Orthoreksia, 'Penyakit' Akibat Terobsesi Makanan Sehat

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 11:54 WIB
Orthoreksia, 'Penyakit' Akibat Terobsesi Makanan Sehat Ilustrasi. (Brooke Lark via StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keinginan untuk diet mungkin akan selalu ada. Tapi bila keinginan sudah berubah menjadi obsesi, inilah yang berbahaya.

Melansir Daily Mail, sebuah studi dari University College London 2017 menemukan 49 persen pengguna Instagram memiliki gejala orthoreksia. Orthoreksia adalah obsesi untuk mengonsumsi makanan dan minuman sehat alami.

Orthoreksia diakui oleh beberapa ahli sebagai gangguan kesehatan mental. Kondisi ini ditularkan secara masif lewat dunia digital, terutama media sosial.



Orthoreksia didefinisikan sebagai obsesi seseorang yang hanya mau memakan makanan alami dan organik. Orang dengan gejala ini dicirikan dengan lebih banyak makan buah, sayur, dan daging organik. Menganggap makanan lainnya sebagai asupan yang buruk.

Profesor di University of the Sciences, Philadelphia, Dr Hanganu-Bresch mengatakan, penyakit ini timbul akibat konten 'viral' yang menyebar di media sosial.

"Gambar-gambar makanan sehat, tubuh berotot saat yoga, serta dukungan produk yang mengklaim kaya akan nutrisi menyebar melalui akun Twitter, Facebook dan Instagram. Banyak orang yang tertekan dan ingin mengikutinya," jelasnya.

Tak hanya ingin terlihat sehat, Hanganu mengatakan, mereka juga ingin dinilai sebagai orang kaya karena dianggap mampu membayar jus organik dan menjadi anggota gym.

Orthoreksia masuk sebagai gangguan makan obsesif kompulsif layaknya anoreksia. Keduanya sama-sama bukan penyakit fisik, namun gangguan mental yang akhirnya mengganggu kesehatan fisik.


Orang yang mengalami gangguan makan umumnya sangat rentan mengalami stres dan depresi bila tujuannya tak tercapai. Selain itu, kondisi fisik seperti kekurangan nutrisi akibat hanya memilih jenis makanan tertentu, juga menyebabkan penurunan fungsi tubuh.

Psikolog klinis Jennifer Mills, seorang profesor di York University mengatakan, baik orthoreksia, anoreksia, bulimia, atau gangguan makan lainnya memang belum ditemukan pengobatannya. Melainkan terapi kesadaran bahwa makan seimbang adalah cara terbaik untuk mendapat tubuh yang sehat. (dir/ayk)