Lancong Semalam

Nostalgia Pengasingan Soekarno di Rengasdengklok

CNN Indonesia | Minggu, 18/08/2019 10:13 WIB
Nostalgia Pengasingan Soekarno di Rengasdengklok Rumah sejarah Rengasdengklok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Membayangkan 'rupa' Rengasdengklok di medio 1940-an, jelas tidak cukup menarik bagi sebagian besar orang.

Jalanan tak beraspal, kebun luas dan gelap, hingga kawanan binatang liar mungkin masih mendominasi tempat yang memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Rengasdengklok adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.


Untuk menuju kawasan ini diperlukan waktu sekitar dua jam dari Jakarta, dengan catatan tidak terjebak kemacetan tak berujung.


Pagi itu saya menuju ke Rengasdengklok, tepatnya ke Desa Kalijaya, untuk mengunjungi rumah milik (alm.) Djiaw Kie Siong.

Djiaw Kie Siong adalah nama pemilik rumah bersejarah yang disinggahi oleh dua tokoh bangsa, Soekarno dan Hatta.

Sekitar pukul 06.00 WIB saya bertolak dari kawasan Pancoran menuju Karawang lewat jalur bebas hambatan. Namun kenyatannya setelah masuk ke kawasan Bekasi barat mobil justru terjebak macet hingga keluar gerbang Cikarang.

Mencari rumah bersejarah ini tidak sulit, cukup berbekal gawai dan ketik Rumah Sejarah Rengasdengklok di aplikasi peta digital dan tunggulah petunjuk muncul seiring dengan kecepatan koneksi internet.

Letak rumah bersejarah ini tak jauh dari Monumen Kebulatan Tekad, yang merupakan markas pasukan Pembela Tanah Air (PETA).

Napak Tilas RengasdengklokMonumen Kebulatan Tekad yang dulunya adalah markas PETA. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Saat tiba di sana, saya disambut oleh pemandangan yang menyegarkan mata meskipun cuaca amat terik.

Di sepanjang gang, saya melihat grafiti tokoh bangsa yang ada di dalam peristiwa Rengasdengklok seperti Soekarno, Hatta, Sukarni, Soebarjo, Chaerul Saleh, dan Wikana lengkap dengan kutipan bernuansa nasionalisme.

Napak Tilas RengasdengklokGrafiti tokoh bangsa yang ada di jalan menuju rumah bersejarah Rengasdengklok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Hanya berjarak 20 meter dari gerbang masuk gang, saya akhirnya bertemu dengan bangunan bersejarah itu.

Nuansa rumah tersebut kini sudah lebih modern ketimbang beberapa gambar yang saya lihat di dunia maya. Namun ada beberapa hal yang tidak berubah yakni bentuk bangunan utama, kayu, dan ubin.

Napak Tilas RengasdengklokBagian depan rumah bersejarah di Rengasdengklok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Kebetulan hari itu saya bertemu dengan istri dari pemilik rumah, yang masih keturunan Djiaw Kie Siong.

Ia dengan semangat menceritakan kisah yang terjadi di rumah yang dibangun tahun 1920 ini.

"Dulu waktu peristiwa 16 Agustus, rumahnya masih belum di sini. Terus karena banjir besar sungai Citarum tahun 1955, akhirnya dipindah ke sini tahun 1957," ujar istri Yanto Djuhari kepada CNNIndonesia.com.

"Lokasi (rumahnya yang) asli sekarang sih udah di tengah-tengah sungai."

Ia tak tahu pasti alasan kenapa rumah Djiaw Kie Siong yang dipilih untuk menjadi tempat persinggahan Soekarno dan Hatta. Namun ia memperkirakan karena lokasi rumah ini tidak mencolok, mengingat pada saat itu keadaan sedang genting.

Mengunjungi Rumah Sejarah RengasdengklokMemorabilia tentang peristiwa Rengasdengklok. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Masuk ke bagian dalam rumah, pengunjung akan disuguhi sebuah meja yang menyerupai altar mini untuk kegiatan peribadatan. Tak hanya itu saja, pada dinding terdapat beragam foto yang dibingkai rapih.

Bahkan dua buah lemari yang tidak terletak di dekat pintu masuk juga menyimpan beberapa memorabilia terkait peristiwa Rengasdengklok atau hari kemerdekaan.

Rumah berbahan utama kayu ini, terlihat masih sangat kokoh walau ada beberapa bagian yang lapuk dimakan usia. Tak hanya itu saja, tempat tidur Bung Karno dan Bung Hatta juga masih tersusun rapi lengkap dengan kelambunya.


"Syukurnya bahan rumah ini bagus, jadi sebagian besar masih asli. Meskipun sudah masuk Cagar Budaya, tapi bantuan untuk merawat bangunan hanya pernah datang sekali, lima tahun yang lalu," kata perempuan yang sudah lebih dari tiga tahun menempati rumah bersejarah ini.

Menurutnya ia dan suaminya masih memegang amanat Djiaw Kie Siong untuk tidak berharap bantuan dalam merawat rumah bersejarah ini.

Baginya selain menjadi rumah untuk keluarga besar, tempat ini adalah bagian bagi seluruh bangsa Indonesia, sehingga merawatnya adalah sebuah kewajiban meski tidak jarang juga ia dan keluarga mengalami masa sulit.

"Dulu waktu (era) orde baru, foto-foto dan semua yang ada unsur Bung Karno sengaja disimpan di loteng. Jadi (rumah) ini kaya rumah biasa aja. Tahun-tahun itu kan ya kamu tahu sendiri, biar aman," ujarnya sembari mengenang salah satu momen dalam menjaga rumah ini.

[Gambas:Video CNN]

(agr/ard)