'Digerayangi' India, Kashmir Berharap Tak Dilupakan Turis

CNN Indonesia | Senin, 26/08/2019 19:30 WIB
'Digerayangi' India, Kashmir Berharap Tak Dilupakan Turis Danau Dal di Kashmir. (Istockphoto/guenterguni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di Danau Dal di Srinagar, kawasan yang dipenuhi perahu hias wisata terlihat kosong ketika sektor pariwisata Kashmir terdampak pencabutan otonomi yang diberlakukan India selama tiga minggu.

Dengan pemandangannya yang menakjubkan, gunung-gunung yang tertutup salju dan danau-danau yang tenang, Kashmir yang berhawa sejuk adalah destinasi populer bagi gerombolan wisatawan domestik dan internasional selama musim panas nan terik di India.

Tetapi pihak berwenang pada awal Agustus meminta para turis untuk pergi "secepatnya" karena adanya "ancaman teror", memicu eksodus massal hanya beberapa hari sebelum keputusan kontroversial India untuk membawa daerah yang dilanda kekerasan di bawah pemerintahan langsungnya.



"Mereka mendatangi setiap rumah perahu, hotel dan jalanan untuk memaksa setiap turis keluar dari Kashmir," kata pemilik Shikara Yaqoob kepada AFP seperti yang dikutip pada Senin (26/8).

"Bahkan sekarang mereka berkeliling hotel untuk memeriksa apakah ada turis yang tertinggal."

Jalan-jalan ramai yang biasanya ramai oleh penduduk dan turis sekarang sepi. Sebagai gantinya adalah gulungan kawat berduri, pos pemeriksaan keamanan dan puluhan ribu pasukan militer tambahan yang dikirim India ke wilayah Himalaya untuk memperkuat setengah juta anggota militer yang telah bertugas di sana.

Pihak berwenang memutus semua komunikasi - termasuk internet dan saluran telepon - membuat kontak dengan dunia luar sangat sulit di Kashmir.

"Ini bukan yang kami harapkan," kata pasangan Taiwan, satu-satunya turis yang ditemukan AFP di Srinagar, seraya menambahkan bahwa mereka telah merencanakan perjalanan mereka sejak setahun yang lalu.

"Saat ini tidak banyak orang dapat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa teknologi modern, tanpa internet ... Itu agak sulit bagi orang-orang, terutama wisatawan.

"Kami cemas dengan situasi ini."

Swiss dari Timur

Kashmir, terpecah pada akhir kekuasaan kolonial Inggris pada tahun 1947 antara India dan Pakistan, adalah destinasi wisata dunia yang populer sampai pemberontakan bersenjata melawan pemerintah India meletus pada tahun 1989.

Konflik, yang telah merenggut puluhan ribu nyawa sebagian besar warga sipil, telah menantang upaya untuk mempromosikan pariwisata di kawasan yang disebut "Swiss of the East (Swiss dari Timur)" ini.

Jumlah kedatangan wisatawan telah menurun drastis selama bertahun-tahun seiring dengan ramainya aksi pemberontakan yang terjadi.

Di Kashmir, jumlah wisatawan turun dari lebih dari 1,3 juta pada 2012 menjadi 850 ribu pada 2018, menurut angka pemerintah.

Tetapi lebih dari setengah juta orang mengunjungi kawasan lembah itu dalam tujuh bulan pertama tahun ini, dengan lebih dari 150 ribu pelancong solo tiba bulan lalu, menurut data resmi.

Selain itu, sekitar 34 ribu turis Hindu mengunjungi lembah itu pada bulan Juli sebelum ziarah mereka dibatalkan karena klaim teror.

Beberapa hari kemudian, lembah menjadi sunyi. Hanya 150 turis mancanegara telah mengunjungi Kashmir sejak 5 Agustus ketika India mencabut otonomi di sana. Banyak turis yang melakukan pembatalan atas hal tersebut.



Menurunnya jumlah turis membuat industri pariwisata di sana lesu, yang diperkirakan mengantungi US$500 juta per tahun dan membuka lahan pekerjaan bagi 100 ribu orang.

Banyak orang lain mencari nafkah dari sektor terkait termasuk kerajinan tangan, hortikultura, dan transportasi.

Pemerintah India mengklaim bakal memperbaiki perekonomian Kashmir di bawah kepemimpinannya.

Namun warga setempat skeptis, menunjuk pada klaim "ancaman teror" yang membuat turis malah kocar-kacir dari Kashmir.

"Itu bohong. Tidak ada teror. Mereka ingin mencabut otonomi dan menggunakan teror agar turis keluar dari Kashmir," kata pemilik rumah perahu Basheer, yang hanya menggunakan nama depannya, kepada AFP.

Ini bukan pertama kalinya sektor pariwisata di Kashmir mengalami gangguan besar. Sebelumnya sempat terjadi pada tahun 2008, 2010 dan 2016 ketika protes dalam skala besar pecah.

Krisis tanpa akhir ini membuat warga setempat khawatir Kashmir bakal dilupakan turis di masa depan.

Beberapa negara telah mengeluarkan peringatan perjalanan ke Kashmir dan operator wisata khawatir ribuan lahan pekerjaan akan hilang, melemahkan ekonomi dan semakin memperburuk ketegangan.

"Ketika bisnis Anda turun dan hak-hak dasar Anda diambil, Anda tidak bisa mengharapkan kami tetap waras," kata pemilik toko kerajinan tangan Sameer Wani kepada AFP.

"Jika itu terus terjadi, akan datang masa 'hidup atau mati' di sini."


[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)