berbeda dengan Ciliwung Panus yang memanfaatkan kolong jembatan sebagai base camp.

Belajar Melestarikan Ciliwung di DepokLokasi komunitas Ciliwung Depok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Beruntungnya saat saya menuruni tangga, ada tiga pemuda yang sedang berbenah base camp mereka.

Ukuran base camp ini jauh lebih besar ketimbang dua tempat yang saya kunjungi sebelumnya. Bahkan saya melihat beberapa ular yang terletak di dalam akuarium.

"Itu rata-rata ular hasil penyelamatan. Nah kalau yang di karung, kemarin pagi saya nemu tuh di got. Ular sanca, ukurannya lumayan gede," ujar seorang pemuda yang akrab disapa Pay.

Terkait wisata di Sungai Ciliwung, Pay menuturkan komunitasnya menawarkan edukasi ke masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian sungai yang menjadi nadi beberapa kota besar, khususnya Bogor, Depok, dan Jakarta.

Menurut Pay, wisata arung jeram memang sempat menjadi salah satu kegiatannya. Tapi hal ini tidak menjadi prioritas karena faktor pendangkalan kali.

Belajar Melestarikan Ciliwung di Depok"Jeram" di Sungai Ciliwung Depok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

"Coba aja tuh liat airnya seberapa, terus kalau musim hujan banjir. (Situasi) ini kan bisa bikin khawatir, makanya sekarang lebih ke wisata edukasi," katanya.

"Di Ciliwung itu ada beberapa satwa endemiknya, seperti bulus dan ikan. Terus kalau tumbuhannya ada bambu. Nah hal-hal kaya gini yang kami kenalin ke orang-orang. Kalau masalah sampah sih udah jadi masalah dunia, gak cuma di Ciliwung aja."

Pay menuturkan sepanjang 26 km aliran kali Ciliwung yang melintasi Depok, ada lebih dari 50 tempat pembuangan sampah warga.

Itu sebabnya ia dan kawan-kawan tidak pernah lelah untuk berbagi pengetahuan dengan warga, tentang pentingnya menjaga dan melestarikan kali Ciliwung.

Usai berbincang singkat, Pay mengajak saya menyusuri hutan bambu untuk melihat beberapa mata air yang ada di dekat base campnya. 

Belajar Melestarikan Ciliwung di DepokHutan bambu di tepi Sungai Ciliwung Depok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Sepanjang perjalanan, saya merasa sedang tidak berada di kawasan Jabodetabek karena rimbunnya hutan bambu dan sejuknya udara.

Bahkan saya sempat melihat anak-anak kecil mandi di kali Ciluwung usai pulang sekolah, sebuah pemandangan yang sangat langka di Kota besar.

Pay bahkan menunjukkan bangunan peninggalan Belanda yang ia sebut dengan meteran. Menurutnya fungsi bangunan ini adalah memberi tanda peringatan ke warga Belanda, melalui lonceng yang berputar otomatis saat debit air tinggi.

"Ini bangunan gak ada yang tau kapan dibuatnya, saya googling juga gak nemu. Masih bagus bangunannya, cuma besinya aja yang keropos gara-gara kena air," kata Pay.

Belajar Melestarikan Ciliwung di DepokMeteran air buatan Belanda. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

[Gambas:Video CNN]

(ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK