JFFF 2019

Panggung Tenun Lima 'Indonesia'

tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 19:36 WIB
Panggung Tenun Lima 'Indonesia' Tenun dari lima daerah di Indonesia jadi pembuka Jakarta Fashion and Food Festival bersama Didi Budiardjo, Eridani, Yogie Pratama, Enrico Marsall, Koko Rudi.(dok . tim JFFF)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kain tenun tercipta dari pertemuan benang lungsi dan pakan. Meski memiliki prinsip serupa, tiap daerah di Indonesia memiliki keindahan berbeda. Cita Tenun Indonesia (CTI) konsisten hadir dan menggaet sederet desainer untuk menggaungkan tenun. 

Di tahun ke-enam kerjasama dengan Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF), organisasi ini menggandeng lima desainer untuk menerjemahkan tenun ke dunia fashion masa kini.

Sebagai gelaran pembuka, CTI bersama Didi Budiardjo, Eridani, Yogie Pratama, dan dua desainer pemenang Next Young Promising Designer (NYPD) 2018 Enrico Marsall dan Koko Rudi mempersembahkan peragaan busana bertajuk 'Jalinan Lungsi Pakan'. 


Kelima desainer didapuk untuk berkreasi menggunakan kain tenun dari lima daerah berbeda.  


"Kami ingin menampilkan hasil tenun yang sudah dibina [oleh CTI]. Tahun ini ingin fokus di [tenun] Tidore. Desainer nanti gimana dia mengolah tenun dengan kreasi baru," kata Okke Hatta Rajasa, penggagas CTI dalam konferensi pers jelang pertunjukan di Ballroom Harris Hotel, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (15/8). 

Didi Budiardjo - To Ado Re Tidore

Mengolah kain jelas bukan hal baru buat desainer senior Didi Budiardjo. Didi didapuk mengkreasikan tenun Tidore sekaligus membuka gelaran. Tenun Tidore memang menjadi salah satu kunci dan sorotan utama CTI tahun ini.

Koleksi Didi BudiardjoFoto: dok . Tim JFFF
Koleksi Didi Budiardjo

Agak tak disangka-sangka karena dirinya bukan sebagai 'gong' pertunjukan mengingat dialah yang paling lama menjajah dunia desain. Namun koleksi Didi yang feminin penuh dengan siluet anggun nyatanya pas dijadikan pembuka show untuk pertama kalinya di JFFF 2019.

Musik tradisional Tidore diperdengarkan. Iramanya yang lincah menghantarkan seorang model perempuan yang membawa untaian pulau-pulau Nusantara.

Kesan 'dark' begitu kuat dalam deret delapan look karya Didi. Namun bila diperhatikan, elok warna motif tenun memberikan terang pada warna dasar kain yang gelap. Warna merah, putih, dan indigo membentuk motif geometris menyerupai belah ketupat. 

Kesan modern dan glamor didapat dari siluet maupun cutting. Ada yang memberi kesan feminin dengan siluet body con, ada pula yang cenderung boyish dan santai dengan siluet atasan over-sized dan celana longgar. 


Sekilas busana tampak 'datar' akibat dominasi warna hitam. Namun dia menjadikan kain selayaknya kertas origami yang dilipat-lipat dan memberikan bentuk tersendiri di tubuh. Didi memang dikenal dengan detail dan siuet lekuk tubuh yang memukau.

Tak hanya tenun, ia juga mengawinkan dengan kain lain termasuk bulu-bulu hewan palsu di bagian dalam busana. 

Didi mengakui ada tantangan dalam pengerjaan karya tetapi ini lebih pada masalah waktu. 'Hanya' tujuh bulan mulai dari survei sampai pertunjukan. Dia membiarkan dirinya hanyut dalam rangkaian perjalanan hingga akhirnya tiba di Tidore. 

"To ado re Tidore, saya sudah sampai di Tidore," ungkapnya. 

