'Menguji' Iman di Pasar Beriman Tomohon

CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 17:04 WIB
'Menguji' Iman di Pasar Beriman Tomohon Salah satu sudut di kawasan Pasar Beriman Tomohon atau yang akrab disebut Pasar Ekstrem (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Tomohon, CNN Indonesia -- Pagi masih jauh dari guratan cahaya mentari, namun sebuah sudut di Pasar Beriman kota Tomohon sudah sangat menggeliat.

Tempat itu adalah lokasi perdagangan daging hewan, mulai dari yang biasa dikonsumsi hingga yang tidak lazim bagi kebanyakan orang.

Ular piton, biawak, babi hutan, kucing, anjing, tikus hutan, dan kelelawar hitam (paniki) adalah deretan hewan yang dagingnya diperjualbelikan selain ayam dan sapi.


Tak ayal jika bau anyir menyeruak di setiap jengkal area yang terletak di daerah dataran tinggi ini.


Doni (bukan nama sebenarnya) sudah sepuluh tahun menjual daging hewan yang tak lazim dikonsumsi oleh kebayakan orang itu.

Baginya tidak ada yang aneh dengan daging-daging itu, karena masyarakat Minahasa tidak mengenal pantangan dalam mengonsumsi sesuatu.

Setiap harinya ada saja yang membeli varian daging yang ia jual, seperti ular, anjing, dan babi. Malahan untuk momen-momen tertentu harganya menjadi lebih lebih mahal.

"Tergantung musim, kalau lagi menjelang hari-hari spesial harganya pasti naik. Kalau sekarang (daging) ular sekilonya Rp60 ribu," ujar Doni.

Pasar Beriman Tomohon [EBG]Ular, biawak, dan tikus hutan adalah sebagian dari 'koleksi' pasar ekstrem Tomohon. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)


Menurutnya binatang-binatang itu didatangkan dari dalam maupun luar Tomohon. Namun untuk ular piton berukuran lebih dari 10 meter dan kelelawar sudah didatangkan dari luar Minahasa. Hal ini dikarenakan dua satwa ini sudah langka ditemui di kawasan Sulawesi Utara.

Sedangkan untuk hewan-hewan lain seperti biawak, tikus hutan, anjing, dan kucing didapat dari pengepul yang mengantarkannya setiap pagi.

Menurutnya sumbernya bisa bermacam-macam, ada yang sengaja menjualnya dan ada juga yang mencuri atau mengambilnya dari alam atau jalanan.

Berdasarkan catatan Dog Meat-Free Indonesia (DMFI), diperkirakan sekitar satu juta anjing dan kucing dibunuh tiap tahunnya dalam perdagangan daging di Indonesia.

Berbagai organisasi penyayang satwa pernah memprotes kegiatan di tempat yang dikenal dengan nama pasar ekstrem ini, namun hingga kini aktivitasnya masih tetap berlangsung seperti biasa.

Namun tidak sedikit pula yang menganggap kawasan ini sebagai daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. 

Menurut Doni setidaknya ada sekitar ratusan wisatawan mancanegara, khususnya dari China, yang berkunjung ke sini setiap harinya untuk melihat aktivitas di pasar ekstrem.

Ketika ditanya perasaan ketika pertama kali menghantam kepala anjing dengan balok, Doni mengaku gemetar dan sedih. Tapi apa mau dikata, karena ia memutuskan untuk menempuh profesi ini maka ia harus menjalaninya demi pundi-pundi rupiah.

Terkait 'musnahnya' beberapa satwa di Minahasa, Doni mengaku tak terlalu paham apa dampaknya terhadap lingkungan tapi ia meyakini kondisi itu pasti berdampak kurang baik.

Baginya mengonsumsi hewan-hewan ini bukanlah keharusan bagi warga Minahasa, karena ada juga yang memilih untuk tidak mengonsumsi dengan berbagai alasan. Mulai dari rasa iba, kesehatan, hingga kepedulian terhadap keseimbangan ekosistem.

(agr/ard)