Celoteh Wisata

Menjaga 'Heart of Borneo' Tetap Berdetak

CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 15:48 WIB
Menjaga 'Heart of Borneo' Tetap Berdetak Ilustrasi. Warga berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut di desa Pulau Semambu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. (ANTARA FOTO/Ahmad Rizki Prabu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hawa panas sudah terasa dari beberapa ratus meter tempat Irwan berdiri. Napasnya sesak dan matanya perih di tengah kepulan asap yang membumbung tinggi di sekitarnya. Gemericik suara api yang membakar hangus pepohonan rimbun menambah semarak kacaunya kebakaran hutan itu.

Air dari sumur menipis. Pemukiman warga masih jauh. Irwan berharap air dari kubangan-kubangan bakau masih tersisa, setidaknya untuk memadamkan api pada hari ini. Tapi matahari tidak mau berkompromi dengan hujan. Ia terus bersinar dengan terik. Bahkan angin sesekali kencang bertiup.

Di ujung hari, Indonesia diberitakan telah resmi kehilangan setengah dari paru-parunya akibat kebakaran hutan yang ditetapkan sebagai bencana nasional itu.


Sekolah dan perkantoran di Kalimantan dan sekitarnya sampai diliburkan hampir dua bulan. Negara tetangga, Singapura dan Malaysia ikutan batuk akibat asap pekat yang singgah di langit mereka. Media-media internasional mengutuk pemerintah Indonesia yang dianggap lalai mencegah dan menanggulangi hal tersebut.

Irwan Gunawan, yang saat ini menjabat sebagai Direktur WWF-Indonesia (Forest, Fresh Water Kalimantan), masih ingat betul pengalamannya turun ke lokasi kebakaran hutan yang melanda Kalimantan Tengah dan Barat pada tahun 2015.

Belum cukup tinggi tanaman reboisasi yang ditanam tim WWF Indonesia dan masyarakat setempat untuk memulihkan kebakaran hutan tahun 2015, tahun ini Irwan harus kembali berhadapan dengan kasus kebakaran hutan. Namun kacaunya kebakaran hutan tak membuatnya berhenti optimis.

"Saya yakin kebakaran hutan tahun ini bisa padam dengan cepat. Masyarakat sekitar sudah cukup tanggap sejak pertama kali terjadi, sehingga kebakaran tak meluas dengan hebat," kata Irwan saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Kamis (22/8).


Meski dirasa bisa padam lebih cepat, Irwan tetap sedih dengan kebakaran hutan yang rutin terjadi. Perusahaan dan individu yang melakukan eksploitasi hutan dengan cara membakar hutan dianggap sebagai biang keladinya. Dibakar, dipadamkan, lalu direboisasi, begitu terus.

Yang lebih membuat Irwan khawatir, kebakaran selalu mengancam kelestarian taman-taman nasional yang berada di Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, serta Kalimantan Tengah dan Barat. Seperti di Taman Nasional Tesso Nilo dan Taman Nasional Sebangau.

Irwan mencatat, dua taman nasional itu sudah terbakar masing-masing 4.100 hektare dan 1.500 hektare hingga saat CNNIndonesia.com melakukan wawancara dengannya.

Gajah dan orangutan hanya segelintir dari lebih banyak lagi flora dan fauna yang saat ini terancam nyawanya di sana. Belum lagi penduduk setempat yang tinggal tak jauh dari taman nasional. Turis dan peneliti sudah pasti tak bisa datang.

"Kebakaran di TN Sebangau lebih sulit dipadamkan karena lahannya berupa gambut, yang kering saat musim kemarau seperti saat ini. Sementara TN Tesso Nilo lumayan dekat dengan pemukiman warga," ujar Irwan mengutarakan kekhawatirannya.

Irwan berharap agar area hutan hujan 'Heart of Borneo' tak ikut hangus akibat kebakaran hutan tahun ini.

'Heart of Borneo' merupakan area hutan di Kalimantan yang berbatasan dengan Brunei Darussalam dan Malaysia (Sabah dan Sarawak).

Di Malaysia, kawasan yang masuk dalam rangkaian 'Heart of Borneo' adalah TN Batang Ai, Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary, TN Gunung Mulu, TN Crocker Range, TN Kinabalu.

Lalu di Indonesia adalah TN Kayan Mentarang, TN Betung Kerihun, TN Bukit Baka Bukit Raya, TN Danau Sentarum.

Sementara di Brunei adalah TN Ulu Temburong.

Area seluas 22 hektare ini yang menyumbang 1 persen lahan hijau di dunia yang menjadi sumber udara bersih bumi. Sebanyak 6 persen kekayaan flora dan fauna dunia juga berasal dari situ, seperti Orangutan Kalimantan, badak, gajah, sampai Bunga Rafflesia.

Meski belum terdampak kebakaran hutan, tapi sejak tiga dekade terakhir 'Heart of Borneo' sudah rusak akibat eksploitasi hutan yang semena-mena. Padahal area ini juga sama pentingnya dengan hutan hujan Amazon di Brasil - yang saat ini juga sedang terbakar parah.


Penanganan kebakaran hutan di Indonesia masih dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, ditambah kelompok seperti WWF Indonesia. Irwan mengatakan belum ada bantuan dari pemerintah atau kelompok dari luar negeri, sementara peralatan yang kita miliki saat ini bisa terbilang minim.

Tapi minimnya peralatan tak jadi kecemasan bagi Irwan dan timnya. Pasalnya mereka yakin edukasi dan pelatihan yang selama ini disebarkan ke masyarakat bisa lebih dulu diandalkan daripada menunggu bantuan asing.

"Selama ini WWF Indonesia selalu melakukan penyuluhan mengenai betapa berharganya hutan sehingga jangan dibakar untuk diolah dan pelatihan kepada masyarakat untuk bisa membantu memadamkan kebakaran hutan," kata Irwan.

"Melalui dua kegiatan tersebut mereka bisa mengerti kenapa hutan harus dijaga, terutama untuk kestabilan ekonomi mereka dan keselamatan keluarganya," lanjutnya.

Irwan mengestimasi kebakaran hutan yang saat ini sedang melanda Indonesia bakal berakhir sekitar awal November. Itu pun jika tim pemadam berhasil menjangkau sang kepala api, sumber api terbesar yang melumat hutan dan isinya.

"Sejauh ini area reboisasi aman. Fauna juga belum ada yang dilaporkan jadi korban, karena pemadaman di sana bisa dilakukan dengan cepat. Sekarang saya hanya bisa berharap kebakaran hutan tak menjalar lebih jauh dan mendekati pemukiman warga," katanya.


[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)