Koyko by Koko Rudi - Sang Surya di Ujung Waktu

Ketika 'Sang Surya di Ujung Waktu', Koko Rudi memberikan secercah harap dan ekspektasi akan suasana senja yang tenang dan adem. Namun saat koleksi keluar, Koko seolah menyilaukan mata dengan warna kain yang menggambarkan senja. Senja yang cerah lewat kreasi tenun Bali

Delapan perempuan dengan delapan look membawa kesan kuat bak sepasukan prajurit. Kesan tegas timbul dari potongan-potongan busana yang clean. Senja diwujudkan lewat warna-warna khas matahari terbenam seperti kuning, oranye, dan merah. Koko pun mengambil elemen warna hitam yang memancarkan ketegasan dan 'menajamkan' keindahan warna senja.

Koleksi KoykoFoto: dok . tim JFFF
Koleksi Koyko

Tenun ini pun diterjemahkan ke dalam busana bersiluet midi dress, atasan, bawahan, serta mantel. Crop top, kemben, kain lilit, oversized outer, dress, dan balon outer dihadirkan Koko dalam koleksinya. Siluet yang dihadirkannya ini memang siluet modern hanya saja kombinasi warna, aksesori, dan lapisan busana yang bertumpuk memberikan sentuhan klasik dan etnik sekaligus.

Eridani - Selayang

CTI menantang Eridani untuk mengolah tenun dari Sulawesi Tenggara khususnya dari tenun dari Kabupaten Muna, Buton, Bau-bau dan Wakatobi. Tenun yang selama ini terkesan kaku, sulit dikenakan dan monoton ditransformasikan Eridani ke dalam delapan look yang elegan.

"Saya memberi nama 'Selayang', kain yang tipis, ringan, dan terbayang padang rumput yang luas, berangin dan kita di sana untuk menikmati suasana tersebut," ujar Eridani dalam kesempatan yang sama. 

Dari 'vibe' yang kuat dan berani, Eridani mengajak hadirin untuk lebih kalem, santai lewat koleksinya. Dia menghadirkan warna-warna lembut seperti krem, kuning lembut, olive green dengan sentuhan sedikit warna bold seperti merah marun dan hitam. 

Cutting busana dibuat longgar terutama pada siluet dress. Potongannya cukup unik dengan sehingga terdapat belahan pada kedua sisi tanpa meninggalkan kesan ringan. Tak hanya dress, ia pun menghadirkan siluet rok, outer dan atasan berpotongan mules. 

Urban Culture Syndicate by Enrico Marsall - Petrichor

Mood pertunjukkan kembali 'naik'. Kini giliran Enrico Marsall unjuk gigi. Lewat label Urban Culture Syndicate, dia membawa kain tenun lurik khas Jawa Tengah menjadi lebih muda dan segar. 

Delapan look menampilkan gaya street-wear yang bebas dan santai. Enrico menggunakan material lurik berwarna kuning, biru muda,  dan oranye yang kemudian ia wujudkan dalam busana ready to wear berupa over sized t-shirt, t-shirt dress, dan blus. 

Tampaknya koleksi ini tidak pas dengan judulnya 'Petrichor'. Pasalnya ia tidak membawa kesan tenang dan menghanyutkan seperti aroma air hujan yang turun di tanah kering. Koleksinya malah begitu menghentak karena mampu menarik lurik yang terkesan kuno jadi lebih muda dan modern. 

Koleksi Urban Culture SyndicateFoto: dok . tim JFFF
Koleksi Urban Culture Syndicate


Yogie Pratama - Break-Throughdition

Desainer Yogie Pratama konsisten ingin menunjukkan interpretasinya terhadap perempuan yakni percaya diri, seksi dan berani. Interpretasi ini pun ingin dia tonjolkan lewat tenun Sambas, Kalimantan Barat. 

Koleksi bertajuk 'Break-Throughdition' hadir dalam delapan look. Siluetnya feminin dan tegas. Kesan seksi ditonjolkan lewat potongan mini dan midi dress yang membentuk badan plus tak ragu mengaplikasikan potongan V pada kerah. 

Yogie pun menonjolkan kilau tenun yang memang banyak menggunakan benang emas ini. Bahkan dia sengaja menyematkan manik atau fringe berwarna emas. 

"Inspirasi busana sih dari motif kain itu sendiri [yang asimetris]. Busana-busana punya bentuk asimetris," kata dia.

Koleksi JFFF hari pertamaFoto: dok . tim JFFF
Koleksi JFFF hari pertama
(els/chs)