Mendekati Imlek, Hotel di Singkawang Nyaris Penuh

ANTARA, CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 11:05 WIB
Mendekati Imlek, Hotel di Singkawang Nyaris Penuh Ilustrasi perayaan Cap Go Meh. (Foto: Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh, yang notabene masih tiga pekan lagi, hotel-hotel di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat, sudah nyaris penuh dipesan.

Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang, Supardiyana, mengatakan dari 37 buah hotel yang ada di Kota Singkawang, saat ini pemesanan kamar sudah mencapai 80 persen.

"Diprediksikan, mendekati perayaan itu, semua hotel yang ada di Kota Singkawang tidak bakal mampu menampung lonjakan pengunjung yang ingin menginap," kata Supardiyana seperti yang dikutip dari Antara, Rabu (16/1).


Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung di Kota Singkawang, pihaknya juga saat ini sedang melakukan pendataan rumah-rumah kos maupun penduduk yang kiranya mau dijadikan Homestay.

Ia juga mengimbau agar masyarakat Kota Singkawang, khususnya yang punya rumah dan masih memiliki kamar yang kosong, bersedia dijadikan Homestay.

"Mengenai tarif yang diberlakukan hendaknya disesuaikan dengan keadaan fasilitas yang ada," pintanya.

Seentara itu Ketua PHRI Kota Singkawang, Mulyadi Qamal mengimbau agar pengelola hotel tidak menaikkan semaunya sampai melebihi 100 persen.

Menurutnya kenaikan tarif hotel dari dari hari lain bisa mencapai dua kali lipat, dan itu masih dalam batas wajar.

Kota Singkawang merupakan salah satu pecinan di Indonesia karena mayoritas penduduknya adalah orang Hakka, dengan persentase lebih dari 40 persen. Sementara sisanya adalah camuran dari suku Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya.

Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari negeri China.

Namun melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Meski secara fisik maupun budaya ada yang berasimilasi dengan penduduk lokal, mereka juga tetap mempertahankan adat istiadat leluhur yang dipertahankan hingga kini.

Karena pada umumnya mereka penganut Kong Hu Cu dan Buddha maka perayaan imlek menjadi tradisi istimewa yang senantiasa mereka rayakan.

Seperti halnya bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia lainnya, perayaan Imlek untuk menyambut tahun baru China merupakan tradisi termegah yang selalu dirayakan seluruh lapisan masyarakat Singkawang setiap tahun.

Selepas era orde baru, perayaan Cap Go Meh digiatkan untuk menarik turis dalam negeri dan mancanegara. Selain mengangkat nama Singkawang di dunia internasional, acara ini juga ikut meningkatkan perekonomian daerah setempat. (agr)